RADAR BOGOR – Wisata budaya ke Prasasti Batutulis merupakan moment tak terlupakan.
Pengunjung diajak menjelajahi masa lampau ke era Kerajaan Pajajaran.
Situs Batutulis Bogor merupakan area penobatan Raja-raja Kerajaan Pajajaran.
Di situs Batutulis terdapat 15 peninggalan berbentuk terasit, batu yang terdapat di sepanjang Sungai Cisadane.
Ada enam batu di dalam cungkup, satu di luar teras cungkup, dua di serambi dan enam di halaman.
Ada juga Batu Tapak Kaki, Batu Tapak Lutut, Batu Lingga, dan Prasasti Batutulis
Prasasti Batutulis dibuat oleh Prabu Surawisesa, Raja Pajajaran untuk mengenang ayahnya, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482-1521 M).
Prabu Surawisesa tersebut berkuasa selama 14 tahun (1521-1535 M).
Konon, prasasti tersebut juga merupakan suatu bentuk penyesalan Prabu Surawisesa atas kegagalannya mempertahankan keutuhan wilayah Kerajaan Pajajaran akibat kalah perang melawan Kesultanan Cirebon yang dibantu Demak.
Perang yang berlangsung dari 1528-1531 menyebabkan Pajajaran kehilangan banyak wilayah bawahan.
Prasasti in situ, masih terletak di tempatnya semula, yaitu di Jalan Batutulis No. 54 RT 02/RW 02, Kota Bogor.
Kapiten Adolf Winkler, pemimpin ekspedisi pasukan VOC, menemukan prasasti tersebut pada tanggal 25 Juni 1690.
Ekspedisi tersebut dilakukan berdasarkan laporan Scipio (1687).
Sebuah monolit (bongkahan batu besar) yang terbuat dari andesit berwarna abu-abu kehitaman menarik perhatian.
Lempengan batu pipih itu meruncing seperti gugunungan.
Jejak sejarah tampak pada tulisan 9 baris dengan aksara tipe Jawa Kuna dan berbahasa Sunda Kuna.
Menurut Djafar (2011), tulisan di Prasasti Batutulis yang disederhanakan sebagai berikut.
1. Wang na pun ini sasakala, prebu ratu purane pun, diwastu
2. Diya wingaran prebu guru dewata prana diwastu diya dingaran sri
3. Baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu de
4. Wata pun ya (siya) nu nyusukna pakwan diya anak rahiyang dewanis
5. Kala sang sida mokta di guna tida. I (ny) cu rahiyang niskala wastu
6. Ka (ny) cana sang sida mokta ka nusa larang ya siya nu nyiyan sakaka
7. La, gugunungan ngabalay, nyiyan samida, nyiyan sang hiyang talaga (wa) rna
8. Mahawijaya, ya siya, pun, : Ꝋ Ꝋ i saka, panyca panda
9. Wa nge (m) ban bumi Ꝋ Ꝋ
Terjemahan:
1. Ꝋ Ꝋ Ong na pun! (kata pembuka atau manggala yang artinya semoga selamat!)
Inilah tanda peringatan (untuk) Prebu Ratu yang telah mendiang (mangkat). Dinobatkan
2. Beliau dengan nama Prebu Guru Dewata Prana. Beliau dinobatkan lagi dengan nama Sri
3. Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu De-
4. Wata. Beliaulah yang memariti Pakuan. Beliau anak Rahiyang Dewa Nis.
5. kala yang telah mangkat di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu-
6. kancana yang mendiang di Nusalarang. Beliaulah yang membuat tanda peringatan
7. (berupa) gugunungan, memperkeras jalan, membuat samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa)-
8. rna Mahawijaya. Beliaulah itu. Ꝋ Ꝋ
Pada tahun Saka, panca panda-
9. wa nge (m) ban bumi Ꝋ Ꝋ
Isi prasasti Batutulis terbagi menjadi 3 bagian, yaitu
· Manggala, yaitu permohonan pada para Dewa untuk memohon perlindungan dan keselamatan.
· Sambandha, yaitu alasan atau tujuan pembuatan prasasti.
Tujuan penulisan Prasasti Batutulis adalah memperingati Prabu Retu yang telah mangkat, yaitu Prebu Guru Dewata Prana yang dinobatkan sebagai Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
· Titimangsa, yaitu angka atau tahun yang masih menjadi perdebatan.
Berdasarkan Djafar (2011), Prasasti Batutulis memiliki angka tahun yang ditulis dalam bentuk candrasengkala, yaitu i saka panca pandawa nje (m) ban bumi atau pada tahun Saka lima pandawa menggendong bumi, berarti 1255 Saka (1355 M).
Opini lain, menyatakan 1355 Saka (1455 M). Sementara banyak pihak menyatakan 1533 M.
Selain Prasasti Batutulis terdapat Batu Lingga. Konon, pengunjung yang berhasil memeluk batu tersebut keinginannya akan terkabul.
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, berhasil memeluk batu tersebut.
Tepat di depan Prasasti Batutulis terdapat batu yang tercetak tapak kaki Prabu Surawisesa.
Jika kaki pengunjung sesuai dengan tapak kaki tersebut, maka pengunjung tersebut merupakan keturunan Prabu Siliwangi.
Ternyata kaki pimpinan Jawa Barat sangat sesuai dengan tapak kaki tersebut.
Batu Sandaran merupakan batu tempat bersandarnya Prabu. Pada masa tersebut belum ada kursi.
Dedi Mulyadi merancang pengembangan situs Batutulis dengan merenovasi arsitektur bangunan di area tersebut dan membuat buku ilmiah terkait Prasasti Batutulis.
Pembuatan buku tersebut akan melibatkan ahli bahasa, ahli sejarah, ahli filologi (naskah kuno), dan geolog.
Sebaiknya, ada pembuatan logo Prasasti Batutulis dan logo Tapak Kaki sebagai branding kawasan situs tersebut.
Bisa dijual suvenir miniatur Prasasti Batutulis; miniatur tapak kaki; ikat kepala ala Sunda, kipas, pulpen, pensil, t-shirt, topi, bola sepak, balon, sandal, tas, dan dompet berlogo Prasasti Batutulis ataupun logo Tapak Kaki; dan lain-lain.
Suvenir lain seperti kalung batu-batuan, boneka bentuk tapak kaki atau batu gugunungan, dan lain-lain.
Penjualan minuman yang memperkuat branding Prasasti Batutulis. Misalnya kopi Bogor dengan kemasan berlogo Prasasti Batutulis.
Demikian pula halnya dengan es doger, es cendol, dan lainnya.
Jika menjual minuman dengan gelas, maka bisa menggunakan sendok yang ujungnya berbentuk tapak kaki.
Es krim cone dengan garnish cokelat yang dibentuk satu aksara Sunda Kuno atau es krim yang bagian luarnya dilapisi cokelat hingga berbentuk seperti batu, kemudian digarnish satu aksara Sunda kuno dengan cokelat putih.
Penjualan makanan sesuai branding Prasasti Batutulis seperti bakso yang dibentuk seperti batu gugunungan. Cokelat praline berbentuk batu.
Makanan berbentuk tapak kaki seperti cireng isi, cookies, roti mini, permen, cokelat, dan lain-lain.
Adakan fasilitas penyewaan baju adat Sunda dan fotografer sehingga pengunjung bisa memakai baju adat tersebut sembari berfoto di situs Batutulis.
Lomba foto di media sosial terkait situs Batutulis sehingga merupakan cara promosi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim