RADAR BOGOR - Ramadhan selalu menghadirkan suasana berbeda di berbagai penjuru Nusantara, termasuk di Kota Udang, Cirebon.
Salah satu pusat keramaian spiritual yang tak pernah sepi setiap bulan suci adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Masjid bersejarah ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga magnet bagi warga dan wisatawan yang ingin merasakan nuansa Ramadhan yang kental dengan tradisi, budaya, dan spiritualitas.
Baca Juga: Cek Prosedur Reaktivasi Kartu PBI JK Nonaktif: Syarat KTP dan KK, Bisa Dipakai Kembali dalam 2 Hari
Berlokasi di kawasan Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Jawa masjid ini diyakini berdiri sejak abad ke-15 dan memiliki keterkaitan erat dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.
Dikutip dari jabarprov.go.id, masjid ini didirikan pada tahun 1480 yang melibatkan para wali, termasuk Sunan Gunung Jati, yang menjadi tokoh sentral Islam di wilayah Cirebon.
Ngabuburit Penuh Makna di Masjid Bersejarah
Menjelang waktu berbuka puasa, area sekitar masjid berubah menjadi lautan manusia.
Baca Juga: Viral Mobil Plat D Lawan Arah di Jakarta Pusat, Polisi Ungkap Kronologi Kejar-kejaran hingga Diamuk Massa
Warga datang sejak sore untuk ngabuburit menunggu azan Magrib dengan berbagai kegiatan positif.
Sebagian duduk di serambi masjid sambil membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti kajian singkat yang rutin digelar selama Ramadhan.
Pedagang takjil juga memadati area luar kompleks, menawarkan aneka kuliner khas Cirebon seperti empal gentong, docang, hingga jajanan tradisional.
Baca Juga: Percepatan Pencairan Dana Bansos PKH Plus Rp500 Ribu dan Rp300 Ribu Bagi Lansia, Simak Update Bantuan di Akhir Februari 2026
Suasana ini menciptakan perpaduan unik antara wisata religi dan wisata kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain.
Namun, berbeda dengan pusat keramaian modern, ngabuburit di Masjid Sang Cipta Rasa terasa lebih tenang dan khusyuk.
Banyak pengunjung memilih duduk di dalam masjid, menikmati arsitektur kuno dengan tiang-tiang kayu besar dan lantai yang menyimpan jejak sejarah ratusan tahun.
Baca Juga: Al Nassr Pesta Gol 5-0 atas Al Najma, Cristiano Ronaldo Cs Rebut Puncak Klasemen Liga Arab Saudi
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Masjid Sang Cipta Rasa menjadi pusat kegiatan iktikaf.
Banyak jamaah memilih bermalam di masjid untuk memperbanyak ibadah, berharap meraih Lailatul Qadar.
Karpet digelar, mushaf Al-Qur’an tersusun rapi, dan lampu tetap menyala sepanjang malam.
Baca Juga: Atalanta vs Borussia Dortmund 4-1: Comeback Dramatis, La Dea Lolos ke 16 Besar Liga Champions dengan Agregat 4-3
Panitia masjid biasanya menyediakan air minum, sahur sederhana, serta pengamanan ekstra agar jamaah dapat beribadah dengan nyaman.
Tak sedikit pula anak muda yang memanfaatkan momen ini untuk “retreat spiritual”, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Perpaduan Wisata Religi dan Warisan Budaya
Selain nilai ibadah, daya tarik utama masjid ini adalah keasliannya yang masih terjaga.
Baca Juga: Helat Buka Puasa hingga Santunan Yatim, NasDem Kabupaten Bogor Tegaskan Selalu Ada di Tengah Masyarakat
Bangunan tanpa menara tinggi ini memiliki gaya arsitektur khas Jawa kuno dengan sentuhan budaya lokal.
Pintu rendah di beberapa bagian bahkan mengharuskan pengunjung menunduk, sebuah simbol kerendahan hati saat memasuki rumah ibadah.
Keunikan lain adalah tradisi yang masih dipertahankan, seperti penggunaan bedug besar dan tata cara tertentu dalam pelaksanaan salat Jumat maupun salat hari raya.
Semua ini menjadikan Masjid Sang Cipta Rasa bukan sekadar tempat ibadah, melainkan living heritage, warisan hidup yang terus berfungsi hingga kini.
Baca Juga: Bupati Rudy Susmanto Targetkan Tren Profit Seluruh BUMD di Kabupaten Bogor Harus Meningkat pada 2026
Ramadhan yang Selalu Dirindukan
Bagi masyarakat Cirebon, Ramadhan belum terasa lengkap tanpa berkunjung ke Masjid Sang Cipta Rasa.
Baik untuk ngabuburit santai, berbuka bersama, salat Tarawih, maupun iktikaf di malam-malam terakhir, masjid ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam sekaligus suasana kebersamaan yang hangat.
Di tengah modernisasi kota, keberadaan masjid berusia ratusan tahun ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya soal ritual, tetapi juga tentang tradisi, sejarah, dan jati diri umat.***