RADAR BOGOR - Niat belajar, sering kali kalah oleh godaan layar ponsel.
Awalnya hanya ingin mengecek satu notifikasi, tetapi tanpa sadar waktu berlalu hingga berjam-jam karena sibuk menonton video, membuka media sosial, atau sekadar scrolling tanpa tujuan.
Sementara itu, buku yang sejak tadi terbuka masih berada di halaman yang sama.
Kondisi seperti ini, bukan hal yang asing bagi banyak pelajar maupun mahasiswa.
Baca Juga: Menjelajahi Museum Maritim Indonesia yang Dibuka Kembali di Priok
Persoalannya bukan selalu soal malas, melainkan bisa juga karena cara belajar yang digunakan kurang tepat.
Wakil Rektor I Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Dr. Arsyad mengatakan, ada sejumlah cara yang dapat digunakan untuk membuat proses belajar lebih terarah dan efektif.
“Tenang, kamu tidak sendiri. Faktanya, kebanyakan orang belajar dengan cara yang salah,” ujar Arsyad kepada Radar Bogor, Minggu 4 Oktober 2026.
Menurutnya, belajar tidak harus selalu dilakukan berjam-jam. Dengan strategi yang tepat, waktu belajar yang lebih singkat justru dapat dimanfaatkan secara optimal.
1. Batasi Waktu Belajar dengan Parkinson's Law
Pernah mendapat tugas yang sebenarnya bisa selesai dalam waktu singkat, tetapi justru menghabiskan waktu berjam-jam?
Fenomena tersebut, dapat dijelaskan melalui Parkinson's Law.
Prinsip ini menyebutkan bahwa pekerjaan cenderung berkembang mengikuti waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya.
Karena itu, daripada menetapkan target belajar selama tiga jam, coba buat sesi yang lebih singkat dan spesifik.
Misalnya, belajar selama 20 menit dengan konsentrasi penuh.
Gunakan timer dan tentukan target yang jelas.
Baca Juga: Kumpulan Dessert Pistachio di Doku Donat Bogor, Ada Kunafa hingga Mochi Cheesecake
Contohnya, bukan sekadar mengatakan ingin belajar gravitasi, tetapi menargetkan diri untuk memahami konsep gravitasi dan mampu menjelaskannya kembali setelah 20 menit.
Batas waktu yang jelas dapat membantu mengurangi kebiasaan menunda dan membuat perhatian lebih terarah.
2. Terapkan Prinsip 80/20
Kesalahan lain yang sering dilakukan saat belajar adalah berusaha menguasai seluruh materi sekaligus.
Padahal, tidak semua bagian memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Prinsip 80/20 atau Pareto dapat digunakan untuk menentukan materi yang perlu mendapat perhatian lebih besar.
Salah satu caranya adalah melihat soal-soal ujian sebelumnya.
Dari sana, pelajar dapat menemukan pola materi atau tipe pertanyaan yang kerap muncul.
Misalnya dalam matematika, perhatikan jenis soal yang berulang.
Dalam sejarah, prioritaskan peristiwa penting yang sering menjadi bahan pertanyaan.
Sementara dalam pelajaran bahasa, perhatikan pola kalimat dan kosakata yang sering digunakan.
Baca Juga: QJ Motor Torino 250 DX: Motor Adventure Murah dan Fitur Melimpah
Cara lainnya, mengerjakan beberapa soal terlebih dahulu sebelum mulai membaca seluruh materi.
Dengan begitu, pelajar memiliki gambaran mengenai bagian yang benar-benar perlu dipahami.
3. Coba Teknik Feynman
Memahami materi tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalnya.
Salah satu metode yang bisa digunakan adalah teknik Feynman, yakni mencoba menjelaskan kembali suatu konsep menggunakan bahasa sederhana.
Caranya cukup mudah.
Pilih satu topik yang ingin dipelajari, kemudian jelaskan seolah-olah sedang menerangkannya kepada orang yang sama sekali belum memahami materi tersebut.
Jika penjelasan masih terasa rumit atau terdapat bagian yang tidak mampu diterangkan, kemungkinan masih ada konsep yang belum benar-benar dipahami.
Sebagai contoh, ketika mempelajari sistem peredaran darah, seseorang bisa menjelaskan jantung sebagai pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Sementara, pembuluh darah dapat dianalogikan seperti jalur yang membawa oksigen dan nutrisi menuju berbagai bagian tubuh.
Penjelasan dengan bahasa sendiri membuat seseorang tidak sekadar menghafal, tetapi berusaha memahami inti dari materi.
4. Jangan Cuma Membaca, Gunakan Active Recall
Membaca catatan berkali-kali memang terasa seperti sedang belajar.
Namun, cara tersebut belum tentu membuat informasi bertahan lama dalam ingatan.
Arsyad menyarankan, agar proses belajar disertai active recall, yaitu menguji kemampuan diri untuk mengingat kembali materi tanpa melihat catatan.
Caranya, setelah membaca satu bagian materi, tutup buku kemudian coba sebutkan kembali poin-poin penting yang baru dipelajari.
Metode ini juga bisa dilakukan menggunakan kartu belajar atau flashcard.
Pertanyaan ditulis di satu sisi, sedangkan jawabannya berada di sisi lainnya.
Ada pula teknik blurting.
Setelah menyelesaikan satu bab, tuliskan sebanyak mungkin hal yang masih diingat tanpa membuka buku.
Setelah itu, bandingkan dengan materi asli untuk mengetahui bagian mana yang masih terlewat.
Dengan cara tersebut, otak tidak hanya menerima informasi, tetapi aktif berusaha mengambil kembali informasi yang telah dipelajari.
5. Jangan Abaikan Tidur
Belajar sampai larut malam kerap dianggap sebagai cara untuk mengejar materi.
Namun, tubuh dan otak tetap membutuhkan waktu istirahat.
Baca Juga: Melalui Festival Sangitaloka Pemkab Bogor Perkuat Pelestarian Musik Tradisi
Tidur berperan penting dalam proses pemulihan tubuh sekaligus membantu pengolahan informasi yang telah diterima selama beraktivitas.
Karena itu, mengejar waktu belajar dengan mengorbankan tidur bukan strategi yang ideal.
Waktu istirahat yang cukup justru dapat membantu menjaga konsentrasi dan kemampuan mengingat.
“Jangan begadang, karena itu bisa membuat ingatan kacau balau,” kata Arsyad.
6. Sisihkan Waktu untuk Bergerak
Belajar dalam posisi yang sama selama berjam-jam juga dapat membuat tubuh dan pikiran cepat jenuh.
Karena itu, aktivitas fisik sederhana dapat menjadi bagian dari rutinitas belajar.
Tidak harus olahraga berat.
Berjalan kaki selama beberapa menit dapat menjadi jeda untuk menyegarkan tubuh sebelum kembali mempelajari materi.
Kebiasaan tersebut, juga membantu menghindarkan proses belajar dari pola monoton yang membuat konsentrasi semakin menurun.
Belajar Cerdas Bukan Berarti Belajar Lebih Lama
Pada akhirnya, efektivitas belajar bukan semata-mata ditentukan oleh berapa lama seseorang duduk di depan buku.
Ada enam strategi yang dapat dicoba, mulai dari membatasi waktu belajar dengan Parkinson's Law, memilih materi prioritas menggunakan prinsip 80/20, menjelaskan kembali materi melalui teknik Feynman, menguji ingatan dengan active recall, menjaga waktu tidur, hingga menyelipkan aktivitas fisik.
Baca Juga: Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 di Bogor Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM
Arsyad menekankan, belajar seharusnya tidak hanya mengejar durasi, tetapi juga kualitas prosesnya.
Jadi, daripada memaksakan diri belajar berjam-jam sambil sesekali membuka media sosial, tidak ada salahnya mencoba satu metode terlebih dahulu.
Sebab, belajar lebih cerdas bukan berarti harus belajar lebih keras sepanjang hari.
Yang terpenting adalah bagaimana waktu yang tersedia benar-benar digunakan untuk memahami materi. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti