RADAR BOGOR - STMIK Tazkia Kota Bogor mendorong mahasiswa untuk membangun kemandirian sejak awal masa perkuliahan.
Bekal tersebut dinilai penting agar mahasiswa mampu menghadapi perubahan zaman dan kebutuhan dunia industri.
Direktur STMIK Tazkia Miftakhus Surur mengatakan, konsep pendidikan di kampusnya diarahkan untuk membentuk mahasiswa yang lebih mandiri dan dewasa dalam menjalani perkuliahan.
“Konsep kami di STMIK itu menjadikan mahasiswa lebih mandiri karena harus dewasa,” ujar Miftakhus saat ditemui usai kegiatan kuliah umum di Ruang Paripurna DPRD Kota Bogor, Sabtu 26 September 2026.
Menurutnya, mahasiswa perlu mampu menentukan prioritas agar tidak mudah terdistraksi oleh berbagai hal yang tidak berkaitan dengan proses pendidikan.
Baca Juga: Dospulkam IPB University Kenalkan Inovasi Terumbu Buatan untuk Pulihkan Ekosistem Laut di Bali
Kemandirian tersebut juga diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Miftakhus menyebut, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Meski STMIK Tazkia baru memasuki tahun kedua atau semester keempat, sudah ada empat mahasiswa yang dipinang industri untuk bekerja. “Itu sebuah capaian yang luar biasa,” katanya.
Ia menjelaskan, STMIK Tazkia juga mulai mengubah konsep kegiatan akademik dengan membawa mahasiswa ke ruang publik.
Sebelumnya, pihak kampus lebih banyak mengundang pakar untuk memberikan materi di lingkungan kampus.
Kini, mahasiswa diajak mendapatkan pengalaman melalui real case. Salah satunya dengan menggelar kegiatan akademik di Ruang Paripurna DPRD Kota Bogor.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Kegiatan ini sekaligus menjadi kegiatan perdana bagi mahasiswa baru angkatan 2026.
Kuliah umum tersebut mengusung tema “Urgensi Siber dalam Ketahanan Bangsa & Geopolitik Indonesia: Membangun Generasi Digital yang Berdaulat, Unggul, dan Berkarakter Mulia”.
Miftakhus mengatakan, pihaknya sengaja menggabungkan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut, mulai dari media, profesional dan praktisi hingga regulator.
Dengan begitu, mahasiswa mendapat wawasan dari berbagai perspektif mengenai tantangan di ruang digital.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 peserta. Rinciannya sekitar 100 mahasiswa baru, 150 mahasiswa existing, serta dosen dan tamu sekitar 50 orang.
Baca Juga: Kuliner Jepang di Bogor Ini Punya Porsi Jumbo, Harga Mulai Rp19 Ribu dan Bersertifikat Halal
Ia berharap STMIK Tazkia dapat memberikan manfaat lebih besar bagi Kota Bogor.
Menurutnya, sinergi dengan berbagai stakeholder penting untuk memperkuat kontribusi kampus terhadap masyarakat.
Selain penguatan kompetensi, STMIK Tazkia juga memberikan perhatian terhadap akses pendidikan.
Miftakhus menyebut sekitar 85 persen mahasiswa mendapatkan pendidikan secara gratis melalui program KIP.
“Kami ingin membuktikan bahwa di tangan orang yang benar, di tempat yang baik, mereka berdaya,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, STMIK Tazkia menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, profesional, praktisi dan media. Salah satunya CEO Radar Bogor Nihrawati AS.
Nihrawati menekankan pentingnya kemampuan literasi media bagi mahasiswa dalam menghadapi perkembangan ruang siber.
Mahasiswa perlu mampu memilah informasi sebelum menerima maupun membagikannya.
Ia menjelaskan, mahasiswa harus bisa membedakan konten positif dan negatif di ruang digital.
Kemampuan tersebut penting agar mahasiswa tidak sembarangan membagikan informasi yang diterima.
Baca Juga: Penumpang Kereta Api Bogor-Sukabumi Tembus 1,12 Juta, Naik 6 Persen
Literasi media menjadi salah satu bekal penting bagi generasi digital. Mahasiswa dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami informasi yang mereka temui dan bagikan di ruang siber. (uma)
Editor : Yosep Awaludin