RADAR BOGOR - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Barat mengadakan Kolokium dengan tema Transformasi PPP untuk Indonesia.
Acara rutin DPW Jawa Barat ini diselenggarakan di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, pada hari Kamis, (30/1/ 2025).
Kolokium ini dihadiri oleh berbagai tokoh partai dari sejumlah daerah dan langsung membahas berbagai isu.
Diskusi dimulai mengenai strategi untuk kembali ke Parlemen Senayan pada tahun 2029 dan juga menilai siapa yang layak menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum PPP).
Pepep Saeful Hidayat, Plt Ketua DPW PPP Jawa Barat, menyatakan bahwa semua anggota partai harus aktif bergerak.
“Kita jelas tidak ingin berlama-lama. Setelah penyelenggaraan pemilihan kemarin (2024), kita akan segera memperbaiki struktur organisasi dan melakukan konsolidasi. Dalam waktu dekat, kita juga akan mulai merencanakan program kerja untuk 4,5 tahun ke depan,” ungkap Pepep Saeful kepada para wartawan.
Pepep menambahkan bahwa Kolokium ini sebenarnya rutin diadakan oleh DPW Jawa Barat setiap bulan.
Acara ini diharapkan menjadi platform untuk menguatkan hubungan antar kader.
“Terdapat ide dari rekan-rekan pengurus DPW untuk memperluas jangkauan Kolokium ini. Tentu ini akan memperkaya wawasan dan pengetahuan serta mendukung konsolidasi gagasan yang ada di dalam partai,” jelasnya.
Sementara itu, Prof Burhanudin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, menekankan bahwa semua kader harus bekerja keras untuk mencapai tujuan kembali ke Senayan pada tahun 2029.
Kolokium dinilai sebagai langkah yang tepat untuk menyelaraskan pandangan antar kader.
“Tentu PPP perlu usaha maksimal. Namun, masih ada waktu yang cukup panjang, yaitu 4,5 tahun bagi PPP untuk berbenah. Menurut saya, kolokium ini sangat baik untuk pemanasan dan motivasi bagi wilayah PPP lainnya untuk melakukan hal yang sama,” ujar Prof Burhanudin.
Ia berharap DPW PPP Jabar terus mengadakan kolokium di berbagai daerah.
“Jika semangat dan strategi yang kita lihat hari ini di Kota Bogor dapat menyebar dan menginspirasi daerah lain, bukan tidak mungkin PPP akan kembali ke pentas politik nasional,” tuturnya.
Burhanudin menambahkan, tantangan ke depan pasti akan sulit karena partai yang tidak lolos PT yang ingin kembali ke Senayan biasanya mengalami kesulitan.
Rencana yang perlu dilakukan adalah sejak awal memilih calon legislatif yang berkualitas dan memiliki pimpinan atau ketua umum yang mampu menarik perhatian.
“Jangan lupa untuk terus fokus pada daerah pemilihan yang telah memiliki kursi atau merupakan basis, dan perhatikan juga daerah pemilihan yang terlihat biasa, tetapi berhasil mendapatkan kursi pada pemilu terakhir. Sisa daerah pemilihan boleh ditinggalkan dan fokus pada daerah pemilihan tersebut,” jelasnya.
Saat ini, data menunjukkan bahwa pemilih PPP sebagian besar berasal dari kalangan muda.
Sebagai partai yang lebih tua, PPP harus menemukan cara untuk menarik pemilih muda agar memilih mereka.
“Salah satu cara adalah dengan aktif di media sosial. Jika ada acara seperti ini, jangan hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga libatkan orang-orang di luar dengan melakukan siaran langsung di media sosial yang dikelola oleh DPC, DPW, atau DPP. Platform kita sekarang adalah media sosial,” ujarnya.
Nadia Hasna Humaira, seorang aktivis sosial politik muda, menambahkan bahwa PPP perlu mendengarkan petunjuk atau pengalaman para senior, tetapi juga harus tetap melakukan inovasi.
“Bagi saya, musuh kita adalah kemiskinan dan kebodohan. Karena itu, harus ada terobosan-terobosan yang bisa berkaitan dengan dua permasalahan tersebut. kalau pun menggeber medsos jangan asal viral saja, tapi harus ada hasil yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” ucapnya.(ded)
Editor : Dede Supriadi