RADAR BOGOR - Banyak pihak cemburu dengan popularitas Dokter Rayendra yang terus meningkat menuju kontestasi pemilihan walikota Bogor 2024.
Ada sejumlah postingan di media sosial yang dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berbagai tuduhan yang tidak masuk akal terhadap Dokter Rayendra.
Dokter Rayendra adalah salah satu calon kuat yang bersiap untuk menjadi kandidat utama dalam tahapan pemilihan walikota Bogor 2024.
Pria bernama lengkap Raendi Rayendra ini menjadi korban fitnah dan pendzoliman selama bertahun-tahun. Dokter Rayendra benar-benar mengalaminya.
"Fitnah berawal dari para pembenci yang mengabarkan berita bohong. Lalu disebarkan pera pecundang yang culas. Senyumin aja…,’’ kata Firdaus, Relawan Dokter Rayendra.
Menurut survei yang dilakukan oleh Indikator dan Lembaga Studi Visi Nusantara, Dokter Rayendra saat ini memiliki elektabilitas di atas 20%.
Figur Sementara Dedie Rachim masih berada di posisi pertama, banyak pengamat memperkirakan bahwa Dedie Rachim akan segera tersalip oleh Dokter Rayendra.
"Sangat mungkin Dokter Rayendra bisa menyalip dominasi elektabilitas Dedie A Rachim dalam waktu yang tidak begitu lama," kata Pengamat politik dan kebijakan publik Yusfitriadi dari Visi Nusantara Maju.
Menurut survei Vinus yang dilakukan pada Kamis, 20 Juni 2024, elektabilitas Dedie A Rachim tercatat sebesar 27,00%, sementara Petahana hanya tertinggal tipis dari Dokter Rayendra dengan 22,75%, atau selisih 4,25%.
Sementara elektabilitas calon walikota Bogor lainnya hasil survei adalah Sendi Fardiansyah (11,00%), Aji Jaya Bintara (8,38%), Atang Trisnanto (4,75%), Rusly Prihatevy (4,50%), Eka Maulana (4,38%), Jenal Mutaqin (2,62%), dan Deni Mulyadi (2,62%).
Survei kedua ini mengamati dinamika elektabilitas kandidat untuk Pikada 2024 di Kota Bogor.
Selain itu, Dokter Rayendra menjadi satu-satunya calon yang hampir memiliki kesempatan untuk maju dalam kontestasi pilkada ini.
"Banyak yang terkejut dengan kerja-kerja ke masyarakat ala Dokter Rayendra. Inilah mengapa banyak pihak yang membabi-buta melakukan pendzaliman pada Dokter Rayendra," katanya.
Firdaus menyatakan bahwa penyebaran informasi palsu atau hoaks selama pilkada memiliki efek yang signifikan.
Karena fakta bahwa informasi yang tidak benar dapat merusak reputasi seseorang atau partai politik, penyebaran informasi yang tidak benar tentang sifat, moral, atau kemampuan kandidat bertujuan untuk menimbulkan keraguan di kalangan pemilih.
"Informasi palsu dapat mempengaruhi persepsi pemilih terhadap kebijakan dan kandidat. Penyebaran hoaks dapat menciptakan ketidakstabilan dan ketegangan di masyarakat," ujar Firdaus.
Selain itu, relawan Dokter Rayendra
berharap masyarakat Kota Bogor tidak mudah terpengaruh oleh masalah negatif.
Selain itu, Dokter Rayendra memiliki reputasi yang baik di Kota Bogor dan mudah diterima oleh masyarakat.
"Penting bagi kita untuk berhati-hati dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Dengan memahami dampak negatif, kita dapat menjaga proses pemilihan yang lebih sehat dan berintegritas," pungkasnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin