Latihan Hitungan Hari, Pramuka SDN Sukadamai 3 Bogor Sukses Bikin Pertunjukan Kolosal Kemerdekaan

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 23:12 WIB
Pramuka SDN Sukadamai 3 Kota Bogor sukses menampilkan pertunjukan kolosal. (Dok. SDN Sukadamai 3)
Pramuka SDN Sukadamai 3 Kota Bogor sukses menampilkan pertunjukan kolosal. (Dok. SDN Sukadamai 3)

RADAR BOGOR - Pramuka SDN Sukadamai 3 Kota Bogor sukses menampilkan pertunjukan kolosal. Mengangkat tema perjuangan kemerdekaan, mereka tampil setelah upacara HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026.

Pertunjukan yang melibatkan 35 siswa itu hanya dipersiapkan dalam waktu sekitar empat hari. Meski waktu latihan terbatas, para siswa mampu menampilkan rangkaian cerita perjuangan kemerdekaan secara utuh.

Pembina Pramuka SDN Sukadamai 3, Yulianti, mengatakan pertunjukan tersebut berawal dari keinginannya memberikan sesuatu yang berbeda dalam perayaan HUT Kemerdekaan.

Menurutnya, peringatan 17 Agustus dari tahun ke tahun kerap hanya diisi dengan upacara dan ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Karena itu, ia ingin memberikan ruang kepada anggota Pramuka untuk mengaktualisasikan diri melalui pertunjukan.

“Tampil seperti ini membuat anak-anak Pramuka membuktikan bahwa mereka memiliki rasa percaya diri dan selalu siap saat ditugaskan,” kata Yulianti.

Ia mengatakan konsep tersebut juga berkaitan dengan nilai yang diajarkan dalam Pramuka. Tak hanya sekadar bernyanyi atau bermain di lapangan, bakat dan potensi siswa juga perlu ditampilkan.

Yulianti bercerita, persiapan pertunjukan dilakukan dalam waktu singkat. Mereka memulainya dengan penyampaian rencana pertunjukan kepada siswa pada Selasa.

Para siswa kemudian dikumpulkan dan mulai berlatih sejak Rabu hingga Sabtu. Bahkan, waktu latihan harus diselipkan di sela aktivitas sekolah.

“Bahkan, kita curi-curi waktu latihan saat jam makan,” katanya.

Menurut Yulianti, singkatnya waktu latihan tidak membuat siswa kehilangan semangat. Sebaliknya, siswa merasa mendapat kepercayaan ketika diberi peran dalam pertunjukan.

Ia juga sengaja merangkul siswa dengan karakter yang berbeda, termasuk anak yang pemalu dan pendiam.

“Ketika mereka ditunjuk, ada rasa tanggung jawab yang besar. Mereka merasa dihargai. Mereka bilang, ‘Aku tidak ikut ekskul ini, kok ternyata Bu Guru sangat mengapresiasi kita,’” ungkapnya.

Pertunjukan tersebut melibatkan 35 siswa. Mereka membawakan cerita yang dimulai dari kehidupan masyarakat Sunda sebelum masa penjajahan.

Adegan pembuka menggambarkan masyarakat yang menjalani aktivitas sehari-hari. Anak-anak bermain permainan tradisional seperti congklak dan lompat karet. Sementara lainnya digambarkan berjalan membawa bakul menuju pasar.

Suasana berubah ketika pasukan Belanda datang. Masyarakat yang semula menjalani aktivitas dengan tenang kemudian dikejutkan oleh kedatangan penjajah.

Adegan tersebut menggambarkan ancaman terhadap warga hingga terjadi kekacauan. Salah satu bagian pertunjukan juga menampilkan adegan warga yang tertembak.

Cerita kemudian berlanjut pada perjuangan merebut bendera. Salah satu warga digambarkan tumbang dalam perjuangan. Rekannya kemudian melanjutkan perjuangan hingga akhirnya bendera berhasil dikibarkan.

Setelah itu, tokoh Soekarno dan Mohammad Hatta tampil di podium untuk membacakan teks Proklamasi.

Pertunjukan ditutup dengan tarian bersama sebagai simbol kebahagiaan setelah kemerdekaan. Yulianti mengatakan para siswa dapat menghafalkan gerakan tari dalam waktu singkat.

“Anak-anak langsung hafal tariannya, dan suasana semakin meriah karena diakhiri dengan ledakan party popper,” ujarnya.

Penampilan tersebut juga mendapat sambutan dari orang tua siswa. Yulianti menyebut para orang tua sangat antusias melihat anak-anak mereka tampil dalam pertunjukan kolosal.

Untuk pemeran utama, termasuk tokoh Soekarno, Yulianti tidak memilih siswa secara sembarangan. Ia menunjuk siswa bernama Tio yang sudah lama mengikuti kegiatan Pramuka.

Menurutnya, Tio memiliki karakter yang sesuai untuk memerankan tokoh tersebut. Ia dikenal tidak banyak bicara, memiliki daya tahan yang baik, serta mempunyai rasa tanggung jawab tinggi.

“Untuk pemilihan pemeran utama seperti Proklamator, Soekarno, saya menunjuk Tio. Anaknya tidak banyak bicara, daya tahannya bagus, dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi,” kata Yulianti.

Ia juga menilai Tio selalu menunjukkan kesiapan ketika mendapat tugas.

“Setiap ditunjuk, dia selalu sigap menjawab, ‘Siap, Bu!’ Makanya, saya merasa dia sangat kompeten untuk menjadi pemimpin,” lanjutnya.

Yulianti mengatakan pertunjukan tersebut memang sengaja dibuat sederhana dan singkat. Ia ingin pertunjukan tetap menarik sekaligus menyampaikan pesan perjuangan tanpa membuat siswa dan peserta upacara kelelahan di tengah cuaca panas.

“Pertunjukan ini sengaja dibuat simpel, menarik, cepat, namun padat waktu dan maknanya agar anak-anak maupun peserta upacara lainnya tidak kelelahan di cuaca yang panas,” katanya.

Bagi Yulianti, pertunjukan kolosal tersebut menjadi cara menunjukkan bahwa kegiatan Pramuka dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, rasa percaya diri, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Ia berharap kegiatan Pramuka di SDN Sukadamai 3 dapat terus berkembang dan memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk menunjukkan potensi mereka.

“Ke depannya, harapan saya sederhana. Saya ingin Pramuka bisa lebih berkembang dan terus maju di setiap kesempatan yang ada,” tandasnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
bogor SDN Sukadamai 3 pramuka