Bahasa Inggris Wajib 2027, Ini 5 Kebijakan Prioritas Kemendikdasmen

Ira Yulia Erfina • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 09:27 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mut’i dalam acara KONASPI XII beberapa waktu lalu (Youtube Universitas Pendidikan Ganesha)
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mut’i dalam acara KONASPI XII beberapa waktu lalu (Youtube Universitas Pendidikan Ganesha)

RADAR BOGOR - Melalui forum KONASPI XII, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menguraikan lima agenda utama kebijakan pendidikan di bawah kementeriannya. Kebijakan tersebut meliputi pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan pendidikan karakter, pengembangan STEM, bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, serta pengenalan coding dan kecerdasan buatan (AI).

Melansir dari kanal Youtube Universitas Pendidikan Ganesha pada Jumat, 9 Oktober 2026, kelima kebijakan ini mencakup perubahan pendekatan belajar, pendampingan murid, hingga pengenalan keterampilan teknologi. Salah satu rencana yang disampaikan adalah pemberlakuan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.

Baca Juga: Review VW Golf Mk5 GTI Bekas: Harga Rp170 Jutaan tapi Ada Risiko yang Wajib Diwaspadai

Berikut rincian lima kebijakan prioritas Kemendikdasmen yang disampaikan Abdul Mu’ti dalam acara tersebut.

1. Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning

Pembelajaran mendalam menjadi salah satu kebijakan untuk mengatasi persoalan schooling without learning, yaitu kondisi ketika murid mengikuti kegiatan sekolah, tetapi belum memahami materi secara optimal.

Kebijakan ini juga menyoroti tantangan rentang perhatian (attention span) murid selama pembelajaran di kelas. Proses belajar diarahkan agar tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna.

Baca Juga: Curug Kiara Pamijahan Bogor: Rute, Tiket, dan 3 Curug di Sekitarnya

2. Penguatan Pendidikan Karakter melalui Bimbingan Konseling

Pengembangan karakter murid menjadi salah satu fokus Kemendikdasmen, dengan bimbingan konseling sebagai sarana pendampingan yang mengutamakan pendekatan lebih manusiawi. Dalam kebijakan ini, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi pendampingan sesuai kebutuhan murid.

Peran guru tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi juga mendukung perkembangan karakter murid melalui komunikasi dan pembinaan di lingkungan sekolah.

3. Pengembangan STEM dengan Pendekatan 5M

Pengembangan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi kebijakan berikutnya yang mencakup bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Baca Juga: Warga Jabar Tanpa BPJS Bisa Berobat Gratis, Ini Syaratnya

Abdul Mu’ti menjelaskan pendekatan STEM 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Pendekatan ini diarahkan agar pembelajaran sains dan matematika lebih mudah dipahami serta tidak dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan oleh murid.

Penerapan STEM juga berkaitan dengan tindak lanjut arahan Presiden mengenai pengembangan bidang sains dan matematika.

4. Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD pada 2027/2028

Kemendikdasmen merencanakan penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.

Baca Juga: Saldo KKS Masuk Awal Oktober, KPM PKH BPNT Perlu Cek Periode Bansos

Materi pembelajaran akan berfokus pada keterampilan dasar (basic skills) dengan pendekatan komunikatif dan menyenangkan. Untuk mendukung pelaksanaannya, guru kelas akan mendapatkan pelatihan agar dapat mengajarkan keterampilan dasar bahasa Inggris kepada murid.

“Yang keempat adalah peningkatan kualitas bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan yang akan kita tetapkan sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD. Kami sedang menyiapkan perangkat ajar, kurikulum, dan tentu saja guru-guru yang akan mengampu mata pelajaran bahasa Inggris tersebut,” ujar Menteri Abdul Mut’i dalam paparannya di acara KONASPI XII.

5. Coding dan AI Dapat Diajarkan Mulai Kelas 5 SD

Kemendikdasmen juga menetapkan kebijakan pengenalan coding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) mulai kelas 5 SD hingga jenjang SLTA.

Baca Juga: Honda City Type Z, Sedan Murah Sporty yang Masih Layak Dilirik

Coding berkaitan dengan penyusunan instruksi untuk menjalankan program komputer, sedangkan AI merupakan teknologi yang memungkinkan sistem melakukan tugas tertentu menggunakan metode komputasi.

“Yang kelima adalah penguatan pendidikan coding dan AI untuk tingkat sekolah dasar kelas 5 dan 6 serta tingkat menengah. Ini adalah bagian dari upaya kita agar anak-anak kita melek teknologi dan siap menghadapi tantangan masa depan,” lanjut Menteri Dikdasmen.

Pengenalan kedua bidang ini diarahkan untuk membekali murid dengan pengetahuan dasar teknologi. Materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan kemampuan murid agar dapat dipelajari secara bertahap.

Lima Kebijakan Prioritas Pendidikan

Lima kebijakan yang dipaparkan Menteri Abdul Mu’ti dalam KONASPI XII mencakup pembaruan proses pembelajaran, pembentukan karakter, pengembangan sains dan matematika, penguatan kemampuan bahasa Inggris, serta pengenalan teknologi digital.

Baca Juga: Daihatsu Sirion Generasi Ketiga: City Car Irit dengan Kabin Lega

Penerapan bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib dijadwalkan mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028. Adapun materi coding dan kecerdasan buatan bisa diberikan kepada murid sejak kelas 5 SD hingga tingkat SLTA.

Pelaksanaan kebijakan tersebut berkaitan dengan kesiapan guru dan penyesuaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid di setiap jenjang pendidikan.***

Editor : Ira Yulia Erfina
Sumber : Youtube Universitas Pendidikan Ganesha
lima agenda utama kebijakan pendidikan deep learning mendikdasmen abdul mu'ti