Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Museum Sasmitaloka, Rumah Jenderal Ahmad Yani yang Jadi Saksi Sejarah Kelam G30S PKI

Yosep Awaludin • Minggu, 2 November 2025 | 12:40 WIB
Tampak lebih dekat Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani di Menteng, Jakarta Pusat.
Tampak lebih dekat Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani di Menteng, Jakarta Pusat.

RADAR BOGOR - Peristiwa G30S PKI, menjadi salah satu bagian paling kelam dalam sejarah Indonesia. Salah satu tempat yang menyimpan kenangan peristiwa itu adalah Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani.

Dikutip dari Wikipedia, Museum Sasmitaloka ini berlokasi di Jalan Lembang Nomor 67, Menteng, Jakarta Pusat.

Dulunya, bangunan Museum Sasmitaloka ini merupakan rumah pribadi Jenderal Ahmad Yani, perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

Begitu memasuki halaman Museum Sasmitaloka, pengunjung akan langsung merasakan suasana yang membawa mereka kembali ke malam berdarah 1 Oktober 1965, ketika Jenderal Ahmad Yani diculik dan ditembak di rumahnya sendiri.

Bangunan museum ini dibangun pada tahun 1930 – 1940-an saat wilayah Menteng dan Gondangdia sedang dikembangkan.

Awalnya, rumah ini digunakan oleh pejabat maskapai swasta Belanda atau Eropa sebagai tempat tinggal.

Pada tahun 1950-an, rumah tersebut dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara dan kemudian dihuni oleh Letjen Ahmad Yani yang saat itu menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad).

Setelah tragedi G30S, rumah ini diubah menjadi museum untuk mengenang jasa dan pengorbanan Ahmad Yani.

Museum Sasmitaloka diresmikan pada 1 Oktober 1966 oleh Mayjen Soeharto, setelah rumah ini diserahkan oleh Ibu Yayu, istri Ahmad Yani, beserta keluarga kepada negara.

Keistimewaan museum ini terletak pada keaslian bangunannya. Hampir seluruh bagian rumah dipertahankan seperti kondisi aslinya pada malam kejadian. Setiap ruangan seolah menyimpan kisah dan jejak fisik perjuangan sang jenderal.

Ruang depan dan kamar tidur utama menjadi bagian paling mengharukan. Di ruang depan, terdapat plakat penanda tempat Ahmad Yani tertembak, tidak jauh dari kamar tidur yang menjadi lokasi terakhirnya.

Di kamar tidur, pengunjung dapat melihat barang-barang pribadi Jenderal Ahmad Yani, seperti seragam dinas, tongkat komando, cincin kawin, hingga keris pusaka.

Ada juga replika pakaian tidur milik Ibu Yayu yang digunakan untuk membersihkan darah suaminya menambah suasana haru di tempat itu.

Demi menjaga kehormatan dan kekhidmatan, pengunjung tidak diperbolehkan memotret di area kamar tidur.

Sementara di ruang kerja, koleksi buku, meja, dan kursi masih tersusun rapi seperti dulu, memberi gambaran tentang keseharian Ahmad Yani saat menjalankan tugasnya.

Selain menyimpan benda-benda pribadi, museum ini juga menampilkan medali, trofi, bendera kesatuan, hingga cendera mata diplomatik dari berbagai negara yang pernah dikunjungi Ahmad Yani. Semua koleksi itu menunjukkan kiprah dan dedikasinya di dunia militer dan diplomasi.

Lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, Museum Sasmitaloka menjadi sarana edukasi penting tentang makna perjuangan dan pengorbanan.

Pengunjung bisa belajar langsung tentang semangat loyalitas terhadap Pancasila yang dipegang teguh oleh Ahmad Yani hingga akhir hayatnya.

Melalui museum ini, generasi muda diajak untuk mengenang jasa para pahlawan dan menumbuhkan kembali semangat nasionalisme.

Museum Sasmitaloka bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga pengingat abadi bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan kesiapsiagaan dan pengorbanan tanpa batas. (Raul/BSI)

Bupati Aulia Rahman Basri bersama Tim Bayan Peduli di depan Rumah Sakit Kapal dr Lie Dharmawan III.
Bupati Aulia Rahman Basri bersama Tim Bayan Peduli di depan Rumah Sakit Kapal dr Lie Dharmawan III.
Editor : Yosep Awaludin
#g30s pki #Museum Sasmitaloka #jenderal ahmad yani