Kemendikdasmen Buka Kredensial Mikro SMK 2026, Target 1.665 Peserta: Guru SMK Diajak Terus Belajar

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 16:18 WIB
Sosialisasi Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan Kejuruan melalui Kredensial Mikro Berbasis Industri Tahun 2026 digelar secara daring. (YouTube Direktorat SMK Kemdikdasmen)
Sosialisasi Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan Kejuruan melalui Kredensial Mikro Berbasis Industri Tahun 2026 digelar secara daring. (YouTube Direktorat SMK Kemdikdasmen)

Oleh: Himawan Bintoro

RADAR BOGOR — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi membuka pendaftaran Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan Kejuruan melalui Kredensial Mikro Berbasis Industri Tahun 2026. Sosialisasi digelar daring melalui kanal YouTube Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada Senin, 7 September 2026.

Program ini merupakan kolaborasi Direktorat SMK di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Skemanya berupa beasiswa pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang singkat, fokus, fleksibel, serta diselaraskan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan urgensi program di tengah perubahan teknologi dan dunia kerja yang bergerak cepat. Menurutnya, jarak antara sekolah dan industri akan makin jauh jika dunia kerja berlari sementara sekolah hanya berjalan.

Baca Juga: Ada Nobar Persib Vs Persija dan Laga Persikad Depok Vs PSGC Ciamis, Kabupaten Bogor Siaga Suporter

“Kalau gurunya berhenti belajar, jangan sampai anak-anak kita diajarkan keterampilan masa lalu untuk menghadapi masa depan,” ujar Tatang dalam sambutan pembukaan.

Ia menekankan, kredensial mikro bukan sekadar pelatihan atau pengejaran sertifikat. Program ini digambarkan sebagai cara membuat pembelajaran lebih cepat, fokus, fleksibel, relevan, dan diakui dunia kerja. Keberhasilan, kata dia, tidak diukur dari banyaknya sertifikat, melainkan dari kompetensi, keterampilan, dan perubahan yang masuk ke sekolah.

“Sertifikat boleh masuk map, tetapi kompetensi harus ada di dalam kepala dan keterampilan harus ada di tangan,” kata Tatang.

Ia meminta peserta pulang membawa perubahan: keterampilan baru ke kelas, inovasi ke sekolah, serta jejaring baru dengan industri, lalu menularkannya kepada sejawat.

Direktur SMK, Arie Wibowo Khurniawan, melaporkan sasaran program tahun 2026 sekitar 1.665 peserta. Mereka terdiri atas guru kejuruan SMK, kepala SMK, serta tenaga kependidikan—khususnya teknisi bengkel dan laboran. Pelibatan tenaga kependidikan disebut sebagai perluasan baru dibanding pelaksanaan 2025 yang lebih fokus pada guru.

Pelatihan melibatkan 45 lembaga mitra yang telah dikurasi, dengan komposisi yang disebut meliputi unsur industri, balai vokasi/pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga kursus atau pelatihan kerja. Total paket pelatihan dan sertifikasi yang ditawarkan sebanyak 92 judul. Moda pembelajaran mayoritas hybrid atau blended karena praktik kejuruan menuntut pengalaman langsung di lapangan.

Dalam paparan kebijakan di acara yang sama, program ini dikaitkan dengan kewajiban pengembangan kompetensi berkelanjutan guru sesuai Undang-Undang Guru dan Dosen.

Data yang disampaikan menyebut sekitar sembilan dari sepuluh guru kejuruan SMK belum pernah mengikuti pelatihan kompetensi kejuruan. Dari total sekitar 110.865 guru kejuruan menurut Dapodik, estimasi yang telah mengikuti pelatihan hanya sekitar 10.000 orang. Kesenjangan itu dinilai berisiko menghambat relevansi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia kerja.

Pendaftaran peserta dibuka 7 hingga 18 September 2026 melalui portal resmi https://kredensialmikrosmk.kemendikdasmen.go.id/. Calon peserta dapat memilih paket sesuai sasaran—guru, kepala sekolah, atau tenaga kependidikan—lalu mengunggah dokumen persyaratan dan mengikuti seleksi administrasi.

Selain menyelesaikan pelatihan dan uji kompetensi, peserta diminta menyusun rencana tindak lanjut (RTL) paling lambat satu minggu setelah pelatihan. RTL mencakup penerapan kompetensi di sekolah, berbagi praktik baik, serta pengimbasan, agar hasil pelatihan tidak berhenti pada sertifikat.

Bagi warga Bogor Raya, kebijakan ini relevan karena banyak SMK di Kota dan Kabupaten Bogor memiliki guru produktif, kepala sekolah, serta teknisi/laboran yang berpotensi menjadi sasaran program, sepanjang memenuhi kriteria dan kuota lembaga mitra yang dipilih.

Penulis: Himawan Bintoro
Tenaga Pendidik Vokasi SMKS 2 Grafika Dasa Semesta Bogor

Editor : Eka Rahmawati
Kredensial Mikro smk guru kemendikdasmen