RADAR BOGOR — Pendiri dan produser utama A2O Entertainment, Lee Soo-man, masuk Asian Hall of Fame 2025 di The Biltmore Hotel, Los Angeles, pada 1 November waktu setempat. Ia hadir bersama A2O MAY, Yoo Young-jin, dan Sunny (Girls’ Generation).
Dikutip dari Naver.Entertainment, selain Lee Soo-man, penerima penghargaan tahun ini termasuk legenda basket Yao Ming, juara seluncur indah Michelle Kwan, musisi rock Jepang Yoshiki, pendiri H Mart Kwon Il-yeon, dan pendiri Vizio William Wang.
Pelopor Budaya dan Produser Visioner
Lee Mi-kyung, Wakil Ketua CJ Group, yang memperkenalkan Lee Soo-man di acara tersebut. “Merupakan suatu kehormatan sejati untuk dapat memberi selamat kepada Produser Lee Soo-man, bapak baptis K-POP,” katanya.
Ia menambahkan, K-POP lebih dari sekadar musik, itu adalah budaya, komunitas global yang berbagi hasrat.
Di pusatnya semua adalah Produser Lee Soo-man, yang memiliki visi untuk menghubungkan generasi dan budaya melalui kekuatan musik.
Disorot Media Global
Pelantikan Lee Soo-man mendapat perhatian luas dari media internasional seperti Associated Press (AP), The Washington Post, dan Los Angeles Post.
AP menggambarkannya sebagai seseorang yang tidak pernah goyah dari visinya selama 30 tahun, serta menyebut bahwa visinya telah berkembang menjadi proyek jangka panjang yang merancang ekosistem budaya global.
AP juga menyinggung kisah ketika Lee menolak gelar “Raja K-pop” untuk film dokumenter Amazon Prime, namun kemudian menerimanya untuk menjangkau publik Amerika.
Media itu menilai langkah tersebut sebagai faktor penentu dalam membawa K-pop ke arus utama Amerika.
Baca Juga: Pawon Kayu Bogor: Rumah Makan Jadul dengan Cita Rasa Tradisional dan Harga Merakyat
Lee dikenal karena filosofi ‘Culture Technology’, yang menggabungkan AI, teknologi 4D, dan narasi dunia imersif.
Ia menegaskan bahwa prinsip “Culture First, Economy Next” menjadi dasar pengembangan K-pop selama dua dekade terakhir.
AI Sebagai Kolaborator Kreatif
Melalui laporan LA Post, Lee Soo-man memperkenalkan sistem 4D Gaussian Splatting “Infinite Studio” hasil kolaborasi dengan 4DV Intelligence, yang mampu menghasilkan video multi-sudut dari satu pengambilan gambar.
“Saya tidak pernah melihat AI sebagai ancaman, ia adalah kolaborator,” katanya. “AI adalah pendamping yang memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya,” tambahnya.
Namun, ia juga mengingatkan pentingnya regulasi global. “Dibandingkan dengan perkembangan teknologi AI yang pesat, belum ada standar hukum yang tepat untuk konten yang dihasilkan AI dan hak-hak kreator,” ujarnya.
Dari BoA hingga S.E.S: Awal Kolaborasi Global
AP juga menyoroti perjalanan Lee dalam memperluas K-pop ke pasar internasional. Ia pernah menginvestasikan USD 5 juta untuk lagu debut BoA di AS, “Eat You Up” (2009), namun pasar belum siap menerima K-pop.
“Jika saya membuat beberapa perubahan pada lagu tersebut, hasilnya mungkin akan berbeda,” tuturnya sambil menambahkan bahwa pengalaman itu menumbuhkan keyakinan untuk membangun jaringan kreator global sendiri.
Ia kemudian membeli lagu S.E.S. “Dreams Come True” langsung dari komposer Finlandia dan “menyusun kontraknya sendiri di sana.” AP memuji langkah itu sebagai awal sistem kolaborasi internasional K-pop.
Struktur Cerita dan Tanggung Jawab Sosial
Lee juga dikenal menciptakan pandangan dunia (worldview) untuk grup seperti EXO dan aespa. Ia berkata, sebuah video musik seharusnya menceritakan kisah sinematik dalam tiga hingga empat menit.
Kreativitas Adalah Bahasa Tanpa Batas
Dalam pidatonya, Lee Soo-man menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh kreator dan seniman dunia.
“Saya menerima penghargaan ini atas nama semua seniman dan kreator yang percaya bahwa kreativitas dapat menyatukan dunia,” katanya.
Asian Hall of Fame menyebut Lee sebagai pelopor industri musik dan hiburan global. Ia dikenal sebagai satu-satunya warga Korea yang masuk daftar ‘Variety 500’ selama lima tahun berturut-turut, penerima ‘Asia Society Game Changer Award’ (2016), dan anggota ‘Billboard Impact List’ (2020).
Kini, Lee Soo-man terus memperkenalkan konsep Zalpha Pop, yang memadukan semangat Generasi Z dan Alpha, memperkuat perannya sebagai pelopor budaya global di era digital. (Yumna/SV IPB)
Editor : Yosep Awaludin