RADAR BOGOR - Wacana kedekatan politik antara Partai NasDem dan Partai Gerindra kembali menjadi sorotan.
Namun, alih-alih berbicara soal penggabungan, pendekatan yang dinilai lebih elegan justru mengarah pada bentuk aliansi strategis antar kedua partai.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPP Partai NasDem, Asep Wahyuwijaya.
Asep Wahyuwijaya menegaskan, spekulasi terkait langkah besar Partai NasDem perlu disikapi secara bijak, mengingat sejarah panjang dan nilai besar yang melandasi berdirinya partai tersebut.
Menurut kang AW (sapaan Asep Wahyuwijaya), Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, tidak mungkin mengambil keputusan gegabah yang dapat merugikan partai.
Asep Wahyuwijaya menilai, NasDem dibangun bukan sekadar sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai wadah perjuangan dengan gagasan besar untuk perubahan bangsa.
Baca Juga: Bogorku Bersih 2026 Kembali Digelar di Kota Bogor, Jadi Jembatan Menuju PSEL
“NasDem lahir dari ide dan cita-cita besar. Hari ini, partai ini bukan lagi milik individu, tetapi sudah menjadi milik publik dengan jutaan kader dan dukungan belasan juta pemilih,” ujar Asep Wahyuwijaya dalam keterangannya, Senin 13 April 2026.
Ia juga menyoroti, perkembangan signifikan NasDem yang terus mengalami peningkatan perolehan kursi legislatif di setiap pemilu.
Hal ini, menurutnya, menjadi bukti kepercayaan publik yang semakin kuat terhadap partai tersebut.
Baca Juga: Bogorku Bersih 2026 Kembali Digelar di Kota Bogor, Jadi Jembatan Menuju PSEL
Asep Wahyuwijaya turut menyinggung sosok Surya Paloh sebagai tokoh yang dinilai telah menuntaskan kepentingan pribadi dan keluarganya.
Ia menyebut keberadaan NasDem Tower sebagai simbol dedikasi dan warisan politik bagi masyarakat Indonesia.
“Beliau memahami betul perbedaan antara mengelola perusahaan dan partai politik. Partai tidak bisa diperlakukan seperti entitas bisnis,” tegasnya.
Lebih lanjut, Asep Wahyuwijaya mengkritisi pemberitaan salah satu media nasional yang dinilai menggambarkan Partai NasDem layaknya sebuah perusahaan.
Ia menilai, framing tersebut berpotensi merendahkan suara rakyat yang telah memberikan mandat politik kepada partai.
Aliansi Strategis Dinilai Lebih Substantif
Dalam konteks hubungan dengan Partai Gerindra, Asep Wahyuwijaya berpandangan, konsep aliansi strategis lebih relevan dibandingkan penggabungan atau koalisi pragmatis.
Baca Juga: Dimasak Pakai Arang Plus Daun Jeruk, Nasi Goreng Ini Dapat Rating Tinggi dari Mamank Kuliner
Ia menilai, aliansi strategis memiliki fondasi yang lebih kuat karena berangkat dari kesamaan nilai dan komitmen untuk kemajuan bangsa.
Menurutnya, pendekatan ini juga mencerminkan sikap politik NasDem yang menjunjung etika.
Sejak awal, NasDem tidak menempatkan diri untuk berbagi kursi kabinet karena perbedaan pilihan dalam kontestasi pemilihan presiden.
Baca Juga: Status RSUD Kota Bogor Berubah dari OPD Jadi UOBK Mulai 2027, Apa yang Berbeda?
Meski demikian, Surya Paloh tetap menginstruksikan seluruh kader dan anggota legislatif NasDem untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini adalah bentuk pendidikan politik kepada publik tentang pentingnya sikap tahu diri dan menjaga etika dalam berpolitik,” jelas Asep.
Ia menambahkan, ke depan, komitmen politik yang berbasis nilai dan etika seperti ini perlu terus diuji dan diwujudkan dalam langkah konkret di lapangan.
Baca Juga: Wana Griya Ciseeng di Parung, Alternatif Wisata Murah dengan Nuansa Pantai Buatan di Kabupaten Bogor
Dengan dinamika politik yang terus berkembang, gagasan aliansi strategis antara NasDem dan Gerindra dinilai dapat menjadi model baru dalam membangun kerja sama politik yang lebih sehat, tanpa harus terjebak dalam kepentingan jangka pendek. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim