RADAR BOGOR – Keputusan mengejutkan datang dari model sekaligus konten kreator ternama, Sabrina Chairunnisa.
Mantan istri dari mentalis sekaligus podcaster Deddy Corbuzier ini, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari program studi Doktor (S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (UI).
Kabar mengejutkan tersebut dibagikan langsung oleh Sabrina Chairunnisa melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @sabrinachairunnisa_.
Dalam unggahannya, ia menuliskan sebuah pesan perpisahan yang cukup emosional mengenai keputusan berat yang akhirnya harus ia ambil.
”A day I’ve been putting off for a long time has finally come. It’s hard to let go of something that once meant so much, but sometimes moving forward means having the courage to choose a different path. Things change. Plans change. People change. But one thing remains the same, we have to keep moving forward. Bye, UI,” tulis Sabrina.
'Hari yang sudah lama saya tunda akhirnya tiba juga. Sulit rasanya melepaskan sesuatu yang pernah memiliki arti begitu besar dalam hidup, tetapi terkadang untuk bisa melangkah maju, kita harus berani memilih jalan yang berbeda. Segalanya berubah. Rencana berubah. Orang-orang pun berubah. Namun, ada satu hal yang tetap sama: kita harus terus melangkah ke depan. Selamat tinggal, UI,' tulis Sabrina jika diartikan dalam Bahasa Indonesia.
Baca Juga: UI Kolaborasi dengan Tsinghua University Ciptakan Vaksin DBD Berbasis mRNA
Namun, yang paling mencuri perhatian publik dan kini menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi serta netizen adalah komentarnya sendiri di kolom interaksi.
Sabrina secara terbuka menyampaikan keluh kesah dan kritiknya terhadap sistem regulasi pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya terkait aturan absensi kehadiran kuliah tatap muka.
Ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk mundur bukanlah hal yang mudah, melainkan karena saat ini ia memiliki prioritas hidup lain yang harus dijalani.
Ia juga menyuarakan harapannya agar sistem absensi di perguruan tinggi dalam negeri bisa lebih adaptif di masa depan.
”It’s not an easy decision tbh. Tapi mau gimana lagi, I have my own priority now. And hopefully kedepan universitas-universitas di Indonesia gak menjadikan absensi sbg bobot utama syarat kelulusan / syarat final exam kaya negara negara lain ya,” tulis Sabrina di kolom komentar unggahannya sendiri.
Sontak, kritik terbuka dari lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan ini langsung menuai pro dan kontra yang sangat masif di kalangan warganet.
Sebagian pihak menilai bahwa aturan absensi tatap muka yang sangat ketat di jenjang doktoral (S3) memang sering kali menyulitkan mahasiswa yang juga aktif sebagai praktisi atau profesional di dunia kerja.
Di sisi lain, beberapa warganet berpendapat bahwa aturan kehadiran tetaplah instrumen penting untuk menjaga integritas, kedisiplinan, dan kualitas interaksi akademik di dalam kelas, sekalipun di tingkat pascasarjana.
Kasus mundurnya Sabrina Chairunnisa pun kini menjadi momentum diskusi hangat mengenai relevansi sistem absensi fisik versus metode evaluasi berbasis riset yang banyak diterapkan di universitas mancanegara. (Rana/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin