RADAR BOGOR – Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) bersama Perum Perhutani KPH Kedu Utara mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di BKPH Candiroto, Kabupaten Temanggung, pada Sabtu (12/9/2026)
Kegiatan tersebut dilakukan dalam meningkatkan nilai tambah kopi, yang tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbaiki budidaya.
Petani dirasa perlu untuk bisa mengolah sumber daya secara berkelanjutan sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.
Pelatihan “Model Pengembangan Usaha Kopi Berbasis Agroforestri melalui Digitalisasi Pemasaran, Standarisasi GAP, dan Pengolahan Limbah Organik Berkelanjutan” menghadirkan Dr. Rizky Pasthika Kirana, Dr. Firdausi Nur Azizah, dan Dr. Hani Perwitasari.
Diharapkan kegiatan ini mendorong petani untuk melihat usaha kopi secara lebih utuh, mulai dari kebun, pengelolaan limbah, hingga pemasaran produk.
Baca Juga: Jangan Tunggu Turun Mesin, Ini 3 Cara Merawat Mesin Mobil agar Awet
Petani Bawa Tanaman Kopi yang Terserang Hama
Sejumlah petani bahkan membawa langsung sampel tanaman kopi yang terserang hama dan penyakit untuk dikonsultasikan dengan narasumber.
Diskusi juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarpetani, termasuk praktik pengomposan yang telah diterapkan di kebun mereka.
Persoalan pemasaran menjadi salah satu perhatian utama karena sebagian besar petani masih mengandalkan penjualan kopi dalam bentuk green bean dan belum banyak melakukan diversifikasi produk.
Salah satu kendalanya adalah belum jelasnya target pasar dan jalur distribusi ketika kopi diolah menjadi produk bernilai tambah.
Karena itu, petani didorong tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mulai membangun branding, mengenali konsumen, memanfaatkan pemasaran digital, serta mengembangkan produk olahan kopi.
Langkah tersebut diharapkan membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kopi Candiroto.
Kopi Berkelanjutan, Petani Lebih Berdaya
Program ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).
"Penguatan keterampilan dan pemasaran diharapkan meningkatkan nilai tambah serta pendapatan petani. Penerapan GAP dan pengolahan limbah kebun menjadi kompos mendorong produksi yang lebih efisien dan prinsip ekonomi sirkular," ungkap Hani.
Sementara itu, pengembangan kopi berbasis agroforestri turut mendukung pemanfaatan lahan secara berkelanjutan, menjaga tutupan vegetasi, kesehatan tanah, dan fungsi ekologis kawasan sekitar hutan.
Kolaborasi UGM, Perhutani, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pelatihan. Pendampingan yang berkelanjutan menjadi penting agar pengetahuan yang diperoleh petani dapat diterapkan secara konsisten.
"Sehingga produktivitas meningkat, diversifikasi produk berkembang, dan usaha kopi Candiroto semakin mandiri serta berdaya saing," pungkas Hani.
Editor : Siti Dewi Yanti