SEJAK Airlangga mengajak beberapa rekan parpol membentuk KIB alias Koalisi Indonesia Bersatu, sebenarnya sudah banyak pihak menduga bahwa KIB adalah perahu yang akan dipakai penguasa untuk meneruskan legacy-nya.
Tepat sekali dugaan itu karena pimpinan parpolnya adalah para menteri kabinet sang penguasa termasuk Airlangga.
Sempat ada harapan di Partai Golkar bahwa sang Ketumnya Airlangga Hartarto minimal bisa dapat jatah Wapres.
Jika dibandingkan dengan rekannya dari PPP dan PAN. Senyum lebar dan gimik busung dada sering ditangkap kilauan kamera wartawan jika Airlangga bicara soal KIB.
Oligarki politik tahap pertama sempat dirasakan Airlangga dengan bangga bahwa kelak akan jadi Wapres. Ternyata meleset. Golkar tentu saja kecewa.
Awan tebal mulai menaungi pohon beringin, lambang Partai Golkar,ketika oligarki yang lebih gemuk terbentuk.
Tidak puas dengan KIB...sang penguasa berhasil menggaet Gerindra dan Demokrat dalam kapal yang lebih besar bernama Koalisi Indonesia Maju atau KIM.
Dalam kapal KIM inilah Airlangga dan Golkar mulai ditenggelamkan secara perlahan oleh diplomasi 'tukang kayu' dan 'penunggang kuda'. Silahkan pembaca berasosiasi sendiri .
Setelah Prabowo dan Gibran terpilih, muncullah kiat licik penguasa yang menjurus ke tindakan fantastis tak beretika dan menghebohkan ketika para calon gubernur atau bupati mesti dalam satu perahu KIM yang diinginkan penguasa.
Anehnya Airlangga dan pembisiknya tidak sadar bahwa jebakan oligarki politik ini sudah makin memborgol ruang demokrasi dan kaderisasi internal Golkar.
Airlangga benar benar dibodohi oleh para penjilat disekitarnya yang sangat jelas kelihatan haus kekuasaan membabi buta.
Jebakan oligarki yang diciptakan kekuasaan membuat kecemasan luar biasa di lubuk hati kader Golkar.
Satu persatu kader terbaik yang berhak mencalonkan diri menjadi kepala daerah melalui partainya sendiri mesti menguburkan impiannya demi gerbong oligarki bernama KIM.
Jika mau lebih kritis, KIM lebih mementingkan politik dinasti yang tidak beretika tetapi dengan kulit setebal kulit badak dan setajam kuku harimau menerkam korbannya. Silahkan memahami sendiri soal dinasti yang saya sebut di atas.
Airlangga coba menjadi dirigen oligarki yang dikehendaki penguasa namun gagal total karena Airlangga tidak memiliki anggota paduan suara yang bernyanyi untuknya tetapi untuk penguasa.
Memang ada penyanyi di orkestra yang dipimpin Airlangga di Golkar bersuara merdu dan nyaring untuknya.
Namun, mereka bukanlah penyanyi terbaik untuk pendengar orkestra rakyat. Mereka hanyalah oportunis kambuhan yang mengintai belaskasih penguasa.
Hasilnya tragis bagi Airlangga. Kapal besar bernama KIM bukan untuknya. Dia bukanlah nahkodanya dan untuk pelepas tali sandar kapal pun di pelabuhan bernama IKN tidak untuk Airlangga.
Gelagat hirukpikuk dalam pilkada 2024 menambah koreng dan coretan dalam karir politik Airlangga. Dia dicap seperti burung beo yang hanya bisa meniru apa yang dikehendaki penguasa.
Bukan Airlangga sendirian menjadi korban namun banyak kader Golkar merasa terpental dari orbit karir politik hanya demi memuaskan nafsu oknum oligarkis yang mengedepankan politik dinasti.
Indikasi pemasungan lewat Kasus hukum
Oligarki politik yang awalnya diimpikan Airlangga membawanya ke pelabuhan kekuasaan yang lebih luas, toh ternyata hanya seumur jagung. Senyum lebarnya berganti total dengan tatapan mata kosong ketika membacakan surat pengunduran dirinya.
Oligarki memang sangat kental dengan konspirasi. Bisa jadi konspirasi kali ini mengorbankan ketum parpol pemenang kedua Pemilu 2024 lalu bernama Golkar.
Konspirasi memang selalu bermakna negatif. Apakah konspirasi hukum agar menjerat dan memasung Airlangga agar tidak berkutik ketika dieksekusi penguasa dari kursi empuk kekuasaan yang sama sama pernah mereka nikmati. Kita lihat beberapa pekan ke depan.
Sebenarnya kalau Airlangga sedikit was was, dia bisa bertanya mengapa sebelum deklarasi Golkar terkait capres cawapres 2024 lalu, dia dan salah satu menteri dipanggil ke Gedung Bundar Kejaksaan Agung.
Mungkin bisikan manis dan madu kekuasaan yang dirasakannya membuat akal sehatnya terkunci. Kita pasti terperangah ketika wapres terpilih 2024 ini yang sebelumnya tak tau rimbanya dan tak ada kaitan apa apa dengan Golkar, tiba tiba muncul pertama kali di DPP Golkar dan langsung di deklarasikan sebagai cawapres.
Inilah borgol ketiga yang mungkin sudah dirasakan Airlangga. Tapi dia tidak ada pilihan lain dalam konspirasi hukum seperti itu.
Akhirnya Airlangga sadar bahwa cepat atau lambat, kain sutra oligarki politik yang sempat dia pakai begitu nyaman berubah menjadi mantel besi yang sangat panas.
Airlangga tidak dapat lepas lagi dari cengkraman maha kuat sang penguasa. Dia harus menuai padi yang tak ada gabahnya.
Sawah partai Golkar yang kelihatan menguning dengan bulir padi, namun kosong, tak ada isi. Tak ada gunanya di mata oligarki.
Airlangga tak akan menikmati masa awal kebahagiaan memasuki Istana IKN dengan senyum lebarnya, namun dengan senyum pahit.
Lebih pahit lagi, setelah dia memuluskan oknum dalam simfoni politik dinasti dan mengorbankan kadernya sendiri berkedok apapun namanya. (***)
Penulis : Justino Djogo,MA.MBA
Direktur Eksekutif Forum Dialog Nusantara/FDN, Balitbang DPP Golkar
Editor : Yosep Awaludin