Tak hanya memiliki nilai sebagai buah lokal dan flora identitas, kemang juga menyimpan potensi bioaktif yang mulai menarik perhatian peneliti.
Oleh: Nia Yuliani
RADAR BOGOR – Bagi masyarakat Bogor, kemang (Mangifera caesia jack sinonim mangifera kemanga Blume) bukan sekadar tanaman penghasil buah. Buah dengan aroma khas dan cita rasa yang unik ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bogor.
Bahkan, kemang telah ditetapkan sebagai flora identitas Kabupaten Bogor melalui Keputusan Bupati Nomor 522/185/Kpts/1996. Kemang termasuk famili Anacardiaceae dan memiliki persebaran alami di sejumlah wilayah Indonesia, antara lain Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
Di Jawa Barat, keberadaan kemang sangat erat dengan identitas Kabupaten Bogor. Namun, keberadaan pohon kemang kini semakin jarang ditemukan sehingga keberlanjutan dan pelestariannya perlu mendapat perhatian.
Baca Juga: Kisah Sukardi, Puluhan Tahun Jadi Sopir Angkot Kini Terdampak Penertiban hingga Ikut Padat Karya
Selama ini, kemang lebih dikenal karena buahnya. Buah kemang dapat dikonsumsi secara langsung maupun dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Masyarakat Sunda mengenal pucuk kemang sebagai salah satu bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, yaitu sebagai lalapan.
Pengetahuan mengenai pemanfaatan tersebut merupakan bagian dari kekayaan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, potensi kemang ternyata tidak berhenti pada buahnya.
Potensi di Balik Daun
Seperti tumbuhan lainnya, kemang menghasilkan berbagai metabolit sekunder. Senyawa tersebut merupakan hasil metabolisme tumbuhan yang memiliki beragam fungsi, termasuk membantu tumbuhan menghadapi tekanan lingkungan.
Kelompok senyawa fenolik dan flavonoid menjadi salah satu kelompok metabolit sekunder yang banyak diteliti karena memiliki berbagai aktivitas biologis, salah satunya adalah aktivitas antioksidan.
Antioksidan berperan dalam menstabilkan radikal bebas melalui mekanisme donor elektron atau atom hidrogen. Radikal bebas sendiri merupakan molekul yang sangat reaktif.
Dalam jumlah berlebihan, radikal bebas dapat menyebabkan stres oksidatif yang berpotensi merusak berbagai komponen sel, seperti lipid, protein, dan DNA.
Karena itu, pencarian sumber antioksidan alami dari tumbuhan terus dilakukan. Daun kemang menjadi salah satu bagian tanaman yang menarik untuk dikaji.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan adanya kandungan senyawa fenolik dan flavonoid pada daun Mangifera caesia serta aktivitas penangkapan radikal bebas dalam pengujian laboratorium.
Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizka Aulia Hidayat, Nia Yuliani, dan Mamay Maslahat dari Universitas Nusa Bangsa Bogor.
Penelitian tersebut mengkaji kandungan flavonoid dan fenolik, serta aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun kemang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kemang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid serta menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat pada pengujian DPPH.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa bagian tanaman kemang yang selama ini relatif kurang dimanfaatkan masih memiliki potensi untuk dikaji lebih lanjut.
Bukan Berarti Langsung Menjadi Obat
Potensi antioksidan yang ditunjukkan melalui pengujian laboratorium perlu dipahami secara proporsional. Hasil uji in vitro tidak serta-merta berarti daun kemang dapat langsung digunakan sebagai obat atau suplemen kesehatan.
Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui senyawa aktif yang berperan, mekanisme kerjanya, keamanan dan toksisitasnya, serta kemungkinan pemanfaatannya dalam berbagai bidang.
Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi budidaya, lokasi tumbuh, metode ekstraksi, dan faktor lainnya memengaruhi kandungan senyawa bioaktif kemang.
Karena itu, penelitian terhadap kemang tidak hanya penting dari sisi pemanfaatan, tetapi juga dari aspek konservasi. Semakin banyak informasi ilmiah mengenai potensi tanaman lokal, semakin besar pula peluang masyarakat untuk memahami nilai penting tanaman tersebut.
Menjaga Identitas Hayati Bogor
Kemang merupakan contoh bahwa tanaman lokal memiliki banyak dimensi nilai. Buahnya memiliki nilai pangan, keberadaannya memiliki nilai ekologis, pemanfaatannya berkaitan dengan pengetahuan masyarakat, sementara kandungan senyawanya membuka peluang penelitian ilmiah.
Pelestarian kemang tidak cukup hanya dengan mempertahankan pohonnya. Upaya konservasi perlu disertai dengan penanaman kembali, dokumentasi pengetahuan lokal, edukasi kepada generasi muda, serta penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan.
Perguruan tinggi dapat berperan melalui penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat upaya pelestarian serta pemanfaatan kemang secara bijaksana.
Pada akhirnya kemang bukan hanya nama buah atau tanaman yang menjadi flora identitas Kabupaten Bogor. Kemang adalah bagian dari kekayaan hayati dan identitas daerah yang perlu dikenali, dijaga, dan dikembangkan secara bertanggung jawab.
Menjaga kemang berarti bukan hanya mempertahankan satu jenis tanaman, tetapi juga menjaga bagian dari kekayaan alam, pengetahuan lokal, dan identitas Kabupaten Bogor untuk generasi mendatang.
Penulis:
Nia Yuliani
Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Nusa Bangsa
Editor : Eka Rahmawati