RADAR BOGOR - Kenapa sebagian anak tumbuh dengan kebiasaan belajar yang kuat, disiplin, dan memiliki target akademik sejak usia dini?
Jawabannya, tidak selalu terletak pada sekolah favorit, guru yang tegas, atau fasilitas pendidikan mahal.
Dalam banyak kasus, kebiasaan tersebut justru mulai terbentuk dari lingkungan paling dekat dengan anak, yakni keluarga.
Di sejumlah keluarga berlatar budaya Asia Timur, pendidikan kerap dipandang sebagai investasi jangka panjang yang dapat mengubah masa depan.
Baca Juga: Jelang Duel Panas Kontra PSG, Barcelona Kehilangan 3 Bek, Rodri Jadi Solusi?
Anak tidak hanya didorong untuk meraih nilai tinggi, tetapi juga dibiasakan menghargai ilmu, mengatur waktu, dan memahami pentingnya pendidikan bagi kehidupan mereka kelak.
Wakil Rektor I Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Dr. Arsyad, menyoroti peran keluarga dalam membentuk etos belajar anak.
Lingkungan rumah, kata Arsyad, menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal kedisiplinan, tanggung jawab, dan harapan terhadap pendidikan.
Pola tersebut menarik untuk dipelajari, terutama bagi orang tua yang ingin membangun kebiasaan belajar positif di rumah.
Namun, ada hal yang tidak kalah penting yakni disiplin perlu berjalan beriringan dengan kesehatan mental, kebebasan berpikir, dan kebahagiaan anak.
Lantas, kebiasaan apa saja yang dapat membentuk budaya belajar yang kuat?
Ada 4 prinsip yang bisa menjadi bahan refleksi bagi keluarga.
1. Pendidikan Dipandang sebagai Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
Bagi keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas, sekolah bukan sekadar tempat untuk mendapatkan ijazah.
Pendidikan dipandang sebagai salah satu cara untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan taraf hidup, dan membuka peluang mobilitas sosial.
Cara pandang ini, memiliki akar sejarah yang panjang di sejumlah masyarakat Asia Timur.
Baca Juga: Resep Pindang Ikan Nila Pedas Asam Segar, Cocok untuk Menu Makan Siang
Pada masa kekaisaran di Tiongkok, misalnya, sistem ujian pegawai negara atau keju menjadi salah satu jalur untuk memperoleh jabatan pemerintahan.
Sistem tersebut, berkembang selama berabad-abad dan memberikan peluang bagi sebagian orang untuk meningkatkan kedudukan sosial melalui pencapaian akademik.
Tradisi itu tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab etos belajar masyarakat masa kini.
Meski demikian, sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan pernah menjadi sarana penting untuk memperoleh kedudukan dan pengakuan sosial.
Dalam kehidupan keluarga modern, pandangan serupa dapat tercermin dari keputusan orang tua mengalokasikan penghasilan untuk biaya sekolah, buku, kursus, hingga bimbingan belajar.
Sebagian orang tua, bahkan rela menunda kebutuhan pribadi demi memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik kepada anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini, dapat memahami bahwa belajar bukan hanya kewajiban harian, melainkan bagian dari persiapan untuk membangun masa depan.
Meski begitu, pendidikan bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan.
Keterampilan praktis, kreativitas, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi juga berperan penting.
Karena itu, prestasi akademik idealnya menjadi fondasi untuk berkembang, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak.
2. Prestasi Anak Kerap Dikaitkan dengan Bakti kepada Orang Tua
Di sejumlah keluarga yang dipengaruhi nilai Konfusianisme, penghormatan kepada orang tua menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter.
Nilai ini dikenal luas sebagai filial piety, yakni sikap bakti, hormat, dan tanggung jawab anak terhadap orang tua.
Dalam konteks pendidikan, nilai tersebut dapat mendorong anak untuk belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan keluarga.
Keberhasilan akademik dipandang bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai kebanggaan bagi orang-orang yang telah mendukung perjalanan mereka.
Bayangkan seorang anak yang berhasil meraih beasiswa di perguruan tinggi.
Kebahagiaan yang muncul bukan hanya dirasakan oleh anak tersebut, melainkan juga oleh orang tua dan keluarga besar yang selama ini memberikan dukungan.
Namun, hubungan antara prestasi dan bakti juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan.
Ketika nilai rapor menjadi ukuran utama keberhasilan anak, kegagalan akademik dapat terasa jauh lebih berat daripada sekadar hasil ujian yang kurang memuaskan.
Anak mungkin merasa telah mengecewakan orang tua, bahkan menganggap dirinya tidak cukup baik.
Situasi ini berpotensi menimbulkan kecemasan, rasa takut gagal, dan tekanan emosional, terutama jika anak terus-menerus dibandingkan dengan saudara atau teman sebaya.
Karena itu, orang tua perlu membedakan antara mendorong anak agar bertanggung jawab dan membuat anak merasa bahwa kasih sayang hanya diberikan ketika mereka berprestasi.
Anak tetap membutuhkan penghargaan atas proses, keberanian mencoba, serta kemauan memperbaiki kesalahan.
Nilai akademik penting, tetapi tidak seharusnya menjadi penentu harga diri seorang anak.
3. Menghormati Guru, Tanpa Mematikan Sikap Kritis
Kebiasaan berikutnya berkaitan dengan penghormatan terhadap guru dan proses pendidikan.
Dalam tradisi yang dipengaruhi ajaran Konfusius, pendidik memiliki kedudukan penting karena berperan dalam menyampaikan pengetahuan sekaligus membentuk karakter.
Ketika nilai tersebut diterapkan di rumah, anak dibiasakan mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas dengan tanggung jawab, dan bersikap sopan selama kegiatan belajar.
Dukungan orang tua terhadap sekolah juga dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih baik antara keluarga dan pendidik.
Jika muncul persoalan akademik atau perilaku, komunikasi yang terbuka memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk mencari penyelesaian bersama.
Meski demikian, menghormati guru tidak berarti menerima semua tindakan tanpa pertanyaan.
Guru tetap manusia yang dapat melakukan kekeliruan, sementara anak memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan memperoleh perlindungan.
Pendidikan yang baik seharusnya mengajarkan dua hal sekaligus, kata Arsyad, menghargai pengetahuan dan berani menguji pemahaman.
"Anak perlu mengetahui cara bertanya dengan sopan, menyampaikan ketidaksetujuan berdasarkan alasan, serta mencari bukti ketika menemukan informasi yang meragukan," jelas Arsyad kepada Radar Bogor, Senin 19 Oktober 2026.
Dengan pendekatan tersebut, rasa hormat tidak berubah menjadi kepatuhan buta.
Sebaliknya, hubungan yang sehat antara guru, orang tua, dan siswa dapat mendukung terbentuknya karakter yang disiplin sekaligus kritis.
4. Jadwal Belajar Teratur Membentuk Disiplin Sejak Dini
Prinsip terakhir adalah pengelolaan waktu.
Dalam keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas, rutinitas harian biasanya disusun agar anak memiliki waktu khusus untuk belajar, beristirahat, bermain, dan menjalankan kegiatan lainnya.
Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa pekerjaan memiliki waktu penyelesaian dan tujuan jangka panjang membutuhkan usaha yang konsisten.
Rutinitas sederhana, seperti mengulang pelajaran setelah pulang sekolah, menyiapkan perlengkapan belajar pada malam hari, atau menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum bermain, dapat membantu membangun tanggung jawab secara bertahap.
Di beberapa wilayah Asia Timur, persaingan masuk perguruan tinggi juga membuat persiapan akademik menjadi sangat intensif.
Di Korea Selatan, ujian masuk perguruan tinggi dikenal sebagai Suneung.
Sedangkan di Tiongkok terdapat Gaokao, ujian nasional yang berperan besar dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Tingginya persaingan tersebut membuat sebagian siswa mengikuti kegiatan belajar tambahan di luar jam sekolah.
Namun, intensitas belajar berbeda-beda menurut sekolah, daerah, keluarga, dan kondisi setiap anak. Tidak semua siswa menjalani jadwal yang sama.
Di sinilah keseimbangan menjadi penting.
Jadwal yang terstruktur memang dapat membantu anak mengembangkan konsistensi, tetapi waktu istirahat dan bermain bukanlah kegiatan yang tidak berguna.
Anak juga membutuhkan tidur yang cukup, aktivitas fisik, interaksi sosial, serta kesempatan mengeksplorasi minat di luar pelajaran sekolah.
Kebutuhan tersebut merupakan bagian dari tumbuh kembang yang sehat.
Disiplin yang baik bukan berarti memenuhi seluruh waktu dengan kegiatan produktif.
Disiplin juga berarti mengetahui kapan harus berhenti, beristirahat, dan memulihkan energi.
Pelajaran Penting bagi Orang Tua di Indonesia
4 prinsip tersebut, memperlihatkan bahwa budaya belajar tidak terbentuk hanya melalui aturan sekolah.
Kebiasaan di rumah, cara orang tua memandang pendidikan, hubungan dengan guru, serta pengelolaan waktu turut memengaruhi pengalaman belajar anak.
Namun, tidak tepat jika seluruh keluarga dari satu kelompok etnis dianggap memiliki pola asuh yang sama.
Perbedaan kondisi ekonomi, lingkungan sosial, pendidikan orang tua, dan karakter individu membuat pengalaman setiap keluarga bisa sangat beragam.
Karena itu, pelajaran yang relevan bukanlah meniru suatu budaya secara keseluruhan, melainkan memilih kebiasaan yang bermanfaat dan menyesuaikannya dengan kebutuhan anak.
Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan waktu belajar yang konsisten, membangun komunikasi terbuka mengenai kesulitan akademik, menghargai proses belajar, dan memberikan contoh nyata tentang kebiasaan membaca serta rasa ingin tahu.
Kerja sama dengan guru juga perlu dibangun tanpa menghilangkan hak anak untuk menyampaikan pendapat.
Ketika anak mengalami kesulitan, pendekatan yang mengutamakan dialog dan pencarian solusi biasanya lebih konstruktif daripada langsung menyalahkan salah satu pihak.
Yang tidak kalah penting, keberhasilan anak perlu dipahami secara lebih luas.
Nilai rapor memang dapat menunjukkan sebagian kemampuan akademik, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan kreativitas, ketekunan, empati, kemampuan memecahkan masalah, maupun potensi yang belum berkembang.
Disiplin dan Kebahagiaan Anak Harus Berjalan Beriringan
Pada akhirnya, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara anak memandang pendidikan.
Keyakinan bahwa belajar dapat membuka peluang, penghargaan terhadap guru, tanggung jawab, dan rutinitas yang teratur merupakan kebiasaan yang dapat dikembangkan di berbagai lingkungan keluarga.
Namun, semua itu perlu diterapkan tanpa menjadikan prestasi sebagai syarat untuk memperoleh kasih sayang.
"Anak harus memiliki kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan menemukan bidang yang sesuai dengan kemampuannya," tutur Arsyad kepada Radar Bogor.
Disiplin seharusnya membantu anak tumbuh mandiri, sambung dia, bukan membuat mereka hidup dalam ketakutan terhadap kegagalan.
Begitu pula harapan orang tua perlu menjadi sumber dukungan, bukan beban yang menghilangkan ruang bagi anak untuk berkembang.
Pendidikan yang kuat bukan semata-mata tentang mencetak anak dengan nilai tertinggi.
Lebih dari itu, pendidikan bertujuan membentuk individu yang berpengetahuan, mampu berpikir kritis, memiliki karakter baik, dan dapat menjalani kehidupan secara sehat.
Baca Juga: Rayan Sabet Juara 1 Bogor Tarung Championship 2026, Harumkan SMA Kosgoro
Pertanyaan yang layak direnungkan setiap orang tua bukan hanya seberapa tinggi nilai yang berhasil diraih anak, melainkan juga kebiasaan apa yang sedang dibangun di rumah dan apakah anak merasa didukung dalam prosesnya.
Sebab, masa depan yang baik tidak hanya dibentuk oleh seberapa keras anak belajar, tetapi juga oleh bagaimana keluarga mendampingi mereka tumbuh. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti