Siswa-siswi SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Gunung Sindur Bogor Luncurkan 2 Hasil Karya Buku

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 17:04 WIB
Siswa - siswi SMA Kemala Bhayangkara di Gunung Sindur Kabupaten Bogor meluncurkan 2 hasil karya buku pada momen peringatan Bulan Bahasa dan Sastra, Minggu, 27 September 2026. (Septi N/Radar Bogor)
Siswa - siswi SMA Kemala Bhayangkara di Gunung Sindur Kabupaten Bogor meluncurkan 2 hasil karya buku pada momen peringatan Bulan Bahasa dan Sastra, Minggu, 27 September 2026. (Septi N/Radar Bogor)
RADAR BOGOR - Siswa-siswi SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor meluncurkan hasil karya buku.

Selain memperingati Bulan Bahasa dan Sastra, kegiatan ini menjadi momentum untuk mendorong siswa berani menuangkan pengalaman, gagasan, dan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan.
‎
‎Dua buku yang diluncurkan merupakan kumpulan karya siswa yang pada awalnya lahir dari tugas pembelajaran. 
‎
‎Di antaranya berupa kumpulan kolom atau opini berjudul "Echoes of Heritage". Sementara buku lainnya merupakan antologi karya sastra siswa berjudul "Suara Dari Masa Depan".

Baca Juga: Festival Durian di Sentul City, Bupati Bogor Dorong Buah Lokal Tembus Pasar Global
‎
‎Karya-karya tersebut ditulis oleh siswa yang saat ini duduk di kelas XI. Sebelum diterbitkan, tulisan para siswa melalui proses kurasi dan penyuntingan yang melibatkan penulis profesional.
‎
‎Dalam kegiatan peluncuran, Kepala SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Hendri Adi menyampaikan, bahwa tantangan utama seseorang ketika hendak menulis terletak pada keberanian untuk memulai. 
‎
‎Anak didiknya dinilai telah berhasil melewati tahap tersebut dengan menuangkan pengalaman dan pemikiran mereka menjadi karya yang dapat dibukukan.
‎
‎“Halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dipikirkan dalam bentuk tulisan adalah memulai, anak-anak ini berhasil melampaui itu dan hari ini kami disajikan dua buku karya pertama mereka,” ujar Hendri Adi kepada wartawan, Minggu, 27 September 2026.
‎
Ia menjelaskan ‎buku Echoes of Heritage berawal dari penugasan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 
‎
‎Para siswa diminta merefleksikan pengalaman mereka ketika berinteraksi dengan budaya, kemudian mengembangkan pengalaman tersebut menjadi tulisan berbentuk opini.
‎
‎Proses tersebut tidak hanya diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga mendorong mereka menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dinikmati oleh orang lain.
‎
‎Pihak sekolah menegaskan, program ini merupakan bagian dari upaya membangun budaya literasi sekaligus membiasakan siswa menuangkan ide dan gagasan secara tertulis.
‎
‎"Tidak hanya sekadar mempersiapkan dan menuangkan ide, tetapi bagaimana ide itu menjadi karya," jelas Hendri.
‎
‎Penerbitan dua buku tersebut tidak berlangsung secara instan, prosesnya dimulai sekitar Februari melalui tahap awal atau kick-off proyek, dilanjutkan dengan penulisan, penentuan tenggat, pengumpulan naskah, proses kurasi dan penyuntingan oleh editor, hingga pencetakan.
‎
‎Keseluruhan proses tersebut memerlukan waktu sekitar sembilan bulan, rentang waktu tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman siswa dalam memahami bahwa sebuah karya membutuhkan proses. 
‎
‎Dari tugas menulis, gagasan mereka dikembangkan dan diseleksi sebelum akhirnya menjadi bagian dari buku yang diterbitkan.
‎
‎Para siswa juga mendapat pengalaman bahwa tulisan yang telah dibuat dapat terus dikembangkan dan memiliki kemungkinan untuk dibaca oleh khalayak yang lebih luas.

Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) turut disinggung dalam kegiatan peluncuran tersebut.

Menurut ‎Direktur Kebhayangkaraan, Brigjen Pol M. Arif Sugiarto, penggunaan AI dinilai menjadi bagian dari perkembangan zaman yang sulit diabaikan. 
‎
‎Namun para siswa didorong agar tetap menjadikan pemikiran dan pengalaman pribadi sebagai titik awal dalam proses menulis.
‎
"‎Pesan yang disampaikan adalah siswa sebaiknya terlebih dahulu melihat, berpikir, dan menuangkan gagasannya sendiri sebelum memanfaatkan teknologi AI sebagai alat bantu dalam proses berikutnya," tuturnya.
‎
‎Dengan pendekatan tersebut, lanjut Arif Sugiarto, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti proses berpikir dan kreativitas siswa, melainkan sebagai salah satu alat yang dapat digunakan setelah gagasan utama lahir dari penulis.
‎
‎"Kalau kita menyatakan bagaimana pengaruh AI di zaman sekarang, hampir tidak mungkin kita tidak melirik AI, tetapi seberapa orisinal tulisan kita? Tulis dulu, tuangkan pikiran kita, baru dalam proses selanjutnya melibatkan AI," tambahnya.
‎
‎Peluncuran dua buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian satu proyek. Para siswa didorong untuk terus menghasilkan karya dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai langkah awal untuk berkarya lebih jauh.
‎
‎"Setelah kita mencoba dan berhasil, Insyaallah kita akan memancing karya-karya yang lain, jadi, terus berkarya. Negara ini membutuhkan karya-karya, bukan sekadar orang yang pintar, karya yang bisa dirasakan orang lain," ungkap Arif Sugiarto.
‎
‎Sementara pihak sekolah juga menyampaikan pesan kepada para siswa agar tidak ragu untuk menulis, setiap siswa dinilai memiliki pengalaman dan cerita yang dapat diolah menjadi sebuah karya.
‎
‎"Teruslah berkarya karena setiap dari kalian punya cerita, punya narasi yang menunggu untuk dituliskan. Semua orang layak menulis sesuatu tentang apa yang mereka lihat dan rasakan," imbau pihak sekolah.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
SMA Kemala Taruna Bhayangkara bogor buku gunung Sindur