RADAR BOGOR – Inovasi budidaya perikanan dan pertanian terintegrasi diperkenalkan Universitas Djuanda (Unida) Bogor kepada masyarakat Desa Tenjolaya, Kabupaten Sukabumi. Salah satunya dengan teknologi PolidroMina.
Melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PKM-PDB) 2026, masyarakat dikenalkan oleh Unida Bogor dengan teknologi PolidroMina yang memungkinkan ikan, udang, dan tanaman hidroponik dibudidayakan dalam satu sistem.
Kegiatan yang berlangsung pada awal Juli 2026 tersebut dilaksanakan dosen Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian Unida Bogor.
Baca Juga: Viral Dugaan Warga Dipaksa Pasang Bendera di Rancabungur, Pemkab Bogor Turun Tangan
Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai bagian dari upaya menerapkan inovasi sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya desa.
Tim kegiatan dipimpin Dr. Eko Rini Farastuti, M.Si., bersama Mulyana, M.Si., Fia Sri Mumpuni, M.P., dan Asep Rachmat Pratama, M.Si. Sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur juga terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Program tersebut mendapat dukungan dari masyarakat, termasuk Pokdakan Berkah Ikan Sejuk dan Karang Taruna Bersinar, serta Pemerintah Desa Tenjolaya.
Gabungkan Ikan, Udang, dan Hidroponik
Baca Juga: Cek Bansos Hari Ini 12 Agustus 2026: KKS BRI, Mandiri, dan BSI Segera Menyusul Ramai Pencairan PKH
PolidroMina menawarkan konsep budidaya multitrofik dengan menggabungkan beberapa komoditas dalam satu sistem yang saling mendukung.
Dalam sistem tersebut, ikan nila dan udang menjadi komoditas utama perikanan, sementara tanaman hidroponik memanfaatkan air dan nutrien dari kolam budidaya.
Air kolam yang mengandung nutrien dari metabolisme ikan, udang, serta sisa pakan dapat dikelola untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, tanaman membantu menyerap sebagian nutrien sehingga penggunaan air dan sumber daya dapat menjadi lebih efisien.
“Yang ingin kami kenalkan kepada masyarakat adalah cara berpikir bahwa kegiatan budidaya tidak harus menghasilkan satu komoditas saja. Dengan sistem yang terintegrasi, ikan, udang, dan tanaman dapat dikembangkan secara bersama-sama sehingga sumber daya yang ada bisa dimanfaatkan lebih optimal,” ujar Dr. Eko Rini Farastuti.
Baca Juga: 50 Pemuda Desa Dilatih Mengembangkan Smart Agribusiness Ecosystem Berbasis Teknologi
Menurut Eko, PolidroMina tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Sistem tersebut juga menjadi sarana pembelajaran mengenai efisiensi pemanfaatan sumber daya serta pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Warga Belajar Kelola Kualitas Air
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pembekalan mengenai pemeliharaan ikan nila dan udang, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga dasar-dasar budidaya tanaman hidroponik.
Tim juga menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara jumlah ikan dan udang, pemberian pakan, kondisi air, serta kebutuhan tanaman. Setiap komponen memiliki karakteristik berbeda sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara tepat.
Baca Juga: Punya Hak Dapat Bansos? Cek Nama Penerima 2026 dan Ketahui Syaratnya di Sini
“Teknologi tidak cukup hanya diperkenalkan. Masyarakat harus memahami bagaimana sistem itu bekerja dan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi di lapangan. Karena itu, kegiatan ini kami arahkan sebagai proses belajar bersama dengan masyarakat dan mitra desa,” kata Eko.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak sekadar mengenal bentuk teknologi, tetapi juga mampu memahami prinsip pengelolaannya dan melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi serta kemampuan masing-masing.
Satu Sistem Bisa Hasilkan Banyak Produk
PolidroMina menawarkan peluang diversifikasi hasil budidaya. Dalam satu sistem, masyarakat dapat menghasilkan ikan nila, udang, sekaligus sayuran hidroponik.
Baca Juga: Resep Nasi Capcay Goreng, Comfort Food Simpel yang Lezatnya Bisa Saingan Restoran
Ikan nila dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan maupun komoditas bernilai ekonomi. Udang berpotensi memberikan tambahan pendapatan, sedangkan sayuran hidroponik dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga ataupun dijual.
Pengembangan sistem juga dapat disesuaikan dengan luas lahan dan kemampuan masyarakat. Jika dikelola dengan baik, konsep tersebut berpotensi menjadi alternatif kegiatan produktif sekaligus mendukung ketahanan pangan desa.
Bagi Desa Tenjolaya, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari diversifikasi ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Libatkan Masyarakat hingga Mahasiswa
Baca Juga: Polres Bogor Raih Juara 2 Ketahanan Pangan Polri, Inovasi Limbah Jadi Andalan
Perwakilan mitra masyarakat, Romli, turut mengikuti proses pengenalan PolidroMina bersama warga. Keterlibatan masyarakat dan mitra dinilai penting agar teknologi yang diperkenalkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan.
Dukungan Pemerintah Desa Tenjolaya juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program. Harapannya, inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pelatihan atau demonstrasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa UNIDA turut memberikan pengalaman belajar langsung. Selain mempraktikkan pengetahuan teknis budidaya, mahasiswa juga belajar berinteraksi dengan masyarakat, melakukan pendampingan, serta memahami berbagai persoalan yang dihadapi pembudidaya di lapangan.
Bagi tim UNIDA, pengenalan PolidroMina merupakan langkah awal untuk membangun model budidaya perikanan dan pertanian terintegrasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Pencairan Bansos PKH Tahap 3 Mulai Masuk Pada Sebagian KPM, Begini Cara Memeriksanya
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Dengan pendampingan dan kolaborasi yang baik, masyarakat dapat mengembangkan PolidroMina sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Tujuan akhirnya adalah bagaimana inovasi ini bisa memberikan manfaat nyata, baik untuk produksi pangan maupun peningkatan ekonomi masyarakat,” tutur Eko.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, mitra masyarakat, dan mahasiswa, PolidroMina diharapkan menjadi alternatif pengembangan budidaya perikanan dan pertanian terintegrasi di Desa Tenjolaya.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, menciptakan usaha produktif, serta mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pendekatan PolidroMina, satu kolam tidak lagi hanya menghasilkan ikan. Jika dikelola secara terintegrasi, sistem tersebut dapat menghasilkan ikan, udang, dan sayuran dalam satu rangkaian budidaya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga