STEM 5M: Pelajaran dari Kudus untuk Guru yang Menunggu 'Alat Lengkap'

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 16:32 WIB
Himawan Bintoro, Tenaga Pendidik Vokasi SMKS 2 Grafika Dasa Semesta Bogor.
Himawan Bintoro, Tenaga Pendidik Vokasi SMKS 2 Grafika Dasa Semesta Bogor.

RADAR BOGOR - Bagi banyak guru di Kota dan Kabupaten Bogor, pertanyaan paling jujur setelah mendengar program STEM nasional bukan “kapan laboratoriumnya datang?”, melainkan “apa yang berubah di kelas saya minggu depan?”.

Kita terbiasa membayangkan STEM sebagai ruang berpendingin, kit robotik, atau alat impor. Bayangan itu sah sebagai aspirasi. Ia berbahaya bila dijadikan tiket masuk sebelum berani mencoba.

Pada 3 September 2026, Kemendikdasmen meluncurkan Program STEM Nasional “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta” di PAUD Terpadu Kalirejo, Kudus, dengan Menteri Abdul Mu’ti dan Dirjen GTK Nunuk Suryani.

Seremoni itu penting sebagai sinyal kebijakan.

Baca Juga: Pernah Dengar Mitos Mesin Honda Makin Panas Makin Ngacir, Ternyata Ini Faktanya

Ia tidak otomatis mengubah praktik mengajar.

Tagline bisa kosong bila pelatihan berhenti di workshop sehari tanpa pendampingan. 

Prinsip “murah” bisa disalahartikan sebagai pembiaran sekolah tanpa investasi bermutu.

Kosakata mindful dan meaningful bisa asing di rapat MGMP bila tidak diterjemahkan ke aktivitas yang bisa diamati di kelas.

Karena itu, ukuran keberhasilan yang masuk akal bukan banyaknya foto peluncuran, melainkan apakah satu aktivitas ceramah minggu ini diganti menjadi kesempatan murid merancang, gagal, dan memperbaiki.

Arah kebijakan yang ditawarkan relatif gamblang.

STEM bukan mata pelajaran baru penambah beban jam, melainkan cara berpikir lintas sains teknologi rekayasa matematika yakni mengamati, bertanya, mencoba, merancang, menguji.

Pintu masuknya PAUD. Kerangkanya dikaitkan dengan Wajib Belajar 13 Tahun dan Generasi Emas 2045.

Tulang punggungnya prinsip 5M mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful (dua istilah terakhir masih dipakai dalam bahasa aslinya karena padanan resmi belum ditetapkan).

Baca Juga: Petugas TNGGP Diduga Dianiaya, Pos Pendakian Gunung Putri Rusak

Intinya: belajar yang hemat, menyenangkan, sadar proses, dan dekat dengan hidup anak bukan hafalan yang jauh dari dunia sehari-hari.

Di Bogor Raya, “laboratorium terbuka” itu sudah ada di depan mata.

Selokan yang meluap setelah hujan deras, sampah kemasan di kantin, tanaman di halaman, kemacetan di depan gerbang, atau sampah sungai yang jadi percakapan warga yakni semuanya bisa jadi masalah kontekstual. Anak tidak perlu menunggu spektrum lengkap untuk bertanya mengapa sesuatu terjadi.

Prinsip mudah dan murah justru menantang kebiasaan menunggu alat.

Perubahan dimulai dari cara guru memandang kemampuan anak, bukan dari katalog peralatan.

Pada usia dini, rasa ingin tahu lebih penting daripada hitungan formal di luar tahap perkembangan. 

Menumbuhkan keingintahuan lewat bermain, lagu, gerak, dan alam bukan sama dengan menjajali konten kognitif berlebih.
Kebijakan hanya hidup jika guru bergerak dan kepala sekolah memberi ruang.

Sasaran diseminasi sekitar 3.272 pendidik menandai arah perluasan kompetensi, bukan klaim bahwa seluruh sekolah nasional sudah “STEM-ready” pada hari peluncuran.

Pelatihan digarap lintas jenjang, dari PAUD hingga SMA/SMK dan pendidikan khusus, melibatkan guru MIPA maupun non-MIPA.

Poin terakhir sering diabaikan: guru bahasa atau seni bisa ikut mengamati dan mendokumentasikan proses, bukan duduk di luar pagar “mapel sains”.

Baca Juga: Angkot Baru Lintas Daerah Berkeliaran Tanpa Izin, Dishub Kota Bogor Jaring Puluhan Kendaraan

Model yang masuk akal mengikuti siklus pengalaman coba, refleksi, bangun konsep, eksperimen lagi supaya guru merasakan kebingungan saat jembatan kertas ambruk sebelum meminta murid merayakan kegagalan sebagai data. Modul dan sumber digital membantu. Tanpa slot jadwal dari kepala sekolah, ekosistem itu hanya poster di dinding.

Demo di Kudus cukup jadi bukti ringkas bahwa murah itu mungkin: anak membangun menara dari tutup botol, kardus, dan stik; menguji jembatan kayu dibanding kertas tipis.

Tidak ada keajaiban teknologi. Yang ada kebiasaan mencoba.

Numerasi bisa datang dari lagu atau mengelompokkan buah; observasi ilmiah bisa dimulai dari menanam biji.

Untuk sekolah Bogor yang akrab dengan banjir lokal dan sampah sungai, masalah seperti itu jauh lebih dekat dengan hidup murid ketimbang soal buku yang kering.

Rekomendasi praktisnya sederhana dan lokal.

Untuk guru: minggu ini ganti satu sesi ceramah dengan satu uji coba bahan bekas atau observasi lingkungan sekolah.

Untuk kepala sekolah: sediakan minimal satu jam praktik terbimbing per minggu, bukan hanya menempel tema di mading.

Untuk dinas pendidikan: utamakan pelatihan berantai plus pendampingan kelas, bukan seremoni sekali jalan. Tanpa tiga lapisan itu, 5M tinggal singkatan di spanduk.

Baca Juga: Hati-hati Pakai Oli 15W-40 atau 20W-50 di Mobil Modern, Meski Odometer Sudah Tembus 500 Ribu Km

Peluncuran di Kudus menandai kerangka kebijakan, pelatihan, dan perangkat pendukung bukan laporan dampak jangka panjang.

Bagi pendidik di wilayah Bogor, keputusannya praktis: jangan menunggu laboratorium mengkilap untuk mulai. Mulai dari pertanyaan anak tentang dunia di depan mata. Biarkan kelas menjadi tempat mencoba, bukan sekadar tempat mendengar. (*)

Himawan Bintoro
Tenaga Pendidik Vokasi SMKS 2 Grafika Dasa Semesta Bogor

========================================

 

Tulisan ini merupakan hasil opini pribadi penulis yang tidak menggambarkan pandangan dari Redaksi Radar Bogor.

Editor : Siti Dewi Yanti
STEM 5M bogor guru kudus