RADAR BOGOR – Langkah Anies Baswedan membangun partai baru dinilai akan menambah keragaman warna politik di Indonesia.
Namun, tidak lantas berarti bakal menggerus suara partai yang sudah eksis.
Terutama mereka yang sebelumnya tergabung dalam koalisi pengusung mantan gubernur Jakarta itu sebagai kandidat di Pemilihan Umum Presiden 2024.
Pengamat politik, Ujang Komarudin memperkirakan partai baru yang akan dibangun Anies tak menjadi ancaman berarti bagi partai-partai lain.
Sebab, berkaca pada Partai Gelora yang didirikan Anis Matta dan Fahri Hamzah, partai baru tak sepenuhnya menggerus suara partai-partai besar.
Partai Gelora didirikan Anis-Fahri pada Oktober 2019. Keduanya merupakan mantan kader PKS.
Bahkan, Anis merupakan mantan presiden PKS.
Lahirnya Partai Gelora sebagai pecahan PKS awalnya diprediksi menggerus suara PKS.
”Tapi, suara PKS malah naik (di Pemilu 2024, Red),” kata Ujang kepada Jawa Pos.
Pada Pemilu 2019, perolehan suara PKS sebesar 11,49 juta suara atau 8,21 persen dari jumlah suara nasional.
Sementara pada 2024, PKS meraih 12,78 suara atau 8,42 persen dari jumlah suara nasional.
Begitu pula dari jumlah kursi di DPR, PKS mengunci 53 kursi di pemilu tahun ini atau naik tiga kursi dibandingkan Pemilu 2019.
Ujang menyatakan, langkah Anies Baswedan membangun partai baru juga tidak lantas membuat kader-kader partai besar bermigrasi secara besar-besaran.
Khusus PKS, Ujang menyebut partai tersebut cenderung punya kader yang jelas dan terdoktrin untuk memilih PKS.
Apalagi, Anies Baswedan bukanlah kader PKS kendati identik dengan PKS.
Meski begitu, Ujang menilai keputusan Anies Baswedan akan mendirikan partai baru merupakan langkah yang positif.
Apalagi, keputusan itu lahir dari kekecewaan Anies Baswedan terhadap partai-partai yang eksis saat ini.
Di sisi lain, Anies Baswedan kembali pada rutinitas berolahraga di kawasan car free day (CFD) Sudirman-Thamrin, Jakarta.
Mantan gubernur DKI Jakarta itu pun sempat bertemu Pramono Anung dan Rano Karno yang kebetulan juga berolahraga di tempat yang sama.
Pada dinamika pilgub Jakarta, Anies Baswedan semula yang dijagokan bakal diusung PDI Perjuangan (PDIP) berduet dengan Rano karno.
Tapi, pada detik-detik terakhir, diduga karena tekanan eksternal, PDIP memilih mengusung Pramono dan Rano tetap jadi pendamping.
Anies Baswedan juga nyaris diusung PDIP di pilgub Jawa Barat.
Tapi, Ketua DPD DPIP Jabar Ono Surono menyebut adanya peran ”Mulyono dan the gank” menyebabkan rencana itu batal terwujud.
Kubu Anies Baswedan mengatakan, mantan rektor Universitas Paramadina itu mundur karena tidak adanya aspirasi rakyat, hanya keinginan partai.
Meski begitu, Anies Baswedan meminta agenda CFD tidak dikaitkan dengan politik. (tyo/c19/ttg)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim