RADAR BOGOR - Museum Catur Indonesia, yang diresmikan pada 26 Februari 2025, menjadi museum catur pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Kehadiran Museum Catur Indonesia langsung mencuri perhatian pecinta catur, komunitas seni budaya, hingga keluarga yang ingin mengenalkan permainan berpikir ini kepada anak-anak mereka.
Dikutip dari Tiktok @travelmagzgo, di balik berdirinya Museum Catur Indonesia tersebut, ada kisah panjang dari dua sosok yang percaya bahwa catur bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas bangsa.
Ir. Eka Putra Wirya bersama Grand Master Utut Adianto memimpikan ruang yang dapat merawat perjalanan catur Indonesia, menyajikannya sebagai warisan budaya, sekaligus menghadirkannya dalam bentuk yang dapat dinikmati semua lapisan masyarakat.
Gagasan awal museum ini muncul dari keinginan untuk memperlihatkan kepada publik bahwa catur bukan hanya permainan adu strategi di atas papan kotak-kotak hitam putih.
Melalui koleksi, dokumentasi sejarah, hingga figur-figur yang menginspirasi, museum ini ingin membangun jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan dunia catur di Indonesia.
Eka Putra Wirya dan Utut Adianto ingin menghadirkan ruang yang bukan sekadar menyimpan barang antik, melainkan museum hidup living museum yang memberikan pengalaman, interaksi, sekaligus pembelajaran bagi pengunjung.
Ketika pertama kali memasuki museum, pengunjung disambut suasana tenang namun penuh energi.
Papan-papan catur tersusun rapi, beberapa meja tersedia untuk pengunjung yang ingin mencoba bermain, dan setiap dinding dihiasi cerita perjalanan pecatur Indonesia.
Museum Catur Indonesia ingin menghadirkan catur sebagai medium yang mendekatkan generasi.
Tidak penting apakah seseorang datang sebagai pemain pemula atau pecatur berpengalaman, museum ini menciptakan ruang di mana semua orang bisa berinteraksi dan berproses.
Bagi banyak pengunjung, museum ini memberi sesuatu yang lebih dari sekadar informasi, seperti memberikan pengalaman emosional, nostalgia, dan rasa ingin tahu yang berkelanjutan.
Museum ini membawa misi kuat, yaitu menjadi ruang edukasi, rekreasi, sekaligus pelestarian budaya.
Catur, yang selama ini sering dianggap permainan rumit dan hanya untuk mereka yang memiliki kemampuan tertentu, kini dibingkai dengan cara yang lebih ramah.
Pengunjung belajar di tempat ini, bahwa catur bukan hanya soal memenangkan pertandingan, tetapi soal melatih pola pikir, ketahanan mental, dan kemampuan mengambil keputusan.
Bagi anak-anak, museum ini menjadi tempat bermain sekaligus belajar. Bagi orang dewasa, museum ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana catur telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Bagi komunitas catur, museum ini menjadi simbol yang penting, tempat di mana sejarah dicatat dan masa depan dibayangkan.
Selain koleksi catur yang lengkap, museum ini dilengkapi ruang edukasi dan area praktik bermain.
Jam operasional pun disesuaikan dengan waktu berkunjung keluarga dan pelajar, yaitu hari Selasa–Jumat pukul 15.00–17.00, dan hari Sabtu–Minggu pukul 13.00–17.00 WIB.
Museum tutup setiap Senin dan libur nasional. Harga tiketnya cukup terjangkau, yaitu untuk Dewasa Rp30.000, Pelajar atau Anak: Rp20.000, dan Anak di bawah 4 tahun gratis masuk ke dalam museum catur ini.
Biaya tersebut digunakan untuk perawatan museum serta kegiatan edukasi yang sedang dikembangkan.
Museum Catur Indonesia perlahan menjadi tempat yang tidak hanya dikunjungi pecinta catur, tetapi juga pecinta sejarah, keluarga muda, bahkan content creator yang ingin mengeksplorasi sisi budaya dari permainan klasik ini.
Melalui ruang ini, Eka Putra Wirya dan Utut Adianto ingin menghidupkan kembali tradisi bermain catur sebagai kegiatan yang menyatukan, bukan memisahkan. Catur dipandang sebagai alat yang mengajarkan disiplin, kesabaran, hingga kreativitas.
Dalam era serba cepat dan digital seperti sekarang, museum ini hadir seperti napas segar yang mengingatkan bahwa permainan klasik masih punya tempat penting dalam kehidupan kita.
Museum Catur Indonesia bukan sekadar bangunan dengan papan catur. Museum catur adalah simbol harapan, pelestarian budaya, dan cinta terhadap sebuah permainan yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. (Yumna/SV IPB)
Editor : Yosep Awaludin