Lawan Hama Tikus, Mahasiswa KKNT IPB Bantu Petani Desa Sendang

Dede Supriadi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 17:27 WIB
Mahasiswa KKNT IPB University dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sendang, Kabupaten Blora menjalankan Program Pengendalian Hama Tikus Terpadu. (Dok. IPB)
Mahasiswa KKNT IPB University dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sendang, Kabupaten Blora menjalankan Program Pengendalian Hama Tikus Terpadu. (Dok. IPB)

RADAR BOGOR - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sendang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah menjalankan Program Pengendalian Hama Tikus Terpadu untuk membantu petani mengatasi ledakan populasi tikus yang terjadi sejak 2024.

Hama tersebut telah mengganggu produktivitas sejumlah komoditas utama Desa Sendang, seperti jagung, tebu, cabai dan terong. Serangan tikus bahkan menyebabkan sejumlah petani mengalami gagal panen hingga kehilangan modal operasional.

Program pengendalian dilakukan melalui sosialisasi dan praktik penggunaan emposan serta pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami tikus.
Sosialisasi digelar di Kantor Kepala Desa Sendang pada 21 Juli 2026 dan diikuti 35 anggota kelompok tani. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan pada 2 Agustus 2026 di lahan tebu produktif Dukuh Mlaten.

Baca Juga: Ambil Alih Terminal Baranangsiang Belum Direspons, Wali Kota Bogor Minta Jangan Dibiarkan Kumuh

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa bersama petani mempraktikkan penggunaan emposan sekaligus mendirikan dua tangkringan burung hantu.

Program ini merupakan kolaborasi mahasiswa KKN-T IPB dengan sejumlah kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Desa Sendang, yakni Sendang Sari 1, Sendang Sari 2, Sendang Mulya 1, Sendang Mulya 2, serta LMDH.

Kepala Gapoktan Desa Sendang, Suminto, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pendampingan mahasiswa dapat menjadi sarana bertukar pengetahuan untuk menghadapi persoalan hama yang telah berlangsung selama dua tahun.

“Insyaallah bersama mahasiswa KKN (IPB) kita bisa saling belajar mengatasi hama tikus yang selama dua tahun ini menjadi masalah di desa kita,” ujar Suminto saat sosialisasi.

Koordinator Desa KKNT IPB University, Zachari Fitrah Illah, menjelaskan emposan buatan juga memiliki keunggulan dari sisi biaya. Dengan bahan sederhana seperti belerang, arang halus, soda kue dan kertas bekas, petani dapat membuat emposan secara mandiri.

“Emposan komersial dengan harga seratus ribu rupiah biasanya berisi sepuluh batang emposan. Tetapi emposan buatan dengan harga yang sama bisa menghasilkan 50 sampai 70 batang,” jelas Zachari.

Selain emposan, mahasiswa memperkenalkan tangkringan burung hantu sebagai metode pengendalian hayati. Burung hantu jenis Tyto alba atau Serak Jawa yang terdapat di Desa Sendang diketahui merupakan predator alami tikus.

Dua tangkringan dengan tinggi sekitar lima meter didirikan di area pertanian untuk membantu burung hantu memantau dan memangsa tikus secara alami.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-T IPB berharap petani dapat menerapkan pengendalian hama secara lebih mandiri, efisien dan berkelanjutan.

Pemanfaatan emposan buatan dan predator alami diharapkan mampu menekan populasi tikus, melindungi tanaman, serta membantu memulihkan produktivitas dan perekonomian petani Desa Sendang.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
ipb KKNT petani mahasiswa