Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita Rena Da Frina Soal Cawe-cawe Bima Arya di Pilkada Kota Bogor 2024 hingga Buka-bukaan Soal Alasan Ketidak Hadiranya saat Debat di Radar Bogor

Dede Supriadi • Selasa, 15 Oktober 2024 | 22:03 WIB
Calon Wali Kota Bogor, Rena Da Frina.
Calon Wali Kota Bogor, Rena Da Frina.

RADAR BOGOR - Dinamika politik Cawalkot Bogor Rena Da Frina menjadi perbincangan yang menarik sejak sah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor melaju dalam Pilkada 2024 bersama pasangannya Achmad Teddy Risandi.

Cawalkot Rena Da Frina dalam obrolan di Channel Konsen Politik mengungkapkan, jawaban atas sejumlah isu yang menghampirinya.

Di antaranya, soal kealpaan dirinya dalam debat terbuka yang diselenggarakan independen oleh UIKA dan Radar Bogor pada pekan lalu.

Mantan ASN yang baru beberapa bulan melepas karier birokratnya untuk memilih jalur politik bergabung dengan PDIP dan secara mengejutkan maju pada Pilkada Bogor 2024 mengaku saat itu sedang dipanggil oleh Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri di Batutulis Bogor bersama kader lainnya.

Rena kemudian mendelegasikan kehadiran debat itu kepada Teddy Risandi yang ternyata mampu menjawab pertanyaan tajam dari pasangan mantan atasannya di Pemkot Bogor Deddy Rachim dan Jenal Mutaqin soal bantuan RT/RW Rp1,5 juta dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

“Perlu teman-teman pahami dulu bahwa itu kan independen untuk debat itu. Kemudian juga memang tidak diwajibkan untuk bisa hadir. Tapi sebenarnya ada kepentingan yang lebih urgent lagi disaat itu, di waktu yang bersamaan. Jadi saya memang dipanggil ketum di DPP iya (Bu Mega), pada saat itu ada beberapa (tidak sendiri) dipanggil ya. Di Batutulis,” jelasnya.

Kota Bogor yang kerap didatangi ketua umum partai ditanggapi Rena berarti memang kota seksi. Namun bagi PDIP, pertemuan di Batutulis memang sudah tidak heran karena penuh sejarah tentang sosok panutan yakni Presiden Soekarno.

“Ada agenda khusus lah. (Ketua umum pada ke Bogor) Oh gitu ya. Jadi Kota Bogor itu seksi,” seloroh Rena.

Dari pertemuan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri itu ketika ditanya apakah tambah semangat dan dapat bisikan tertentu Rena pun menjawab tentu lebih semangat. Ia pun tertawa malu soal bisikan apa yang didapatkannya dari pemimpin PDIP itu.

“Ya kan kita memang dapat semangat, spiritnya itu ya dari atas. (Ada bisikan dari atas?) Harus dijawab ya?,” ujar Rena sambil tertawa.

Dipilih PDIP

Dalam sesi obrolan Rena pun buka-bukaan soal alasannya  diusung PDIP untuk maju sebagai Cawalkot Bogor 2025. Rena-Teddy merupakan paslon Cawalkot yang diusung PDIP setelah ada ketupusan MK nomor 60 dan 70 tentang ambang batas perolehan suara parpol pengusung dan batas umur calon.

Menurut Rena, saat itu hanya PDIP yang mampu menangkap bahwa dirinya layak jadi pemimpin daerah di Kota Bogor.

“(Kok bisa Ibu ada di PDIP) Saya kasih statemen. Pada saat itu hanya PDIP yang jeli kenapa memilih saya. Yah. Dan PDIP yang menangkap potensi itu yang ada di saya,” ungkapnya.

Mantan Lurah Sempur Kota Bogor yang sempat viral menduduki jabatannya di usia muda dan berprestasi, kemudian menjadi Kadis PUPR yang dikenal selalu turun langsung menggunting kabel PLN dan kabel internet yang mengganggu badan jalan, berhasil merevitalisasi Jembatan Otista itu pun merasa yakin mendapat dukungan penuh PDIP.

“(Yakin PDIP solid ke ibu?) Yakin dong. Mau melakukan segala sesuatu itu harus yakin kuncinya harus yakin. Kalau enggak yakin, atau ragu-ragu mending enggak usah,” tegasnya.

“Intinya ketika saya memutuskan untuk berlayar dari kandang banteng, saya disampaikan bahwa ini adalah banteng betina yang siap memimpin Kota Bogor. Dan satu-satunya (calon) Wali Kota Bogor perempuan dalam sejarah Kota Bogor. (Sudah ready? Harus ready dan sudah ready pastinya” kata dia.

Rena kemudian mengungkapkan alasan mengapa dirinya memilih PDIP sebagai kendaraan politik pertamanya dan maju Pilkada Kota Bogor 2024.

“Kita kan bisa merencanakan segala sesuatu yang menurut pemikiran manusia itu yang terbaik. Tapi kemudian balik lagi, ternyata Tuhan punya skenario yang berbeda.

“Sama dengan saya, ketika saya sudah merencanakan A, B, C, D, dalam hidup saya. Tapi Tuhan sampaikan, Allah sampaikan bahwa kenyataannya seperti ini dan itu adalah yang terbaik buat saya,” ujarnya.

Bima Arya Cawe-cawe ke Rena?

Rena Da Frina yang merupakan mantan bawahan Bima Arya dan Dedie Rachim pun kini memilih jalur politik yang berhadapan dengan mantan atasannya itu.

Rumor bahwa Rena Da Frina disiapkan Bima Arya dalam Pilkada Bogor ini ia jelaskan memang komunikasi mereka tetap baik. Namun pilihan dukungan Bima Arya jatuh ke pasangan Dedie-Teddy.

 Baca Juga: Bawa 2 Program Ini, Cara Dokter Rayendra dan Eka Maulana Gaet Dukungan IPHI Kota Bogor

Rena berujar, bahwa kini jika spanduk dirinya sebagai Cawalkot Bogor banyak di R3 yang merupakan akses ke kediaman Bima Arya, karena memang warga wilayah itu memiliki kedekatan dengannya semasa menjadi Camat Bogor Timur.

“(Banyak banner di R3 dekat rumah wali kota sebelumnya, Bima Arya) Iya enggak. Kan saya bekas camat Bogor Timur. Tapi enggak hanya Bogor Timur, hampir semua kok. Tapi enggak pakai banner juga beliau (Bima Arya) pasti ingat saya,” jelasnya.

Rena menjawab apakah Bima Arya ada cawe-cawe mendukung dirinya.

“Kepo banget sih, silaturahmi itu tidak boleh terputus, ya walaupun pada saat ini mungkin kita ada beda pilihan. Politik itu dinamis. Kan beliau sudah nyatakan dukungannya (ke Dedie-Jenal)” ujarnya.

Ia enggan menjawab pertanyaan sekiranya mengapa setelah menyatakan dukungan kepada pasangan Dedie-Jenal dan menjadi juru kampanye, Bima Arya tidak sering tampil blusukan ke warga mengkampanyekan mereka.

“Mangga atuh dikonfirmasi sama yang bersangkutan aku enggak mau ikut-ikutan. Tidak terpancing,” sambil tertawa.

Namun demikian, Rena kembali menegaskan bahwa komunikasi dirinya dengan Bima Arya cukup baik. Ia pun sangat menghargai Bima Arya sebagai mentor yang baik.

“(Masih komunikasi baik?) Orang kita enggak berantem kok. Emang ada jotos-jotosan. Kan enggak. Enggak-enggak, biasa aja, biasa aja. Saya hormati beliau sebagai mantan atasan saya dan sebagai mentor terbaik saya. (Sampai hari ini?) Ya iya dong kan saya belum punya yang baru (di Bogor) ya memang faktanya seperti itu kan,” katanya.

Ia pun memberi teka-teki bagaimana hubungannya dengan Bima Arya yang dalam Pilkada Bogor ini tidak memilih mendukungnya.

“Tapi apa? Enggak ada. Tapi sebenarnya tahu kan, sebenarnya ada,” ujarnya menjawab host tentang komunikasi dirinya dengan Bima Arya.

Harta Rena

Sebagai mantan ASN yang memulai karir dari bawah, Rena pernah menduduki sejumlah jabatan mulai dari lurah Sempur, Camat Bogor Timur, hingga Kepala Dinas PUPR pada pemerintahan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Dedie Rachim, ia memiliki harta kekayaan yang cukup mapan.

Ketika pertanyaan muncul tentang harta kekayaannya dalam laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) di situs resmi LHKPN KPK, Rena pun menjawab bahwa harta Rp4,5 miliar yang laporkan adalah harta bersama sang suami yang memiliki posisi cukup strategis di Kementan.

“Kan udah dapat datanya, kan bisa dilihat dan ditelisik itu, dari mana sumber dananya. Yang jelas saya kan juga punya suami gaes. Suami saya juga berpenghasilan, jadi suami saya bukan pengangguran dan saya juga bekerja. Harta bersama saya dan suami saya gitu. Kecuali..,” ujar Rena lagi tersenyum.

Cara Merauk Gen Z

Rena Da Frina berpendapat bahwa suara Gen Z yang mencapai 20 persen dari 815 ribu DPT harus didekati dengan cara yang asyik untuk mereka cerna.

“Jadi kalau untuk merauk Gen Z, jadi kesenangannya anak-anak Gen Z, ya memang akan berbeda program sosialisasi yang akan saya tawarkan ketika berhadapan dengan Gen Z. Saya harus bisa jadi bagian dari mereka. Tapi saya bisa belajar dari anak saya, karena anak saya semua Gen Z. Ya kan bagaimana maintenance anak-anak muda itu, mereka maunya seperti apa. Mereka itu kan cenderung enggak mau didikte, enggak mau dilarang, enggak bisa dilarang,” paparnya.

Ia tidak menampik bahwa cara masuk ke kalangan Gen Z perlu teknologi informasi seperti AI dan gaya komunikasi yang bisa mereka terima.

“Jadi memang untuk AI kita pasti. Ada beberapa yang sengaja kita buat, yang sengaja kita buat bisa diterima dan dicerna sama Gen Z," ucapnya.

“Kemudian untuk sosialisasi saya enggak perlu gaya ala-ala anak muda, tapi kan saya juga masih muda. Hai..? Iya kam karena memang masih muda sih, jadi enggak perlu menjadi lebih muda, atau dimuda-mudakan” ujar Rena tertawa.

Rena menuturkan, bagaimana ia bisa bergaya komunikasi seperti mereka. Rena-Teddy mengumpulkan Gen Z itu, kemudian berdiskusi.

“Kaya kemarin kita baru diskusi masalah penyakit masyarakat, kaya Judol, bully di sekolah. Kemudian terkait seks bebas, itu kan kemudian yang merangsang dan mereka mau speak up. Dan itu lumayan itu antuasiasnya. Seks bebas, kemudian bully di sekolahan. Dan mereka mau ngomong kok. Anak-anak jaman sekarang itu lebih berani bersuara gitu” kata dia.

“Tapi dapatkan dulu apa yang menjadi Konsen mereka, apa yang menjadi perhatian mereka, setelah itu kan ngalir. Jadi saya terapkan itu. Bu IG-nya apa, silakan follow saya, oh Ibu teh (setelah melihat IG), mangga atuh,” Rena tertawa.(***)

Editor : Dede Supriadi
#bima arya #Teddy Risandi #Pilkada Kota Bogor 2024 #rena da frina