RADAR BOGOR — Akademisi UIKA Bogor Yama Sumbodo, menilai penolakan DPC Gerindra Kabupaten Bogor terhadap manuver politik Budi Arie dan relawan Projo merupakan bentuk penegasan sikap politik di tingkat akar rumput.
Menurut Yama, sikap tersebut mencerminkan bahwa Gerindra di daerah ingin menjaga integritas politik dan menolak praktik-praktik yang hanya bersifat transaksional atau bagi-bagi kekuasaan.
“Penolakan ini bisa dibaca sebagai penegasan bahwa politik tidak boleh sekadar jadi ajang transaksi. Ini bentuk kesadaran akar rumput untuk menjaga marwah Partai Gerindra dan menolak praktik oportunistik,” ujar kepada Radar Bogor, Jumat 14 November 2025.
Kandidat Doktor Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran ini, menilai dinamika tersebut tak lepas dari rekam jejak Budi Arie dan Projo yang pada Pilpres 2014 dan 2019 pernah berada berseberangan dengan Prabowo Subianto dan Gerindra.
Sehingga, ketika kini mereka mencoba merapat dalam barisan pendukung, sebagian kader menilai langkah itu sebagai sikap aji mumpung.
“Budi Arie dan Projo mungkin lupa sejarah. Pada Pilpres 2014 dan 2019 sikap politik mereka jelas berseberangan dengan Pak Prabowo," tuturnya.
"Perjuangan simpatisan dan kader Gerindra yang mengantarkan kemenangan sekarang tidak bisa begitu saja diabaikan,” katanya.
Ia menyebut kader Gerindra memandang manuver tersebut sebagai potensi blunder ideologis dari Projo dan Budi Arie.
Yama juga menegaskan bahwa Gerindra merupakan partai besar yang solid, dengan kekuatan loyalitas dari tingkat akar rumput hingga pusat.
“Gerindra itu partai dengan daya juang tinggi. Klaim Projo sebagai pihak yang mengantarkan kemenangan Prabowo Gibran sah-sah saja, tapi secara kalkulasi kontribusinya hanya sebagian kecil,” ujarnya.
Gelombang penolakan dari berbagai pengurus daerah serta organisasi sayap partai, kata Yama, menjadi masukan penting bagi internal Gerindra dalam menjaga arah politik partai.
Sekaligus memberikan dukungan konsisten kepada Presiden Prabowo pada periode pemerintahan berikutnya. (cr1)