RADAR BOGOR - Sebanyak 1.300 keluarga dari berbagai wilayah di Indonesia mendapat penguatan kapasitas melalui Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) yang digagas IPB University. Program tersebut melibatkan 130 fasilitator, termasuk peserta dari 18 provinsi di Indonesia.
Rangkaian program pemberdayaan keluarga itu resmi ditutup melalui Wisuda Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026 di Auditorium Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Kampus IPB Dramaga, Senin, 7 September 2026.
Kegiatan yang digelar IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA), tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen peserta selama mengikuti pembelajaran pada Juni hingga Agustus 2026.
Wakil Kepala LPA2I IPB University Bidang Inovasi, Alih Teknologi dan Sociopreneurship, Prof. Tri Prartono, mengatakan SKB terus berkembang sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023. Jangkauan program pun diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Baca Juga: IPB University dan Universitas Pakuan Gelar Konferensi Internasional Komunikasi Pembangunan di Bogor
“Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023, Sekolah Keluarga Berkualitas terus berkembang dan memperluas jangkauan manfaatnya ke berbagai wilayah di Indonesia,” kata Tri.
Menurutnya, pengembangan program semakin terlihat pada 2025 ketika SKB mulai menerapkan metode hybrid, dengan memadukan pembelajaran luring dan daring. Pola tersebut membuat keterlibatan peserta dari berbagai daerah menjadi lebih luas.
Memasuki 2026, SKB melibatkan 130 fasilitator dan 1.300 keluarga binaan. Sebanyak 50 fasilitator mengikuti pembelajaran secara luring dari desa dan kelurahan di sekitar kampus, yakni Desa Cikarawang, Desa Ciherang, Desa Dramaga, Kelurahan Semplak, dan Kelurahan Curug Mekar.
Sementara itu, 80 fasilitator nasional mengikuti pembelajaran secara daring. Mereka berasal dari 18 provinsi, yakni Aceh, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
“Program ini menyasar total 1.300 keluarga binaan. Proses pembelajaran diberikan oleh enam dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen serta melibatkan dua orang praktisi,” ujarnya.
Beragam materi diberikan untuk memperkuat kapasitas keluarga. Di antaranya ketahanan keluarga dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam pencegahan stunting, penerapan konsep asah, asih, dan asuh, serta karakteristik anak bawah dua tahun (baduta) dan lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang optimal.
Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan keluarga, nilai anak dan investasi anak untuk meningkatkan kualitas anak, serta fungsi keluarga dalam mendukung upaya pencegahan stunting.
Inovator Sekolah Keluarga Berkualitas dan Sekolah Lansia, Dr. Tin Herawati, mengatakan SKB tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan. Program tersebut juga membangun sikap dan keterampilan yang dapat diterapkan peserta dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
“Dalam pelaksanaannya, program SKB tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga membangun sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, sejahtera, dan produktif,” kata Tin.
Salah satu bagian penting program tersebut adalah Training of Trainers (ToT) bagi para fasilitator. Melalui pelatihan ini, fasilitator dipersiapkan menjadi agen perubahan yang mampu mendampingi proses pembelajaran dan pemberdayaan keluarga di tingkat desa maupun kelurahan.
“Melalui Training of Trainers bagi fasilitator, program ini mempersiapkan agen-agen perubahan yang mampu memfasilitasi proses pembelajaran dan pemberdayaan keluarga di tingkat desa dan kelurahan,” ujarnya.
Tak berhenti pada penyampaian materi, para fasilitator juga didorong mengembangkan inovasi lokal sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing. Mereka diharapkan membangun jejaring dan berkolaborasi dengan pemerintah desa atau kelurahan serta berbagai pemangku kepentingan.
Karena itu, Tin menegaskan, wisuda SKB bukan sekadar seremoni kelulusan. Momentum tersebut menjadi titik awal untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat.
“Para fasilitator diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara nyata di masyarakat, membangun kolaborasi dengan pemerintah desa atau kelurahan dan berbagai pemangku kepentingan, serta mendorong lahirnya inovasi lokal yang relevan dengan karakteristik wilayah,” jelasnya.
Program SKB merupakan bagian dari upaya peneguhan program “IPB Hadir” melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Keluarga ditempatkan sebagai unit terkecil sekaligus fondasi penting dalam pembangunan masyarakat.
Melalui penguatan kapasitas keluarga, program tersebut diharapkan turut meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam menghadapi persoalan kesehatan dan gizi. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Wisuda SKB 2026 pun menjadi penanda bahwa pemberdayaan keluarga tidak berakhir setelah rangkaian pembelajaran selesai. Para fasilitator diharapkan membawa ilmu yang diperoleh ke lingkungan masing-masing, memperkuat jejaring, dan menjadi penggerak perubahan di masyarakat.
IPB University berharap kolaborasi dengan pemerintah desa dan kelurahan, fasilitator, keluarga binaan, serta berbagai pemangku kepentingan dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi keluarga dan masyarakat.
“Keberlanjutan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi keluarga dan masyarakat luas serta mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” pungkasnya.(ded)
Editor : Eka Rahmawati