Peneliti IPB University Ungkap Fenomena Kuantum Baru, Geometri Celah Bisa Kendalikan Ketidakpastian

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:27 WIB
Ilustrasi kuantum. Foto: Historical meaning
Ilustrasi kuantum. Foto: Historical meaning

RADAR BOGOR – Tim peneliti Divisi Fisika Teori, Departemen Fisika IPB University mengungkap temuan baru terkait perilaku sistem kuantum melalui eksperimen celah ganda.

Penelitian IPB University tersebut menunjukkan bahwa perubahan bentuk geometri pada perangkat eksperimen dapat memengaruhi tingkat ketidakpastian dalam sistem kuantum.

Temuan IPB University ini membuka peluang baru dalam pengembangan penelitian mengenai koherensi kuantum dan berbagai teknologi berbasis mekanika kuantum.

Baca Juga: Surat Kemensos Terbit: Info Kuota Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 bagi KPM

Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Physica Scripta dengan DOI 10.1088/1402-4896/ae8e53.

Riset ini dipimpin Guru Besar Fisika Teori IPB University Prof. Husin Alatas bersama Fauzani Muhammad, Hendradi Hardhienata, dan Faozan Ahmad.

Berbeda dari eksperimen celah ganda pada umumnya yang menggunakan dua celah dengan ukuran sama, tim peneliti IPB menggunakan celah ganda asimetris, yakni dua celah dengan lebar yang sengaja dibuat berbeda.

Menurut Prof Husin, perubahan sederhana pada ukuran dan jarak antarcelah ternyata dapat menghasilkan perilaku kuantum yang berbeda.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Jerman, Hampir 10 Ribu Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

"Kami menemukan bahwa perubahan sederhana pada lebar dan jarak antarcelah ternyata dapat mengubah tingkat ketidakpastian kuantum. Dengan kata lain, geometri perangkat dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk mengendalikan keadaan kuantum," jelas Prof Husin.

Temuan tersebut menjadi menarik karena selama ini geometri perangkat eksperimen lebih banyak dianggap sebagai bagian dari desain alat. Hasil penelitian ini justru menunjukkan bahwa bentuk dan konfigurasi perangkat dapat ikut memengaruhi sifat dasar sistem kuantum.

Perluas Pemahaman Prinsip Ketidakpastian

Penelitian tersebut menggunakan model statistik mekanika kuantum yang dikembangkan oleh fisikawan Indonesia Agung Budiyono bersama Daniel Rohrlich.

Baca Juga: Ayam Goreng Mas Wowo Viral! Sajikan Makanan Berkonsep Omprengan Ala MBG

Hasilnya turut memperluas pemahaman terhadap prinsip ketidakpastian Heisenberg, salah satu konsep fundamental yang menjadi dasar mekanika kuantum selama hampir satu abad.

Menurut Prof Husin, kemampuan mengatur tingkat koherensi kuantum menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan teknologi kuantum generasi terbaru.

Koherensi kuantum berperan dalam berbagai bidang, termasuk penginderaan berpresisi tinggi hingga komunikasi kuantum yang dirancang untuk memiliki tingkat keamanan tinggi.

Selama ini, pengendalian koherensi kuantum umumnya membutuhkan perangkat dan metode yang cukup kompleks. Penelitian IPB menunjukkan bahwa geometri perangkat berpotensi menjadi salah satu alternatif yang lebih sederhana untuk membantu mengatur perilaku sistem kuantum.

Baca Juga: Bekuk Chelsea 1-0, Spalletti Ungkap 3 Hal Positif dari Permainan Juventus

Temuan tersebut juga berpotensi mendukung penelitian lanjutan, seperti eksperimen which-way berpresisi tinggi, protokol pengukuran lemah, hingga tomografi kuantum.

Masih Teori, Menunggu Pembuktian Eksperimen

Meski menjanjikan, Prof Husin menegaskan bahwa temuan tersebut masih berada pada tahap teoritis sehingga perlu diuji melalui eksperimen secara langsung.

"Temuan ini masih berada pada tahap teori sehingga perlu dibuktikan melalui eksperimen. Namun, banyak teknologi besar lahir dari riset fundamental seperti ini. Transistor, laser, hingga magnetic resonance imaging (MRI) juga berawal dari pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep fisika," ujarnya.

Baca Juga: Hujan Ekstrem Terjang Tiongkok, Banjir Bandang Tenggelamkan Mobil dan Kepung Kota Shiyan

Menurutnya, penelitian fundamental memiliki posisi penting dalam membangun kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Penguatan riset dasar dinilai dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi kuantum, tetapi juga ikut mengembangkan teknologi tersebut di masa mendatang.

Temuan tim peneliti IPB University ini sekaligus menjadi gambaran bahwa riset fundamental di Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan pengetahuan baru di bidang fisika kuantum.

Baca Juga: Resep Nasi Telur Hongkong, Egg Chiffon Rice yang Lembut dan Gurih

Dari Bogor, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak selalu membutuhkan teknologi yang sudah ada, tetapi dapat dimulai dari keberanian menguji kembali konsep dasar dan menemukan kemungkinan baru di dalamnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
kuantum geometri ipb university