RADAR BOGOR – Pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya diukur dari berdirinya infrastruktur atau kemajuan teknologi.
Dampak pembangunan terhadap masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan, terutama ketika proyek besar menyebabkan perubahan tempat tinggal, lahan, maupun mata pencaharian warga.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam 3rd Ibn Khaldun International Conference on Applied and Social Sciences (IICASS) 2026 yang diselenggarakan Universitas Ibn Khaldun atau UIKA Bogor pada Senin 7 September 2026.
Konferensi internasional tersebut dilaksanakan secara paralel di UIKA Bogor dan Universiti Malaysia Kelantan (UMK), Malaysia. Kegiatan juga diikuti peserta dari berbagai daerah dan negara melalui sistem daring.
Mengusung tema “Strengthening Social Safeguards for Sustainable Development: Advancing Inclusion, Resilience, and Equitable Transformation in a Changing World,” konferensi ini membahas upaya menjaga pembangunan agar tetap berjalan sekaligus memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat yang terdampak.
UIKA Bogor Tekankan Pentingnya Nilai Kemanusiaan
Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si., menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam pembangunan.
Baca Juga: Bansos BPNT Cair Lagi Hari Ini! KKS BNI Baru Mulai Dapat Rp600 Ribu
Namun, kemajuan tersebut perlu berjalan beriringan dengan karakter, integritas, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut Mujahidin, pembangunan yang hanya mengandalkan kemampuan intelektual belum cukup untuk menjamin keberlanjutan.
Ia menilai karakter yang baik diperlukan agar proses pembangunan tetap berada pada jalur yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa integritas dapat membuka peluang terjadinya korupsi.
Di sisi lain, teknologi yang tidak disertai tanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan baru, sedangkan kekuasaan yang tidak dijalankan dengan prinsip keadilan dapat berubah menjadi tindakan yang menekan masyarakat.
Perlindungan Sosial Jadi Bagian Penting Pembangunan
UIKA Bogor menjadi penyelenggara utama IICASS 2026. Dalam penyelenggaraannya, UMK Malaysia berperan sebagai tuan rumah.
Sementara itu, Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan (IBIK) Bogor serta Abdelmalek Essaâdi University, Maroko, turut terlibat sebagai co-organizer.
Konferensi tersebut menghadirkan lima pembicara yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Tiongkok, dan Maroko.
Ketua Panitia IICASS 2026, Dr. Rimun Wibowo, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa tema mengenai perlindungan sosial dalam pembangunan tidak muncul tanpa alasan.
Isu tersebut berangkat dari berbagai persoalan yang ditemukan dalam pelaksanaan pembangunan di lapangan.
Baca Juga: Cuma 1 Km dari Stadion Pakansari Bogor, Tempat Nongkrong Ini Punya Burger Sejumbo Porsi 4 Orang
Rimun menilai setiap pembangunan infrastruktur memiliki konsekuensi sosial yang perlu diperhatikan.
Di balik pembangunan jalan, proyek pembangkit listrik, bendungan, maupun fasilitas energi, terdapat masyarakat yang mungkin harus meninggalkan rumah, kehilangan lahan pertanian, atau menyesuaikan diri dengan perubahan pola kehidupan.
Karena itu, perlindungan sosial menurutnya bukan sesuatu yang seharusnya dipandang sebagai penghambat pembangunan.
Justru, aspek tersebut dapat menjadi fondasi agar proyek pembangunan mendapatkan penerimaan masyarakat dan mampu berjalan secara berkelanjutan.
Rimun berharap IICASS 2026 tidak hanya menjadi forum untuk bertukar pengetahuan dan gagasan.
Ia ingin hasil konferensi berkembang menjadi kerja sama riset, publikasi bersama, serta terbentuknya jejaring praktisi lintas negara.
Lima Pembicara Bahas Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
Berbagai perspektif mengenai perlindungan sosial dan pembangunan berkelanjutan disampaikan oleh para pembicara dari sejumlah negara.
Dari Indonesia, Rimun Wibowo membahas persoalan yang muncul dalam penerapan perlindungan sosial pada proyek-proyek infrastruktur.
Sementara itu, Kamia Handayani, Ph.D. dari PLN mengulas tantangan penerapan sistem pengelolaan lingkungan dan sosial dalam proses transisi energi.
Dari Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Hadhrami bin Ab. Ghani mengangkat pemanfaatan kecerdasan buatan, komputasi geospasial, serta data sosial.
Baca Juga: Kampung Dayeuh Padjajaran Dimulai, Pemkab Bogor Alokasikan Rp300 Juta per RW
Teknologi tersebut dinilai dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kelompok masyarakat yang rentan secara lebih cepat.
Perspektif dari Tiongkok disampaikan Prof. Guoqing Shi dari Hohai University. Ia membagikan pengalaman terkait penanganan pemukiman kembali masyarakat yang terdampak proyek pembangunan berskala besar.
Sementara dari Maroko, Prof. Dr. Amina Hachimi dari Abdelmalek Essaâdi University membahas keterkaitan pembangunan infrastruktur dengan upaya menciptakan inklusi sosial.
Format Konferensi Diubah Menjadi Hybrid
Pada awalnya, IICASS 2026 dirancang untuk dilaksanakan secara terpusat di UMK Malaysia.
Namun, perubahan kondisi penerbangan menyebabkan delegasi dari Bogor tidak dapat melakukan perjalanan ke Malaysia.
Situasi tersebut membuat panitia harus mengambil keputusan dengan cepat. Format konferensi kemudian dialihkan menjadi hybrid sehingga seluruh agenda utama tetap dapat berjalan.
Rimun menjelaskan bahwa perubahan format dapat dilakukan dalam waktu singkat tanpa menghilangkan sesi yang telah direncanakan.
Setelah rangkaian sesi utama selesai, kegiatan berlanjut dengan presentasi paralel yang terbagi dalam delapan subtema.
Baca Juga: Kampung Dayeuh Padjajaran Dimulai, Pemkab Bogor Alokasikan Rp300 Juta per RW
Pembahasan tersebut mencakup kebijakan publik, ekonomi berkelanjutan, pendidikan dan transformasi digital, perubahan iklim, kesehatan, pengembangan wilayah, teknologi, serta budaya dan masyarakat.
Makalah yang dinilai terpilih nantinya akan diproses untuk publikasi pascakonferensi.
Melalui penyelenggaraan IICASS 2026, UIKA Bogor tidak hanya memperkuat hubungan akademik dengan institusi dari berbagai negara, tetapi juga berupaya mendorong isu pembangunan yang inklusif dan berkeadilan menjadi bagian dari agenda kolaborasi akademik global. (***)
Editor : Yosep Awaludin