RADAR BOGOR – Tahun Baru Imlek selalu menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa, termasuk di Indonesia. Setelah perayaan Imlek, rangkaian tradisi biasanya ditutup dengan perayaan Cap Go Meh yang tak kalah meriah.
Cap Go Meh berasal dari istilah Hokkien yang berarti “malam kelima belas”, yakni malam purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek yang dipercaya membawa harapan baru serta keberuntungan.
Sejumlah daerah di Indonesia menggelar festival budaya Cap Go Meh untuk memperingatinya, menghadirkan beragam atraksi khas yang menarik wisatawan.
Berikut tujuh destinasi menarik untuk menikmati perayaan Cap Go Meh di Indonesia, seperti dirangkum dari situs Kementerian Pariwisata:
1. Bogor Street Festival
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dijadwalkan berlangsung pada 3 Maret 2026 dengan kemeriahan acara di sepanjang Jalan Suryakencana.
Tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehingga menjadi momentum memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan.
Agar masyarakat tetap bisa beribadah dengan nyaman, jadwal pawai budaya disesuaikan pada malam hari setelah salat tarawih.
Rute arak-arakan dimulai dari Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), melintasi Jalan Suryakencana, mengitari kawasan Gang Aut, lalu kembali melalui Jalan Roda.
2. Pawai Tatung di Singkawang
Kota Singkawang dikenal dengan perayaan Cap Go Meh yang sarat akulturasi budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu.
Berbagai kegiatan seperti festival lampion, pertunjukan seni, hingga ritual cuci jalan digelar meriah.
Atraksi utama yang paling ditunggu adalah parade Tatung, yakni peserta yang diyakini dirasuki roh leluhur atau dewa.
Mereka menampilkan aksi kekebalan tubuh seperti berjalan di atas pecahan kaca atau menusukkan benda tajam.
Sebelum tampil, para tatung menjalani puasa selama tiga hari sebagai bagian dari ritual penyucian.
3. Pasar Imlek Semawis di Semarang
Semarang menghadirkan Pasar Imlek Semawis yang meramaikan suasana Imlek hingga Cap Go Meh.
Festival tahunan ini menawarkan beragam kuliner, kerajinan, dan pertunjukan seni bernuansa Tionghoa.
Acara tersebut menarik tidak hanya masyarakat Tionghoa, tetapi juga pengunjung umum yang ingin merasakan atmosfer budaya khas.
Pengunjung dapat mencicipi hidangan populer seperti lumpia Cap Go Meh, nasi Hainan, brokoli saus jamur, hingga aneka kue tradisional.
4. Perayaan Cap Go Meh di Jakarta
Ibu kota juga memiliki sejumlah titik perayaan yang semarak, seperti kawasan Pecenongan, Petak Sembilan Glodok, Taman Budaya Tionghoa TMII, dan Pantai Indah Kapuk.
Di kawasan Glodok, pengunjung dapat menyaksikan atraksi naga dan barongsai, sementara di Pantjoran PIK terdapat pertunjukan barongsai, tarian naga UV, serta hiburan musik langsung yang menambah semarak perayaan.
5. Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar
Festival Jappa Jokka Cap Go Meh menjadi agenda tahunan di Makassar. Istilah “Jappa Jokka” yang berarti berjalan-jalan mencerminkan konsep wisata budaya yang diusung acara ini.
Digelar pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026 di sepanjang Jalan Sulawesi, kegiatan meliputi pasar murah, kegiatan sosial, ngabuburit, hingga buka puasa bersama.
Selain itu terdapat lomba lari malam Hasamitra Heritage Run, arak-arakan Dewa, kirab budaya, barongsai, hingga atraksi seni khas daerah.
6. Perayaan Imlek di Pulau Kemaro, Palembang
Di Palembang, perayaan berlangsung di Pulau Kemaro yang berada di Sungai Musi. Pada Cap Go Meh, masyarakat Tionghoa, khususnya penganut Konghucu, datang untuk berdoa di Klenteng Hok Tjing Rio.
Selain ritual keagamaan, pengunjung dapat menikmati pertunjukan barongsai, wayang potehi, serta kesenian tradisional lainnya. Pulau yang dihiasi lampion tersebut memberikan pengalaman wisata budaya yang unik.
7. Grebeg Sudiro di Solo
Solo menghadirkan tradisi Grebeg Sudiro sebagai simbol harmoni antara masyarakat Tionghoa dan lokal.
Acara ini mencakup arak-arakan, doa bersama, pertunjukan seni, hingga festival kuliner dan bazaar UMKM.
Tradisi ini tidak hanya merayakan Imlek dan Cap Go Meh, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya serta semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Perayaan Cap Go Meh di berbagai daerah tersebut menunjukkan kekayaan budaya sekaligus potensi wisata yang menarik untuk dijelajahi.
Dengan ragam atraksi dan tradisi yang berbeda di tiap kota, masyarakat dapat memilih destinasi sesuai minat untuk merasakan kemeriahan perayaan. (***)
Editor : Yosep Awaludin