RADAR BOGOR - Belajar tentang budaya negara lain tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau layar digital.
Hal itu dirasakan langsung oleh pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bogor bersama perwakilan siswa pengurus OSIS SMPN 6 Kota Bogor saat mengikuti Korean Day yang digelar Jakarta Indonesia Korean School (JIKS), Jumat (2/10/2026).
Sejak pagi, suasana kegiatan sudah dipenuhi nuansa budaya Korea. Berlangsung pukul 07.00 hingga 13.00 WIB, Korean Day mempertemukan guru dan pelajar Indonesia dengan berbagai seni, tradisi, makanan, serta aktivitas khas Korea Selatan.
Kegiatan diawali dengan upacara dan sambutan Kepala JIKS, Lee Moon Sung.
Baca Juga: Resep Pangsit Rebus dengan Chili Oil dan Kuah Kaldu Ceker
Pelaksanaan acara turut mendapat dukungan Yayasan JIKS, Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia, serta Asosiasi Korea di Indonesia.
Seni Korea hingga Kolaborasi Angklung dan K-Pop
Peserta tidak hanya diajak menyaksikan pertunjukan, tetapi juga melihat bagaimana seni menjadi sarana untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.
Sejumlah siswa JIKS tampil melalui Dokdo Flashmob, Buchae Dance, dan Kkokttugaksi Dance.
Sementara Seolbuk Dance dibawakan oleh Team K-Art Studio.
Nuansa kolaborasi Indonesia dan Korea juga terlihat dalam Folk Song-K-Pop Angklung Performance dari Rumah Angklung.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan penampilan K-Pop dari Fromis_6 atau JIKS Dance Team dan Team JERA CREW.
Suasana semakin meriah melalui Taegeukgi Magic Show yang dibawakan Team HAPPY.
Rangkaian pertunjukan tersebut menjadi pembuka sebelum peserta diajak mengenal budaya Korea secara lebih dekat melalui berbagai kegiatan interaktif.
Siswa Tak Hanya Menonton, tetapi Mencoba Langsung
Setelah rangkaian acara di auditorium selesai, peserta dapat mengunjungi sejumlah cultural corner yang dirancang sebagai ruang belajar berbasis pengalaman.
Baca Juga: PKH BPNT Cair 5 Oktober 2026, Tahap 3 Susulan Masih Berlangsung
Di lokasi tersebut, peserta bisa mencoba pakaian tradisional Korea, memainkan alat musik tradisional, membuat pancake bunga, mengolah tteok atau kue beras, hingga mempraktikkan pembuatan kimchi.
Berbagai aktivitas lain juga tersedia, seperti mengenal kaligrafi Korea dan tenun sutera, mencoba permainan mencuci di sungai, menaiki tandu, mengunjungi rumah es, membuat kartu pos, hingga menyelesaikan puzzle.
Peserta juga diajak merasakan sejumlah aktivitas yang menggambarkan kehidupan dan tradisi Korea, mulai dari seluncur es, memanen sayuran musim panas, mengenal rumah tradisional, hingga melihat prosesi pengantin tradisional.
Pengalaman semakin lengkap dengan kesempatan mencicipi bibimbap serta berbagai makanan dan minuman tradisional Korea.
Peserta juga dapat mengikuti aktivitas yang berkaitan dengan Pulau Dokdo.
Bagi siswa SMPN 6 Kota Bogor, pengalaman tersebut menghadirkan bentuk pembelajaran yang berbeda.
Mereka tidak sekadar memperoleh informasi mengenai budaya Korea, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan berbagai unsur kebudayaan tersebut.
Pengalaman Budaya Perlu Dihadirkan dalam Pembelajaran
Ketua IGI Kota Bogor sekaligus guru matematika SMPN 6 Kota Bogor, Siti Amalia, menilai Korean Day memberikan pengalaman berharga bagi guru maupun siswa.
Menurutnya, interaksi langsung dengan budaya negara lain dapat membantu siswa memperluas cara pandang terhadap keberagaman dunia.
“Korean Day menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga bagi guru maupun siswa. Kami tidak hanya melihat pertunjukan seni, tetapi juga berkesempatan mengenal budaya Korea secara langsung melalui berbagai aktivitas, mulai dari mencoba pakaian tradisional, membuat kimchi dan tteok, mengenal alat musik, hingga mencicipi makanan tradisional,” ujar Siti Amalia.
Ia mengatakan pengalaman tersebut juga mengajarkan siswa bahwa perbedaan budaya bukan sesuatu yang harus dijauhkan, melainkan dapat menjadi sumber pengetahuan.
“Pengalaman seperti ini memperluas wawasan global siswa dan mengajarkan bahwa keberagaman budaya merupakan kekayaan yang perlu dihargai,” katanya.
Siti juga melihat kegiatan lintas budaya memiliki kaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.
Bahkan, aktivitas semacam Korean Day dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual bagi siswa.
“Sebagai guru matematika, saya melihat kegiatan seperti ini juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang kontekstual. Siswa belajar mengamati, bertanya, berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami budaya lain,” tuturnya.
Menurut dia, pengalaman tersebut sejalan dengan upaya membangun karakter siswa agar mampu beradaptasi di tengah masyarakat global.
“Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan penguatan karakter dan kemampuan siswa untuk menjadi warga dunia yang terbuka, toleran, dan mampu berinteraksi dengan masyarakat global,” tambah Siti.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga tidak hanya menjadi agenda pertukaran budaya, tetapi juga menjadi ruang membangun persahabatan antara generasi muda Indonesia dan Korea.
“Kami mengapresiasi JIKS yang telah membuka ruang persahabatan dan pertukaran budaya. Semoga kegiatan seperti Korean Day dapat terus menjadi jembatan yang mempererat hubungan Indonesia dan Korea, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi generasi muda,” ujarnya.
Rasanya Seperti Belajar Langsung
Pengalaman mengikuti Korean Day juga dirasakan langsung oleh Ketua OSIS SMPN 6 Kota Bogor, M. Keifaro.
Ia mengaku, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda karena peserta memiliki kesempatan mencoba berbagai aktivitas budaya yang selama ini lebih sering dikenalnya melalui internet.
“Menurut saya, Korean Day sangat seru karena kami bisa melihat dan mencoba langsung berbagai hal yang sebelumnya hanya kami lihat melalui internet. Saya paling tertarik ketika mencoba aktivitas budaya Korea, seperti pakaian tradisional, membuat makanan, dan mengenal alat musik tradisional,” ungkap Keifaro.
Menurutnya, kegiatan tersebut membuat dirinya dan teman-temannya semakin memahami pentingnya menghormati perbedaan budaya.
Baca Juga: Bikin Deg-degan, Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
“Kegiatan ini membuat saya sadar bahwa setiap negara mempunyai budaya yang unik. Kami bisa mengenal budaya Korea tanpa harus meninggalkan budaya Indonesia. Justru dari perbedaan itu kami bisa belajar untuk saling menghargai dan lebih terbuka terhadap budaya lain,” katanya.
Keifaro menilai pengalaman paling berkesan adalah ketika peserta diberi kesempatan terlibat langsung, bukan hanya menyaksikan pertunjukan.
“Bagi saya dan teman-teman OSIS SMPN 6 Kota Bogor, pengalaman ini sangat berkesan. Kami bukan hanya datang sebagai penonton, tetapi benar-benar ikut belajar dan berinteraksi,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan yang mempertemukan pelajar dari Indonesia dengan negara lain dapat semakin banyak digelar.
“Semoga ke depan ada lebih banyak kegiatan seperti ini yang mempertemukan pelajar Indonesia dengan pelajar dari negara lain,” tambahnya.
Menumbuhkan Wawasan Global dari Pengalaman Nyata
Keterlibatan IGI Kota Bogor dan siswa SMPN 6 Kota Bogor dalam Korean Day menunjukkan, pendidikan keberagaman dapat dibangun melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa.
Seni, makanan, bahasa, permainan, tradisi, dan interaksi menjadi media pembelajaran yang memungkinkan siswa mengenal budaya lain secara lebih nyata.
Pengalaman tersebut juga dapat menjadi bagian dari penguatan global citizenship, terutama dalam membangun kemampuan berkomunikasi lintas budaya, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Bagi IGI Kota Bogor dan SMPN 6 Kota Bogor, Korean Day akhirnya tidak berhenti sebagai agenda kebudayaan.
Kegiatan itu menjadi pengalaman pendidikan yang mempertemukan rasa ingin tahu siswa dengan dunia yang lebih luas. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti