Dosen Unida Bogor Bicara Masa Depan ASEAN di Filipina, Soroti Peran Gen Z dan Gen Alpha

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:44 WIB
ASEAN Awareness Month Celebration 2026 yang digelar National University, Manila, Filipina, Jumat, 7 Agustus 2026. Foto: Unida for Radar Bogor
ASEAN Awareness Month Celebration 2026 yang digelar National University, Manila, Filipina, Jumat, 7 Agustus 2026. Foto: Unida for Radar Bogor

RADAR BOGOR – Kiprah akademisi Universitas Djuanda (Unida) Bogor kembali menembus forum internasional. Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, S.Ag., M.Ed., M.H., M.C.E dipercaya menjadi Resource Speaker dalam ASEAN Awareness Month Celebration 2026 yang digelar National University, Manila, Filipina, Jumat, 7 Agustus 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Navigating Our Future, Together” tersebut diselenggarakan oleh Institute of General Education-Social Sciences and Philosophy Department, National University Filipina. Agenda berlangsung secara daring melalui Microsoft Teams dan diikuti sivitas akademika universitas tersebut.

Keterlibatan dosen Unida Bogor dalam forum ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kapasitas akademik perguruan tinggi Indonesia di tingkat regional.

Baca Juga: Hampir 20 Juta KPM Terima PKH BPNT Tahap 3, Bansos Beras 30 Kg Menyusul 17 Agustus 2026

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat upaya Unida dalam membangun jejaring serta kolaborasi akademik di kawasan ASEAN.

Dalam pemaparannya, Radif membahas berbagai tantangan dan peluang ASEAN di tengah pesatnya transformasi digital, perkembangan teknologi, serta perubahan demografi. Ia menilai kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menentukan arah masa depan ASEAN.

Menurutnya, generasi masa depan perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta mampu membangun kerja sama lintas negara.

Gen Z dan Gen Alpha Jadi Kunci Masa Depan ASEAN

Baca Juga: Pemkot Bogor Gandeng IKIGAI Fitness, Atlet Kini Dapat Fasilitas Gym dan Recovery Modern

Radif menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh dan membangun pengetahuan. Saat ini, pengetahuan tidak lagi hanya berasal dari satu sumber, tetapi terbentuk melalui interaksi manusia, jaringan digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Namun, perkembangan teknologi yang begitu cepat juga menciptakan tantangan bagi institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Kemampuan beradaptasi dinilai harus terus ditingkatkan agar perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat yang optimal.

Ia secara khusus menyoroti peran Generasi Z dan Generasi Alpha yang diproyeksikan menjadi aktor penting dalam membentuk masa depan ASEAN.

Baca Juga: Progres PKH dan BPNT Tahap 3 Hari Ini: Kedua Bansos Masuk Fase SI

Generasi Z disebut memiliki peran sebagai epistemic bridge atau jembatan pengetahuan yang menghubungkan pola pikir generasi sebelumnya dengan era digital. Sementara Generasi Alpha merupakan generasi yang sejak lahir telah akrab dengan teknologi sehingga memiliki karakter dan pola belajar yang berbeda.

“Sistem pendidikan perlu bertransformasi dari pembelajaran yang berorientasi pada hafalan menuju pendidikan yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, evaluasi dan sintesis informasi, serta pembentukan karakter yang relevan dengan perkembangan zaman,” tegas Radif.

Kampus Diminta Jadi Motor Transformasi

Baca Juga: Update Terbaru Penerima Bansos PKH Tahap 3 dan Status BPNT Rp600 Ribu

Selain generasi muda, Radif juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pusat transformasi di kawasan ASEAN.

Perguruan tinggi dinilai perlu memperkuat kepemimpinan, meningkatkan kesiapan menghadapi perkembangan AI, memperluas riset kolaboratif, serta merespons isu-isu strategis seperti energi dan kesehatan masyarakat.

Pengembangan inovasi teknologi juga menjadi bagian penting agar institusi pendidikan tinggi mampu menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat.

Radif menambahkan, pembangunan masyarakat digital ASEAN membutuhkan sedikitnya empat kompetensi utama, yakni literasi digital kritis, ketahanan mental di ruang digital, penguatan tata kelola digital, serta kemampuan advokasi dan inovasi.

Baca Juga: Nikita Willy Bagikan Momen Membaca Bersama Issa dan Nael, Warganet Beri Apresiasi

Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan Digital Masterplan ASEAN 2025 yang menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi penting dalam transformasi digital kawasan.

Menurutnya, transformasi tersebut perlu berjalan beriringan dengan perlindungan digital, pembangunan ekosistem teknologi yang terpercaya, serta peningkatan kapasitas teknologi negara-negara anggota ASEAN.

Menutup pemaparannya, Radif menegaskan bahwa masa depan ASEAN tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Kolaborasi menjadi kunci, baik antar-generasi, lintas disiplin ilmu, budaya, maupun negara.

Forum internasional tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Unida Bogor untuk terus memperluas kontribusi akademiknya di kawasan ASEAN serta mendorong lahirnya gagasan yang relevan dengan tantangan masa depan.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
bogor UNIDA genAI gen alpha