RADAR BOGOR - Kabupaten Bogor tak pernah lelah menyajikan tempat wisata yang menarik dan menawan.
Desa Kiarasari Kecamatan Sukajaya salah satunya, di tempat ini membuat kita bak ditarik masuk ke dunia baru yang berbeda dengan gempita perkotaan.
Hujan yang deras tak menghentikan langkah menuju salah satu desa wisata di Kabupaten Bogor. Terletak 50 km dari pusat Kota Bogor durasi yang mesti ditempuh ke desa ini yaitu 2 jam 19 menit, Kamis (2/4/2024).
Desa Kiarasari terletak di Kecamatan Sukajaya. Ia salah satu sekian desa yang terletak di ujung Kabupaten Bogor.
Sekira beberapa kilometer dari desa ini sudah memasuki wilayah Provinsi Banten. Tepatnya di sebelah selatan desa yang berbatasan dengan Desa Situmulya Kecamatan Cibeber Lebak Banten.
Bermodal aplikasi penunjuk jalan, kami menancap gas motor tanpa berhenti sedikit pun. Usai melewati sejumlah kecamatan, mata kami kemudian tertuju ke pemandangan persawahan saat mendekati desa.
Desa Kiarasari benar-benar masih asri dan sejuk. Embun sore menyambut kami memasuki gerbang desa, membuat suasana seakan memasuki dunia baru yang asing bagi warga urban.
Sesampainya di desa ini, langkah kami tak serta-merta berhenti. Tempat menginap kami berada sekitar 100 meter dari tempat parkir motor sehingga kami harus berjalan kaki naik ke tempat tersebut. Camp Cipudalle nama tempat kami menginap semalaman.
Camp Cipudalle merupakan salah satu objek wisata yang ada di Desa Kiarasari. Di tempat ini pengunjung bisa menikmati suasana berkemah dikelilingi hutan dan persawahan. Tak hanya itu tempat ini juga dikelilingi curug atau air terjun.
Sejauh mata memandang, sawah yang berbentuk terasering selalu memanjakan. Sawah terasering ini juga merupakan salah satu daya tarik tersendiri di Desa Kiarasari.
Bila menghitung jumlahnya maka sebagian besar berbentuk terasering dengan ukuran yang beragam mulai dari sepetak hingga sepanjang mata memandang.
Hal ini diaminkan juga oleh Kepala Desa Kiarasari Ahyar Suryadi. Ia mengatakan kawasan mereka adalah pegunungan sehingga sawah terasering menjadi ciri khasnya.
Desa Kiarasari terletak di ketinggian 900 sehingga hawa dingin dan sejuk menjadi hal yang pasti dirasakan pengunjung yang datang.
"Kami memiliki geografil yang cukup menarik, memiliki pemandangan sangat indah, dan kaya akan budaya serta kearifan lokal di topang oleh masyarakatnya yang sangat kreatif," katanya.
Ia menuturkan wisata Desa Kiarasari memiliki pasar khusus yang berbeda dengan wilayah lain. Sebab tak hanya wisata alam namun mereka juga memiliki daya tarik lain.
"Daya tarik yang dapat dinikmati diwisata Kiarasari di antaranya wisata alam, seni budaya, kearifan lokal, dan inovasi kriya masyarakat," tuturnya.
Wisata alam yang dimiliki Kiarasari cukup menarik sebab berbatasan langsung dengan
kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Berbatasan dengan taman nasional membuat wisatawan bisa masuk ke dalam sehingga tak hanya berwisata dikawasan perkampungan.
"Sebagian curug berada di kawasan taman nasional jadi pengunjung banyak yang datang karena ingin menikmati sensasi yang benar-benar asri," sebut Jaro Ahyar, begitu dia disapa masyarakat.
Berada di kawasan yang cukup terisolir dari hiruk-pikuknya kota besar membuat masyarakat Kiarasari masih memegang tegur adat istiadat.
Kata Ahyar, hal ini juga yang menjadi bagian vital dalam mempertahankan keasrian desa sehingga wisata desa bisa dikembangkan tanpa harus menghancurkan alam.
"Adat istiadat di sini juga dijadikan sebagai penunjang wisata lewat kegiatan seni dan budaya. Kami memiliki sanggar seni, yang mempelajari kesenian Dogdog, Celempung, Karinding, Angklung, Drama/Teatrikal sunda, pencak silat dan sebagainya. Ini semua kami coba kemas kedalam paket wisata," ungkapnya.
Selain itu, masyarakat Kiarasari juga senantiasa diberikan pelatihan kriya seperti membuat souvernir, penataan lingkungan, pembuatan pupuk organik, olahan makanan, hingga pengelolaan kelompok tani.
Pelatihan ini disebut agar masyarakat bisa terus sadar menjaga lingkungan dan alam. "Kami tinggal diwilayah hulu, maka sudah menjadi kewajiban untuk menjaga alam dan lingkungan," kata Ahyar.
Desa seluas 1075,53 Ha ini pun terus berbenah dalam mengembangkan kawasan wisata. Saat ini mereka telah memiliki sejumlah fasilitas untuk wisatawan seperti tempat menginap, warung makan, toilet umum, hingga tempat parkir kendaraan.
"Kunjungan wisatawan selalu ramai pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur nasional. Kebanyakan wisatawan dari Jabodetabek. Ingin berlibur menikmati suasana desa yang masih asri," jelasnya.
Curug Desa Kiarasari Selalu Jadi Pilihan Wisatawan
Tempat kami menginap, Camp Cipudalle menjadi salah satu titik awal menuju beberapa Curug atau air terjun di Desa Kiarasari.
Pemilik Camp, Syamsuddin mengatakan curug terdekat adalah Curug Pintu Air yang berada tepat 300 meter di bawah kami.
Saat menyambangi Curug Pintu Air kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit. Jalur yang dilewati cukup terjal namun masih aman untuk semua usia.
"Berbeda dengan perjalanan menuju 6 curug lainnya mungkin hanya dapat ditempuh oleh orang-orang yang siap dan hobi tracking/naik Gunung. Karena melalui jalur pendakian yang cukup ekstrem," kata Syam.
Syam sendiri sudah sering mendatangi Curug yang berada di taman nasional tersebut. Kata dia, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke curug lainnya.
"Walau jauh tapi banyak didatangi oleh wisatawan setiap minggu selalu ada yang datang ke sana untuk menginap maupun pulang-pergi," ujarnya.
Kepala Desa Kiarasari, Ahyar Suryadi mengatakan Kiarasari sejatinya memiliki 7 curug. Namun baru beberapa Curug saja yang sudah resmi dibuka, hal ini dikarenakan akses dan jaraknya yang cukup ekstrem sehingga masih harus dilakukan pengembangan agar aman dilewati wisatawan.
"Dari ke 6 curug yang ada, semua berjarak 1-2 Km dengan waktu tempuh 45-90 Menit perjalanan menyusuri hutan belantara karena terdapat di zona Inti Kawasan TNGHs," sebutnya.
Curug yang saat ini dijadikan pilihan wisatawan berkunjung yaitu Pintu Air, Cidurian, Cirendeu, dan Cibatuhideung.
Untuk Curug Cidurian berada di hulu Sungai Cidurian yang mengalir hingga ke wilayah Cigudeg dan Jasinga. Curug ini disebut memiliki debit air yang stabil walau memasuki musim hujan maupun kemarau.
"Titik lokasi curug ini berada di Zona Inti TNGHs, namun karena melihat perkembangan Ekowisata akhirnya tahun 2022, kawasan ini dirubah Oleh TNGHs menjadi Zona Pemanfaat," ujarnya.
Curug lain yang bisa dikunjungi yaitu Curug Cireundeu yang berjarak sekitar 1,5 Km dari tempat parkir. Curug ini dapat diakses dengan waktu tempuh 45 menit.
"Di sekitar curug ini ada tumbuhan Reundeu. Ini sejenis lalapan masyarakat Sunda, memiliki
tekstur kasar dan mengandung antioksidan yang cukup tinggi," sebutnya.
Terakhir, curug yang bisa dikunjungi dan memiliki lokasi yang cukup strategis yaitu Curug Cibatuhideung.
Curug ini berada di lingkungan kampung Cibuluh Desa Kiarasari, namun dapat diakses dari 3 Kampung lain.
"Akses dapat ditempuh dengan berjalan kaki dengan durasi 30 Menit menyusuri pesawahan masyarakat kita sudah sampai di Curug Cibatuhideung ini," ungkapnya.
Lebih jauh, Ahyar bercerita ada hal menarik dari wisatawan yang berkunjung ke curug di Desa Kiarasari yaitu mereka mengaku tak masalah walau harus menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki.
Banyak wisatawan menyebut hal ini karena mereka menyukai suasana yang asri yang dimiliki curug di Desa Kiarasari.
"Kami selalu tanya mereka dapat info dari mana. Katanya dari media sosial sehingga mereka selalu datang beramai-ramai," ujarnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin