IPB University Kirim 1,27 Ton Bantuan Nasi Steril untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT

Dede Supriadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 22:26 WIB
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet melepas bantuan berupa 6.350 bungkus nasi steril untuk masyarakat terdampak gempa NTT melalui program IPB Peduli di STP IPB, Taman Kencana, Kota Bogor, Selasa, 8 September 2026. (Dede/Radar Bogor)
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet melepas bantuan berupa 6.350 bungkus nasi steril untuk masyarakat terdampak gempa NTT melalui program IPB Peduli di STP IPB, Taman Kencana, Kota Bogor, Selasa, 8 September 2026. (Dede/Radar Bogor)
RADAR BOGOR - IPB University bergerak membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 6.350 bungkus atau sekitar 1,27 ton nasi steril dikirim melalui jalur darat untuk memenuhi kebutuhan pangan warga di wilayah terdampak bencana.
Bantuan tersebut diberangkatkan melalui program IPB Peduli dari Science Techno Park (STP) IPB, Taman Kencana, Kota Bogor, Selasa, 8 September 2026. Pengiriman dilakukan melalui jalur darat dan ditargetkan tiba di lokasi dalam waktu maksimal satu pekan.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Gempa tersebut juga memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah pesisir. Dampaknya meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 4 September 2026, tercatat 129 orang meninggal dunia, lebih dari 1.723 orang mengalami luka-luka, sekitar 111.321 warga mengungsi, serta 98.908 rumah mengalami kerusakan.
Sejumlah fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat ibadah juga terdampak. Di tengah proses penanganan dan pemulihan yang masih berlangsung, kebutuhan pangan serta logistik masyarakat masih cukup tinggi.
Melalui IPB Peduli, IPB University menggandeng sejumlah pihak untuk menggalang bantuan bagi masyarakat terdampak. Kolaborasi tersebut melibatkan Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University, Aksi Relawan Mandiri (ARM) Himpunan Alumni IPB, Yayasan Satu Umat Alumni SMAN 70 Jakarta, serta BEM SI yang dihimpun melalui BEM KM IPB.
Bantuan dihimpun dalam bentuk donasi, pangan, hingga mobilisasi relawan untuk membantu proses penyaluran di lapangan.

Baca Juga: Jadwal Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-West Berubah, Catat Tanggalnya

Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet mengatakan, keterlibatan IPB tidak hanya berhenti pada bantuan tanggap darurat. Perguruan tinggi tersebut juga siap mendukung proses pemulihan masyarakat apabila dibutuhkan.
“Tentu kita tidak hanya berhenti untuk memberikan bantuan yang sifatnya tanggap darurat, tapi IPB juga berkomitmen untuk pemulihan jangka panjang jika dibutuhkan, baik untuk meningkatkan kembali ketahanan pangan, ketahanan air, dan juga dari dukungan psikososialnya dan lingkungannya,” ujar Alim.
Nasi steril menjadi salah satu bantuan utama yang dikirim IPB University. Pangan tersebut dipilih karena praktis untuk didistribusikan dan dikonsumsi dalam kondisi darurat.
Berbeda dengan nasi yang baru dimasak, nasi steril merupakan pangan siap makan yang dapat disimpan lebih lama. Teknologi sterilisasi dan pengemasan membuat produk tersebut dapat dikonsumsi tanpa harus melalui proses memasak kembali.
Kondisi tersebut menjadi penting di wilayah bencana yang akses terhadap dapur, bahan bakar, air bersih, maupun fasilitas memasak belum sepenuhnya pulih.
IPB University sebelumnya telah mengembangkan nasi steril siap makan sebagai salah satu inovasi pangan untuk kondisi kebencanaan.
Produk tersebut dirancang agar lebih mudah disimpan dan didistribusikan ke lokasi yang membutuhkan.
Pada penyaluran kali ini, sebanyak 6.350 bungkus nasi steril atau sekitar 1,27 ton diberangkatkan menuju wilayah terdampak melalui jalur darat.
Ketua Aksi Relawan Mandiri (ARM) Himpunan Alumni IPB Ir. Ahmad Husein, M.Si. mengatakan, jaringan alumni memiliki peran penting dalam mempercepat mobilisasi bantuan, termasuk menuju wilayah yang sulit dijangkau.
“Jaringan alumni ARM IPB University telah berkomitmen dan bekerja di wilayah yang agak jauh dari jangkauan. Ketika terjadi bencana, jaringan alumni di berbagai daerah dapat bergerak lebih cepat dan membantu menjangkau wilayah yang aksesnya terbatas,” ungkap Ahmad.
Menurutnya, sinergi antara IPB University dan jaringan alumni membuat bantuan dapat dimobilisasi hingga ke wilayah pelosok. ARM berperan dalam mobilisasi relawan dan distribusi bantuan di lapangan, sementara IPB University memberikan dukungan melalui donasi dan sumber daya yang tersedia.
Namun, proses distribusi menghadapi tantangan karena kondisi infrastruktur di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih. Bahkan, beberapa lokasi hanya dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua.
ARM menargetkan bantuan tersebut dapat tiba di lokasi dalam waktu maksimal satu minggu.
“Kami berharap sinergi ini patut dipertahankan, karena IPB dan alumni sebenarnya saling mendukung dan saling membantu,” kata Ahmad.
Selain bantuan pangan, aksi kolaborasi tersebut juga menghimpun dukungan dana masing-masing sebesar Rp30 juta, Rp8 juta, dan Rp25 juta. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat dan proses pemulihan.
IPB University berharap bantuan yang dikirim dapat segera diterima masyarakat terdampak gempa NTT. Keterlibatan kampus, alumni, mahasiswa, dan berbagai mitra diharapkan tidak hanya memperkuat solidaritas, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis pengetahuan dan inovasi.
Bagi IPB University, respons terhadap bencana juga menjadi kesempatan untuk menerapkan inovasi yang dikembangkan di lingkungan akademik, termasuk penyediaan pangan darurat yang praktis, mudah didistribusikan, dan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah situasi bencana. (ded)
Editor : Eka Rahmawati
ipb ntt gempa bantuan