RADAR BOGOR – Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengadakan konsolidasi tingkat kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan di Kopi Temani, Banjarbaru, Kamis–Jumat (11–12/9/2025).
Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan penting untuk merumuskan arah gerakan kolektif, khususnya dalam memperkuat kemandirian masyarakat sipil dan menjaga kualitas demokrasi di tingkat lokal.
Konsolidasi ini dihadiri oleh pengurus dan LS Vinus dari berbagai daerah di Kalsel, serta tokoh-tokoh pendiri seperti Yusfitriadi (Founder Visi Nusantara Maju), Muhamad Arifin (Koordinator Provinsi LS Vinus Kalimantan Selatan), dan Chikal Akmalul Fauzi (Founder Vinus Muda).
Hadir pula Ketua Bawaslu Kalsel yang memberikan apresiasi atas kiprah LS Vinus dalam mendorong partisipasi masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu Kalsel menilai LS Vinus dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga demokrasi.
“Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri. Kehadiran LS Vinus penting untuk mengawal integritas demokrasi, mendorong literasi politik, serta memastikan masyarakat terlibat aktif dalam setiap proses politik,” ujarnya.
Sementara itu, Yusfitriadi selaku founder yayasan visi nusantara maju menekankan bahwa demokrasi tidak akan sehat tanpa masyarakat sipil yang kuat.
“Kemandirian menjadi kunci. LS Vinus harus berdiri dengan kaki sendiri, menggerakkan pemuda untuk berdaya secara sosial, ekonomi, dan intelektual. Dengan begitu, kita bisa mengawal demokrasi tanpa terjebak pada kepentingan sesaat,” ungkapnya.
Muhamad Arifin menambahkan, arah konsolidasi LS Vinus Kalsel tidak hanya fokus pada advokasi demokrasi, tetapi juga pada kemandirian.
“Kami ingin LS Vinus hadir sebagai kekuatan yang independen, tidak terikat kepentingan politik praktis, dan mampu melahirkan program yang berdampak langsung. Kemandirian ini penting agar LS Vinus bisa menjadi penyeimbang di tengah dinamika politik daerah,” katanya.
Chikal Akmalul Fauzi menambahkan juga, generasi muda harus diposisikan sebagai garda depan demokrasi sekaligus pionir kemandirian.
“Anak muda tidak cukup hanya melek politik. Mereka harus mandiri secara ekonomi agar bisa berani bersikap kritis. Vinus Muda berkomitmen membangun ruang kaderisasi yang menyiapkan generasi baru yang kritis, berdaya, dan mandiri,” tegasnya.
Diskusi dalam suasana meja kopi menghasilkan sejumlah gagasan kolektif.
Para peserta menekankan pentingnya LS Vinus menjadi ruang terbuka untuk pendidikan politik, penguatan basis pemuda, serta kolaborasi lintas sektor.
Konsolidasi juga menyepakati agenda bersama untuk memperkuat kemandirian organisasi agar tidak bergantung pada kepentingan politik atau dukungan pihak tertentu.
Konsolidasi ini diakhiri dengan seruan bersama untuk menjadikan LS Vinus sebagai gerakan pemuda yang “mandiri, kritis, dan berdampak”.
Para peserta menegaskan bahwa kemandirian bukan hanya soal berdiri di luar kepentingan kekuasaan, tetapi juga soal kemampuan membangun kekuatan internal, membiayai diri sendiri, serta menjaga idealisme dalam setiap langkah perjuangan.
Dari ruang kopi yang sederhana, lahir tekad besar yakni menjadikan LS Vinus sebagai ruang belajar demokrasi yang hidup, tempat anak muda ditempa untuk berani bersuara, mampu menawarkan solusi, dan siap berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan demikian, LS Vinus Kalsel berharap tidak sekadar hadir sebagai organisasi pemantau, melainkan sebagai gerakan sosial yang tumbuh dari rakyat, bersama rakyat, dan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim