RADAR BOGOR - Di pagi yang cerah dengan cuaca yang mulai sedikit panas, sekalipun masih pagi jam 06 30 menit, dan baru saja selesi shalat subuh, yaitu jam 5.30, kami bersiap-siap untuk sarapan pagi dengan menu ala Turki, sekitar kebab dan sejenisnya.
Hari ini adalah, ahad tanggal 25 Agustus 2024, kami kembali mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah di Istanbul, hari ini fokus pada salah satu landmark ikon Turki yaitu Topkapi.
Rasanya siapapun wisman ke Turki tanpa mengunjungi tempat yang satu ini, kayaknya tidak afdol dan belum lengkap penjelajahan kita ke Turki kalau belum menelusur isi yang tersimpan di dalam Topkapi ini sebagi tuan rumahnya.
Topkapi atau Topkapi place, yaitu dahulu menjadi pusat pemerintahan Turki, sekaligus istana yang merupakan dan tempat tinggal sultan Turki Usmaniyah, semenjak Sultan Mahmet II yang berhasil menaklukkan kota Konstantinopel.
Untuk memasuki Topkapi ini, pengunjung memasuki area dengan jalan kaki sedikit menanjak karena terletak di atas bukit yang menghadap ke pantai, lalu sampai di gerbang gedung istana sudah terlihat kemegahan dan arsitek yang menggambarkan kejayaan pada masanya.
Untuk masuk kita harus beli tiket dengan harga cukup mahal untuk ukuran kami wisman pas-pasan, dengan menggunakan uang Turki 1.500 lira turki.
Ketika sudah di dalam, terlihat bangunan-bangunan tempat raja, keluarga dan para pembantunya.
Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa istana Topkapi ini meliputi area seluas sekitar 700.000 meter persegi yang dikelilingi benteng sepanjang sekitar 5 kilometer.
Seiring dengan dekrit presiden tanggal 3 April 1924, kompleks Topkapi menjadi museum yang menyimpan benda-benda peninggalan kerajaaan, sehingga pengunjung tinggal memilih mau masuk untuk melihat-lihat yang mana.
Ruang pertama yang kami masuki adalah ruang penyimpanan benda-benda berupa jam, terdiri dari jam ukuran besar, sedang dan kecil, dengan berbagai bentuknya, yang tampilannya pun sangat menarik, karena memang digunakan oleh para sultan dan keluarganya.
Setelah itu, kami masuk ke gedung yang menyimpan benda-benda alat perang, seperti baju besi, topi besi, pedang, panah, tombak dan lain-lain.
Berikutnya, kami keluar dan melihat ada gedung yang cukup banyak pengunjungnya, dengan antrian yang cukup panjang dan oleh Tour leader Nur Abdi mahasiswa Indonesia di Turki, ia menjelaskan bahwa tempat itu adalah Sacred Relick, yaitu tempat penyimpanan peninggalan para nabi dan sahabat Rasulullah Saw dipamerkan.
Sebagai museum tentu semua pengunjung bisa mengunjunginya, tanpa terkecuali, asal mau saja masuk.
Karena ini adalah tempat sacred relic yang menyimpan benda- benda peninggalan para nabi, maka pengunjung harus berpakaian sopan dan pantas dalam tanda petik, sehingga pengunjung yang tidak berpakaian kurang pantas, akan dipinjamkan pakaian yang bisa terlihat pantas, dan ketika awal masuk, langsung disambut dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran secara langsung yang dibacakan oleh qari dari Turki, dengan suara merdu dan bacaan yang fasih sehingga membuat hati kita terasa tenang dan merasakan kesejukan, konon kabarnya dulu bacaan Al Quran dilantunkan tanpa henti selama 24 jam selama lebih 407 tahun.
Selanjutnya, dengan melangkah sedikit, kami tertuju pada sebuah kayu dengan ukuran sebesar ranting dan setelah di baca penjelasannya, ternyata itu adalah tongkat nabi Musa As, dengan kekaguman, Allahu Akbar, Allah Akbar, dari ribuan tahun yang lalu masih terjaga dengan baik, berwarna coklat kehitaman, lurus dengan dua cabang di ujungnya, dan juga di dalam ada peninggalan nabi Ibrahim As, nabi Daud AS, dan nabi Yusuf As.
Selanjutnya, kami tambah merinding ketika melihat langsung apa yang pernah melekat di badan Rasulullah Saw, seperti jenggot Rasulullah, ada pedang Rasulullah saw, yang digunakan ketika berperang, juga ada cetakan tapak kaki Rasulullah saw ketika mikraj, ada sandal rasululla, masya Allah, masya Allah, juga ada tempat celak Rasulullah.
Melihat benda peninggalan baginda Rasulullah tersebut, muncul kerinduan kepada Rasulullah Saw dan beberapa pengunjung bahkan meneteskan air mata, mungkin terasa sangat dekat dengan rasulullaah Saw ketika menyaksikan benda-benda tersebut.
Keterharuan muncul lagi ketika melihat barang peninggalan dari keluarga Rasulullah Saw, dan sahabat terdekat Rasulullah Saw, yaitu ada jubah Fatimah az Zahra binti Muhammad Saw, ada pedang Abu Bakar ra, pedang Umar bin Khaththa ra, ada pedang Usman bin Affandi ra, serta ada pedang Ali bin Ali Abi Thalib ra, yang memiliki ciri khas di ujungnya. Sementara itu ada koleksi yang berkaitan dengan ka’bah seperti kunci, kiswah, pembungkus hajar aswad dan talang emas, dan juga ada tulisan tangan Al Qur’an pada masa khalifah Usman bin Affan.
Waktu satu hari rasanya tidak cukup menikmati keindahan benda-benda di museum Topkapi ini, karena koleksinya cukup banyak dan sangat mengagumkan, juga karena kaki terasa tidak bisa diinjkkal lagi sudah pegal mengelilingi sebagian dari ruang penyimpanan koleksi, sehingga kami langsung ke bagian belakang bangunan gedung yang pemandangannya masya Allah, sangat indah, karena langsung ke laut dengan pemandangan kota Istanbul yang cantik dan menawan, karena itu, katanya di belakang istana inilah menjadi tempat pavorit para sultan untuk rehat dan mungkin sambil menikmati teh hangat, dan tempat ini juga menjadi pavorit para pengunjung untuk berfoto dan mengambil vidio dengan latar laut dan kota Istanbul.
Sangat menakjubkan, dan memanjakan mata para turis. Karena kaki sudah pegal dan perut juga sudah mulai bunyi, kami keluar dari Topkapi menuju tempat makanan untuk makan siang yang kesorean, karena sudah jam 15.30 waktu setempat.
Menu yang kami pilih adalah makanan khas Turki, pertama kami disuguhi makanan pembuka, sebelum makanan inti, namanya çorba, terdiri dari kuah kental yang dicocol dengan roti kering yang keras, jangan tanya rasanya, kurang enak menurut lidah saya yang pemula makan makanan Turki, setelah habis corba kami disuguhi makanan inti terdiri dari nasi dengan toping kacang (fasülye) dengan lauk daging dengan kuah sedikit, seperti daging cincanglah kalau di rumah makan padang, alhamdulillah kenyang juga.
Semoga eksplorasi kali ini menambah pengetahuan dan kecintaan kepada banginda Rasulullah saw, keluarga dan para sahabatnya. Salam hangat dari Istanbul, Turki. (*)
Penulis:
Arsyad
Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara.
Pembimbing Haji dan Umrah, Bayt el Hikmah
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim