RADAR BOGOR – Limbah minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah ternyata bisa diubah menjadi produk bernilai guna. Lima pelajar SMPN 22 Kota Bogor berinovasi mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bernama Ecolume.
Inovasi SMPN 22 Kota Bogor yang merupakan singkatan dari Eco-Friendly + Luminous tersebut dibawa dalam ajang Bogor Innovation Award (BIA) 2026. Produk ini dibuat dengan memanfaatkan minyak jelantah dan asam stearat, serta tersedia dengan pilihan aroma lavender dan melati.
Ketua tim SMPN 22 Kota Bogor, Pelangi Putri Wahyudi, mengatakan ide pembuatan Ecolume muncul dari banyaknya limbah minyak jelantah yang dihasilkan rumah tangga maupun pelaku UMKM kuliner di Kota Bogor.
Baca Juga: Kabar Bansos: Desil KPM Berubah Jadi Rendah September 2026, Ini Cara Mengeceknya
Menurutnya, mereka ingin mengubah limbah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Minyak Jelantah Diolah 24 Jam
Dalam proses pembuatannya, minyak jelantah tidak langsung digunakan sebagai bahan lilin. Minyak terlebih dahulu menjalani proses untuk mengurangi aroma khas minyak bekas.
Sekitar 100 mililiter minyak jelantah dapat digunakan untuk membuat lima gelas lilin. Minyak tersebut kemudian dicampur dengan arang kayu dan didiamkan selama kurang lebih 24 jam untuk membantu mengurangi baunya.
Baca Juga: Cari Buku Kini Bisa Lewat WhatsApp, Halo Libra Bawa AI ke Perpustakaan Kota Bogor
Setelah melalui proses tersebut, minyak baru digunakan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi.
Tak berhenti pada pemanfaatan limbah, para pelajar ini juga mencoba menghadirkan konsep lilin yang lebih praktis dan aman. Mereka bahkan telah membuat prototipe lilin yang tidak perlu dinyalakan menggunakan api.
Konsep tersebut masih dalam tahap pengembangan dan menjadi salah satu pembeda Ecolume dibandingkan lilin aromaterapi pada umumnya.
Bisa Digantung di Dekat AC
Baca Juga: Bukan Cuma PKH BPNT! 8 Bansos Ini Berpotensi Cair September 2026
Ecolume juga dirancang dengan kemasan berbentuk jaring. Kemasan tersebut memungkinkan lilin digantung di dekat AC atau ditempatkan di area yang sejuk sehingga aroma dapat menyebar ke dalam ruangan.
Saat ini, produk Ecolume dibanderol sekitar Rp8.000 per gelas. Meski sudah memiliki prototipe dan harga jual, tim masih melakukan berbagai eksperimen untuk meningkatkan kualitas serta aspek keamanan produk.
Pelangi mengungkapkan, proses pembuatan Ecolume tidak langsung berjalan mulus. Mereka sempat ragu sebelum akhirnya mencoba mengembangkan ide tersebut melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Ketertarikan untuk mengikuti BIA 2026 kemudian muncul setelah mereka mengetahui adanya ajang inovasi tersebut.
Lima Pelajar di Balik Ecolume
Baca Juga: HMR Janji Kawal Kasus Dugaan Korupsi Kabupaten Bogor: Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Dalam BIA 2026, tim Ecolume berkesempatan mempresentasikan inovasi mereka di hadapan tim penilai. Para pelajar tersebut berharap produk berbahan dasar minyak jelantah ini tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tim Ecolume terdiri dari lima siswa kelas 8 SMPN 22 Kota Bogor, yakni Pelangi Putri Wahyudi sebagai ketua, bersama Batrisya Shaliha Sarabiti, Naura Oktavia, Maudi Sintia, dan Muhammad Falah Abdul Aziz.
Melalui Ecolume, para pelajar tersebut menunjukkan bahwa limbah rumah tangga pun dapat menjadi sumber ide kreatif dan inovasi jika diolah dengan cara yang tepat.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga