RADAR BOGOR - Dalam rangka memperingati 27 tahun Reformasi 1998, para aktivis dari berbagai generasi berkumpul dalam sebuah sarasehan bertema "Dari Demokrasi Politik Menuju Transformasi Demokrasi Ekonomi" di Jakarta Selatan.
Acara peringatan 27 tahun Reformasi 1998 ini menjadi ajang refleksi terhadap perjalanan demokrasi Indonesia sejak tumbangnya rezim Orde Baru.
Peringatan 27 tahun Reformasi 1998 itu dihadiri oleh berbagai tokoh penting yang aktif dalam gerakan reformasi dan dunia politik saat ini.
Di antara mereka adalah Faisol Riza, Habiburokhman, Riza Patria, Masinton Pasaribu, Immanuel Ebenezer, serta intelektual seperti Qodari dan Rocky Gerung.
Tokoh-tokoh senior lainnya seperti Hariman Siregar, Agus Jabo, Feri Amsari, Robertus Robet, Syahganda Nainggolan, Sulaiman Haikal, dan Andrianto Andri juga ikut hadir.
Dalam Serangkaiannya, Hariman Siregar mengingatkan bahwa 21 Mei adalah hari bersejarah ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri, menandai berakhirnya era Orde Baru.
Ia menyebut fakta menarik bahwa cucu Soeharto, Prabowo Subianto, kini menjadi Presiden RI, sebuah kenyataan yang menurutnya perlu dicermati dengan bijak.
Haris Rusly Moti, salah satu fasilitator acara, menjelaskan bahwa fokus utama sarasehan tahun ini adalah pentingnya transisi dari demokrasi politik menuju demokrasi ekonomi.
Ia menilai bahwa setelah dua dekade lebih reformasi, aspek ekonomi belum mengalami perubahan mendasar yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Robertus Robet menegaskan bahwa demokrasi ekonomi hanya dapat terwujud jika demokrasi politik berjalan sehat.
Ia menyatakan bahwa saat ini kekuatan ekonomi nasional masih dikendalikan oleh oligarki yang menghambat tercapainya keadilan sosial.
Senada dengan itu, Syahganda Nainggolan menyatakan bahwa agenda reformasi telah mengalami pembajakan oleh elite ekonomi-politik.
Ia menilai bahwa pemmodal besar telah mengendalikan arah politik nasional, merusak cita-cita awal reformasi untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan pro-rakyat.
Meski demikian, beberapa aktivis berharap Presiden Prabowo Subianto mampu membawa perubahan melalui pendekatan ekonomi kerakyatan.
Mereka menilai Prabowo memiliki visi untuk mengembalikan arah pembangunan ke cita-cita konstitusi dan para pendiri bangsa.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, pentingnya konsistensi dalam kebijakan politik dan ekonomi.
Ia menyebut bahwa visi besar presiden hanya bisa terwujud jika para pembantunya, khususnya tim ekonomi, memiliki ideologi yang sejalan.
Dalam forum tersebut, para aktivis juga menyoroti maraknya praktik politik uang yang merusak sistem demokrasi.
Mereka mendorong agar tercapainya demokrasi politik tidak berhenti pada aspek prosedural, melainkan harus menjadi fondasi bagi kemajuan ekonomi yang merata.
Eli Salomo, juru bicara sarasehan, mengatakan bahwa demokrasi politik Indonesia masih dikuasai oleh kepentingan pemmodal besar.
Ia menekankan perlunya transformasi demokrasi ekonomi untuk membuka akses seluas-luasnya kepada seluruh rakyat terhadap sumber daya nasional.
Menariknya, acara peringatan Reformasi 1998 ini juga dihadiri oleh Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
Hal itu menunjukkan adanya perhatian dari kalangan legislatif terhadap dinamika demokrasi dan refleksi sejarah reformasi.
Sarasehan ini digagas dan difasilitasi oleh para aktivis 1998 dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, dan Medan. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal demokrasi ke arah yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Dengan semangat yang tidak padam, para aktivis lintas generasi sepakat untuk terus memperjuangkan demokrasi politik yang sehat dan memperluas jangkauan ke arah demokrasi ekonomi demi kesejahteraan rakyat. (***)
Penulis: Diana Rama Pratiwi/Magang-UT
Editor : Yosep Awaludin