RADAR BOGOR – Indonesia dan Yordania jalin hubungan erat antara kedua negara.
Di balik hubungan diplomatik yang terjalin erat antara Indonesia dan Yordania, ternyata tersimpan kisah persahabatan yang unik dan inspiratif antara dua tokoh besar: Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dan Raja Yordania, Abdullah II bin Al Hussein. Persahabatan mereka bukanlah sekadar relasi kenegaraan.
Hubungan pribadi yang telah terjalin sejak masa muda dan berakar dari pengalaman hidup yang sama, berbagi barak militer di masa pendidikan.
Kisah ini bermula pada awal dekade 1980-an, ketika Abdullah II yang saat itu masih menjadi Pangeran Yordania menapaki jalan sebagai seorang prajurit muda.
Ia menempuh pendidikan di Royal Military Academy Sandhurst di Inggris, sebuah akademi militer bergengsi yang juga melahirkan banyak tokoh penting militer dan kerajaan dunia.
Di tempat inilah Abdullah II mempelajari dasar-dasar kepemimpinan, strategi tempur, dan kedisiplinan militer tingkat tinggi.
Tidak berhenti di situ, Abdullah II juga memperluas wawasan intelektualnya dengan menempuh studi di Pembroke College, Oxford, mengambil bidang ilmu politik luar negeri, dan melanjutkan pendidikan di Deerfield Academy, Amerika Serikat.
Dalam perjalanan pendidikannya di Amerika inilah ia berkenalan dengan sosok Prabowo Subianto.
Prabowo, yang juga merupakan seorang perwira muda dari Indonesia, kala itu tengah mendalami berbagai pelatihan dan studi militer di luar negeri.
Keduanya bertemu dalam sebuah pelatihan gabungan, dan dari situ mulai terjalin keakraban yang tidak hanya dilandasi oleh kesamaan latar belakang sebagai calon pemimpin militer,
tetapi juga oleh visi yang sama tentang pentingnya nilai kehormatan, loyalitas, dan tanggung jawab terhadap negara.
Tak hanya sekadar kenal, Prabowo dan Abdullah II ternyata sempat tinggal di barak militer yang sama selama masa pelatihan.
Berbagi waktu dalam latihan keras, diskusi malam hari tentang geopolitik dan keamanan global, hingga pengalaman keseharian sebagai taruna muda, membuat keduanya menjalin ikatan batin yang kuat.
Sekembalinya ke Yordania pada tahun 1993, Abdullah II langsung meniti karier militer dengan cepat.
Ia memimpin Pasukan Khusus Yordania—unit elite setara dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Indonesia.
Ia juga dikenal sebagai seorang prajurit sejati yang tidak hanya piawai dalam strategi darat, tetapi juga memiliki kemampuan menerbangkan jet tempur, sebuah keahlian langka di kalangan pemimpin negara.
Sementara itu, Prabowo juga menempuh jalur militer yang cemerlang. Ia menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus dan dikenal sebagai sosok yang berani, disiplin, dan visioner.
Jejak karier keduanya menunjukkan kemiripan—sama-sama pemimpin pasukan elite dan sama-sama menekuni ilmu militer serta politik sejak usia muda.
Meski kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda—Abdullah II naik takhta sebagai Raja Yordania pada 1999 dan Prabowo menapaki jalan politik hingga akhirnya terpilih menjadi Presiden Indonesia pada 2024—persahabatan keduanya tetap terjaga.
Mereka beberapa kali terlihat bertemu dalam forum-forum internasional maupun kunjungan bilateral, dan hubungan mereka selalu terlihat hangat dan penuh saling pengertian.
Persahabatan antara Prabowo dan Raja Abdullah II bukan hanya menjadi cerita menarik, tetapi juga menjadi simbol eratnya hubungan antara Indonesia dan Yordania.
Kedekatan personal ini membuka ruang diplomasi yang lebih cair, yang pada akhirnya bisa memperkuat kerja sama di berbagai sektor, mulai dari pertahanan, pendidikan militer, hingga bantuan kemanusiaan.
Dalam sebuah wawancara tidak resmi yang beredar di kalangan diplomatik, salah satu ajudan Raja Abdullah II pernah menyebut bahwa Prabowo bukan sekadar kolega, melainkan "saudara seperjuangan."
Kalimat ini menjadi bukti bahwa ikatan yang mereka bangun sejak masa muda bukan hubungan diplomatik yang kaku, tetapi hubungan yang dibangun atas dasar hormat, kepercayaan, dan nilai-nilai kepemimpinan bersama.
Kini, ketika Prabowo resmi akan menjabat sebagai Presiden Indonesia, publik berharap hubungan personal ini dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarbangsa, sekaligus contoh bagaimana persahabatan tulus yang dibangun dari barak militer bisa berdampak hingga ke panggung dunia.***
Editor : Eli Kustiyawati