Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita Pendek Lawatan Ke Turki: Eksplorer Kawasan Ayasofya

Lucky Lukman Nul Hakim • Minggu, 25 Agustus 2024 | 16:39 WIB
Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara, Arsyad saat berada di Turky.
Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara, Arsyad saat berada di Turky.

RADAR BOGOR - Berangkat dari bandara Soekarno Hatta tanggal 22 Agustus dengan menggunakan pesawat China Southern Airlines pukul 13.15 menuju Bandara Internasional Baiyun Guangzhou, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam, dengan jadwal kedatangan tiba pukul 19.30 waktu setempat.

Selanjutnya transit selama 4 jam 40 menit, kami transit karena Bandara Udara Baiyun ini menjadi pusat operasional untuk China Southern Airlines yang kami tumpangi.

Kami rehat sejenak di dalam terminal sambil menunggu penerbangan ke Istanbul, untuk menghilangkan kebosanana selama menunggu kamı menukarkan uang rupiah ke mata uang Yuan sebagai mata uang resmi Tiongkok Daratan, sekedar beli makanan ringan.

Selanjutnya pada pukul 23.30, menit waktu setempat, tanggal 22 Agustus perjalanan dilanjutkan dari Bandara Internasional Baiyun Guangzhou menuju bandara Baru Istanbul dengan China Southern Airlines, ditempuh selama kurang lebih 11 jam, sehingga total perjalanan dari Jakarta – Guangzhou– Istanbul yang ditempuh selama kurang lebih 16 jam.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras fisik dan pikiran salama kurang lebih 16 jam, alhamdulillah akhirnya sampai di Istanbul pukul 06.30 menit pagi waktu setempat (ada selisih waktu Indonesia dengan Turki yaitu 4 jam lebih cepat waktu Indonesia).

Setelah menginjakkan kaki di bandara Baru Istanbul, rasanya lelah selama perjalanan terasa terobati, alhamdulillah bisa sampai Istanbul sebagai kota terbesar di Turki (atau Konstantinopel) yang dahulu menjadi ibukota dari Kekaisaran Bizantium dan Kesultanan Utsmaniyah.

Dengan memanfaatkan waktu yang ada, maka kami serombongan yang hanya berjumlah 7 orang langsung menuju tempat yang juga sudah biasa dikunjungi oleh wisatawan mancanegra atau bahasa umumnya di Indonesia biasa disebut turis atau wisman (wisatawan mancanegara).

Kawasan Hagia Sophia, atau Ayasofya, adalah eksplorer pertama kami di Istanbul. Ini menunjukkan kekayaan sejarah dan kemegahan arsitektur Istanbul.

Hagia Sophia merupakan bekas gereja kristen yang berubah menjadi masjid dan sekarang menjadi situs budaya dan sejarah utama di Istanbul Turki, dan ini adalah mahakarya arsitektur yang menarik pengunjung dari seluruh dunia, sebagian kecil dari Indonesia, karena terlihat ada wajah orang Indonesia.

Dilansir dari beberapa sumber, bahwa Hagia Sophia awalnya dibangun sebagai gereja Kristen pada abad ke-6, gereja ini berfungsi sebagai pusat agama dan politik Kekaisaran Bizantium, setelah penaklukan Ottoman, lalu diubah menjadi masjid yang melambangkan kemenangan iman Islam.

Untuk masuk ke Ayasofya, yang merupakan salah satu atraksi wisata utama Istanbul, diperlukan antrian yang memakan waktu setidaknya 10 menit.

Namun, setelah masuk, kami terkagum-kagum dengan arsitekturnya yang luar biasa karena desain inovatifnya, dimensinya yang besar, dan struktur kubah yang menakjubkan.

Ada mihrab dan mimbar yang indah yang dibuat selama konversi masjid, di tambah dengan bingkai tulisan asma Allah dan Nabi Muhammad, serta nama sahabat Rasulullah SAW, sehingga menampilkan pengaruh Islam pada strukturnya.

Dan alhmadulillah karena bertepatan dengan hari jumat, kami memanfaatkan waktu untuk sekaligus melaksanakan ibadah shalat jumat di masjid Ayasofya yang bekas gereja ini.

Karena sudah menjadi situs budaya dunia, maka di dalan masjid Ayasofya ini masih dipertahankan beberapa simbol kegamaan non muslim, cuma ada beberapa yang disamarkan, karena tidak sesuai dengan ajarana Islam, sebab tempat ini juga dikunjungi bukan hanya darı kalagan muslim tapi banyak juga kalangan non muslim, kebanyakan wajah-wajah darı wilayah eropa timur, mungkin seiring dengan libur musim panas.

Luar biasa, baik di dalam maupun di luar, Ayasofya ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan, sehingga pengunjung harus membawa kamera atau smartphone yang penuh dengan baterai untuk mengambil foto atau video, sebab kalau baterainya habis atau memorinya full, maka akan menyesal seumur hidup, soalnya belum tentu bisa kembali lagi tempat ini untuk bisa menikmati dan mengabdikan arsitektur yang luar biasa dengan mosaik yang rumit.

Karena Hagia Sophia terletak di Kawasan Sultanahmet yang bersejarah, dan juga menjadi rumah bagi beberapa landmark ikoni lainnya, seperti masjid Biru dan Istana Topkapi, maka kami harus pandai-pandai untuk mengalokasikan waktu yang cukup untuk menjelajahi semua tempat-tempat wisata di sekitar Ayasofiya ini.

Karena masih ada waktu dan sisa-sisa tenaga darı perjalanan penjang Jakarta-Guanghzou-Istanbul, maka kamı memanfaatkan untuk mengekspoler Masjid Sultanahmet di Istanbul yang juga biasa dikenal di seluruh dunia sebagai Masjid Biru (Blue Mosgue) atau Masjid Sultan Ahmet Camii yang berhadapan dengan Ayasofya.

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Ahmed I dari 1609 hingga 1616, yang diterangi oleh 260 jendela, dihiasi dengan lebih dari 21 ribu ubin biru.

Dari penjelasan tour guide Nur Abdi, salah seorang mahasiswa Indonesia di Kota Isparta Turky, bahwa julukan atau nama se hari-harinya Masjid Biru diambil dari ribuan ubinnya yang biru, tertempel di dinging-dinding dan langit-langit masjid, dengan desain tradisional seperti bunga, untuk dinding lantai atas didominasi lebih 200 kaca patri, sehingga memukau para pengunjung.

Saking menariknya arsitektur bangunan masjid biru ini, disamping juga karena masjid bersejarah yang diarsiteki terkenal Mimar Sinan, dengan menggabungkan banyak elemen Byzantium dengan arsitektur Islam tradisional, sehingga pengunjung bukan hanya darı kalangan muslim, tapi juga banyak darı kalangam non muslim.

Di sekitar masjid ini juga terdapat madrasah tempat belajar anak-anak pada masa itu darı berbagai disiplin ilmu termasuk strategi perang, dan juga terdapat pemakaman keluarga Sultan antara lain istri dan anak-anaknya yang juga banyak dikunjungi para wisatawan.

Setelah mengeksplorer Ayasofya dan kawasan Sultanahmet, maka pada pukul 16 lebih waktu Istanbul, kami menuju ke tempat penginapan untuk mengumpulkan tenaga dan energi agar bisa kembali mengksplorer kawasan wisata lain di turki, sebagai wisatawan mancenagara yang pas-pasan, kami mengambil penginapan berupa apartemen sederhana yang terjangkau kocek sebagai wisatawan  backpaker, namun tidak jauh darı kawasan wisata İstanbul Turki, lumayanlah penghematan.

Semoga perjalanan ini menambah pengetahuan tentang kekayaan sejarah dan budaya Islam khususnya, Salam hangat dari Istanbul, Turki.

Penulis

Arsyad: Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#Ayasofya #istanbul #turki #hagia sophia