RADAR BOGOR - Komitmen untuk membangun kedaulatan pakan di tingkat desa kini memasuki babak baru. Melalui skema pendanaan bergengsi Bestari Saintek yang didukung kolaborasi antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), program K-BALL Living Lab secara resmi memulai langkah perdananya.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui penyelenggaraan "Pelatihan Keterampilan dan Pengetahuan Produksi Probiotik dan Inokulan Silase untuk Calon Pengelola Pusat Mikrobiologi Desa" di Balai desa Sokawangi, Kecamatan Taman-Pemalang pada tanggal11 - 12 Agustus 2026 lalu.
Kegiatan ini mempertemukan para akademisi, pengurus BUMDes, serta komunitas peternak dari Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI), Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) cabang Pemalang, untuk mempraktikkan langsung inovasi probiotik pakan berbasis potensi lokal.
Baca Juga: Mahasiswa Malaysia Kunjungi Sekolah Birrul Waalidain Bogor, Tukar Budaya
Tim K-BALL Living lab IPB University ini diketuai oleh Dr. Indah Wijayanti, STp.,MSI dan bermitra dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Pemalan, SASPRI kawasan Pemalang dan HPDKI Cabang Pemalang.
Sains Praktis di Tangan Peternak: Menjinakkan Bakteri Baik
Dalam sesi pertama, pakar mikrobiologi Dr. Wulansih Dwi Astuti, S.Pt., M.Si. dari BRIN, memaparkan rahasia dapur pembuatan probiotik mandiri. Untuk menekan biaya, Wulansih mengenalkan formulasi bahan lokal seperti dedak atau tepung jagung sebagai media alternatif pengganti molases (tetes tebu) yang kerap sulit didapatkan peternak di pelosok.
“Bakteri adalah makhluk hidup. Kuncinya adalah menjaga suhu lingkungan dan kecocokan makanannya,” jelas Wulansih.
Ia juga membagikan trik ilmiah yang mudah diterapkan di lapangan tanpa bantuan mikroskop: mengidentifikasi keberhasilan kultur melalui tingkat kekeruhan.
Jika cairan probiotik yang dicampurkan ke media bertambah keruh, artinya bakteri baik berkembang dengan cepat; jika warnanya tidak berubah, prosesnya dipastikan gagal. Produk probiotik yang berhasil juga ditandai dengan aroma yang wangi segar khas fermentasi seperti aroma tape dan tidak berbau busuk.
Wulansih juga menjawab keraguan peternak terkait keamanan produk. Probiotik manusia atau pertanian jika diberikan ke ternak tidak akan meracuni, tetapi probiotik tanaman tidak akan memberi manfaat bagi produktivitas hewan karena karakter bakterinya berbeda. Oleh karena itu, dosis harus disesuaikan secara bertahap, minimal selama dua minggu untuk ternak yang belum terbiasa.
Siasat Silase di Musim Paceklik
Pada sesi kedua, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ridla M.Agr. membedah teknologi pengolahan pakan awetan (silase). Di tengah kesulitan mencari hijauan segar akibat kemarau, peternak diajarkan memanfaatkan limbah seperti tebon jagung atau jerami padi yang dicacah (dichopper) sebagai sumber serat, lalu dikombinasikan dengan konsentrat sebagai sumber protein dan nutrisi penunjang lain.
Prof. Ridla menjelaskan bahwa ukuran potongan hijauan yang ideal adalah 2–3 cm agar proses pemadatan di dalam wadah penyimpanan berjalan maksimal.
Namun, ia mengingatkan peternak agar disiplin dalam manajemen pakan: begitu wadah silase dibuka, pakan harus habis dalam waktu satu hari. Jika dibiarkan terbuka terlalu lama, udara luar akan masuk dan merusak bakteri asam laktat menjadi asam butirat yang menurunkan mutu pakan.
Terkait penyimpanan skala besar, Prof. Ridla memaparkan keunggulan sistem penyimpanan berbentuk kamar-kamar beton (bunker).
"Berbeda dengan metode amoniasi menggunakan urea yang menghasilkan gas berbahaya pada pembukaan pertama sehingga harus diangin-anginkan dahulu, silase yang diproses dengan benar di dalam bunker tidak menghasilkan gas amonia sehingga bisa langsung diberikan secara aman kepada ternak," tegasnya.
Living Lab: Kolaborasi Multipihak untuk Kemandirian Desa
Pelatihan ini merupakan representasi nyata dari konsep Living Lab dalam skema Bestari Saintek yang didanai oleh LPDP bekerjasama dengan Kemdikti Saintek.
Dengan melibatkan akademisi sebagai penyedia teknologi, BUMDes sebagai pengelola unit usaha desa, dan peternak SASPRI dan HPDKI sebagai pelaku utama, K-BALL Living Lab berupaya memutus ketergantungan desa terhadap pakan dan probiotik komersial pabrikan.
Melalui transfer teknologi yang membumi ini, masyarakat desa kini tidak lagi sekadar menjadi penonton atau konsumen pasif, melainkan aktor utama yang memegang kendali atas teknologi pakan dan keberlanjutan ekonomi sirkular di wilayah mereka sendiri.
Editor : Eka Rahmawati