RADAR BOGOR - Aktris sekaligus penyanyi Maudy Ayunda kembali membagikan refleksi pemikirannya melalui kanal YouTube pribadinya, @modmedia.
Kali ini, Maudy Ayunda mengulas buku The Power of Now karya Eckhart Tolle yang dikenal luas sebagai panduan untuk hidup lebih sadar dan lepas dari kebisingan pikiran.
Dalam pembahasannya, Maudy Ayunda menyoroti kebiasaan banyak orang yang tanpa sadar hidup dalam mode autopilot.
Baca Juga: Jungleland Sentul Bogor Berikan Promo Khusus April 2026, dari Hadiah Ultah Hingga Diskon KTP
Secara fisik hadir, tetapi pikiran justru sibuk memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.
Hal ini, menurutnya, membuat seseorang sulit benar-benar menikmati momen yang sedang dijalani.
Ia menjelaskan, salah satu gagasan utama dalam buku tersebut adalah bahwa momen saat ini merupakan satu-satunya waktu yang benar-benar nyata.
Masa lalu hanyalah rekaman memori, sementara masa depan masih berupa bayangan.
Karena itu, segala keputusan dan tindakan hanya bisa dilakukan saat masa sekarang.
Melalui contoh sederhana, Maudy menggambarkan situasi ketika seseorang merasa cemas karena pekerjaan yang belum selesai.
Baca Juga: Bikin Heboh! Pratama Arhan Lulus S1 dengan Ijazah Blockchain Pertama di Indonesia
Alih-alih terjebak dalam penyesalan atau kekhawatiran berlebihan, ia menekankan pentingnya berhenti sejenak dan fokus pada langkah kecil yang bisa dilakukan saat itu juga. Dari situlah, proses bergerak ke depan bisa dimulai.
Selain itu, pembahasan juga menyentuh tentang emosi dan luka batin. Maudy mengutip konsep dalam buku yang menyebut bahwa penderitaan sering kali muncul tidak hanya dari kejadian, tetapi dari penolakan terhadap kenyataan.
Dalam hal ini, penerimaan atau acceptance menjadi kunci untuk meredakan beban tersebut.
Ia menjelaskan bahwa ketika menghadapi situasi sulit, seseorang memiliki tiga pilihan, yaitu meninggalkan, mengubah, atau menerima keadaan sepenuhnya.
Jika dua pilihan pertama tidak memungkinkan, maka menerima menjadi langkah yang justru membuka ruang untuk ketenangan dan kejernihan berpikir.
Tidak kalah penting, Maudy juga membahas konsep ego yang kerap membentuk identitas seseorang.
Banyak orang, menurutnya, mendefinisikan diri dari pencapaian, kepemilikan, atau penilaian orang lain. Padahal, hal-hal tersebut tidak bersifat tetap dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Melalui pemikiran dalam The Power of Now, ia mengajak audiens untuk melihat bahwa jati diri bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada kesadaran diri.
Dari kesadaran itulah, rasa tenang dan utuh dapat muncul tanpa bergantung pada faktor eksternal.
Pada akhir pembahasannya, Maudy menyebut buku ini sebagai semacam pengingat yang bisa dibaca berulang kali, terutama saat pikiran terasa penuh atau tidak terkendali.
Bukan untuk mengubah hidup secara instan, melainkan untuk perlahan keluar dari kebiasaan autopilot dan kembali hadir di momen yang sedang dijalani.
Melalui konten ini, Maudy Ayunda tidak hanya membagikan ulasan buku, tetapi juga mengajak audiens untuk lebih peka terhadap diri sendiri.
Dan menyadari pikiran, menerima emosi, dan belajar hidup sepenuhnya di masa kini. (Sarah/Unpad)
Editor : Yosep Awaludin