RADAR BOGOR - Wisata sejarah kerap dianggap membosankan. Diorama kaca, museum pengap, pemandu yang berbicara seperti mesin ketik. Tapi Jawa Barat tidak sedang menawarkan itu.
Di sini, masa lalu tidak hanya dilihat, ia bisa didaki, dirasakan dinginnya, bahkan diinjakkan kaki di atas batu yang usianya diduga lebih tua dari Piramida Giza.
Berdasarkan data pengunjung di Google Maps, serta laporan dari komunitas sejarah dan traveler Jawa Barat, kelima wisata ini memiliki keunikan yang tidak ditemukan tempat lain di Indonesia.
Dari situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara, gua militer bawah tanah, taman meditasi batu karang, saksi bisu perundingan kedaulatan, hingga candi bata merah tertua di Pulau Jawa.
Mari kita berjalan mundur ke zaman prasejarah, kolonial, hingga awal kemerdekaan. Dimulai dari yang paling kontroversial dan misterius.
1. Situs Megalitikum Gunung Padang (Cianjur)
Mendaki ratusan anak tangga batu kuno yang tersusun rapi di tengah hutan perbukitan. Setiap pijakan membawa Anda semakin dekat ke sebuah misteri yang belum terpecahkan hingga kini.
Itulah Situs Megalitikum Gunung Padang punden berundak terbesar di Asia Tenggara, dengan ribuan balok batu vulkanik berbentuk kolom alami (columnar joint) yang disusun membentuk lima teras raksasa.
Yang membuatnya begitu istimewa? Beberapa penelitian geologi dan arkeologi menduga bahwa struktur di bawah permukaan situs ini berusia jauh lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir. Klaim kontroversial yang membuat dunia arkeologi internasional ikut angkat alis.
Sesampainya di puncak teras tertinggi, Anda akan disuguhi pemandangan magis 360 derajat, hamparan perbukitan hijau dan Gunung Gede Pangrango yang gagah. Jangan lewatkan untuk mengetuk beberapa batu di sini konon ada beberapa yang menghasilkan bunyi berdenting seperti musik, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai batu gamelan.
2. Gua Belanda dan Gua Jepang - Taman Hutan Raya Juanda (Bandung)
Pernahkah Anda berjalan di lorong bawah tanah yang gelap, dingin, dan lembab, di tempat yang sama puluhan tahun lalu, para tentara menyimpan senjata rahasia dan korban Romusha menghembuskan nafas terakhir? Di Tahura Juanda, Anda bisa merasakan dua atmosfer berbeda sekaligus.
Gua Belanda yang dibangun pada 1918 memiliki lorong rapi berstruktur beton, awalnya terowongan penyadapan air yang kemudian beralih fungsi menjadi pusat stasiun radio komunikasi militer dan gudang senjata.
Baca Juga: Curug Buleud Bogor, Hidden Gem dengan Kolam Alami Cantik yang Cuma 2 Jam dari Jakarta
Sementara Gua Jepang yang dibangun dengan tenaga kerja paksa Romusha pada 1942 jauh lebih kasar, gelap, dan bercabang-cabang dirancang untuk tempat perlindungan dan pengintaian.
Sensasi dark tourism di sini sungguh memicu adrenalin, apalagi jika Anda membawa senter sendiri dan menjelajahi lorong-lorong sempit yang dingin menusuk tulang. Jangan khawatir, di dalam kawasan hutan raya yang rimbun ini juga tersedia jalur trekking ringan untuk menetralisir suasana setelah puas bergelap-gelapan di bawah tanah.
3. Taman Sari Gua Sunyaragi (Cirebon)
Jika ada bangunan yang paling layak disebut eksotis dan tidak masuk akal di Jawa Barat, Taman Sari Gua Sunyaragi adalah jawabannya.
Baca Juga: Curug Buleud Bogor, Hidden Gem dengan Kolam Alami Cantik yang Cuma 2 Jam dari Jakarta
Sebuah kompleks cagar budaya dari abad ke-17 yang seluruh permukaan dinding luarnya dilapisi dan dibentuk menyerupai batu karang laut bertekstur kasar, bergerigi, dan terlihat seperti terumbu karang yang membatu.
Di sinilah para Sultan Cirebon dan keluarganya bermeditasi dan beristirahat. Arsitekturnya merupakan perpaduan gila-gilaan, Hindu, Islam, Tiongkok, dan Eropa klasik semua menyatu dalam satu kawasan.
Begitu masuk, Anda akan menemukan labirin batu dengan belasan ruangan kecil tematik tersembunyi. Ada Gua Peteng, ruang meditasi utama yang gelap gulita, dan Gua Kelanggengan yang menurut mitos setempat membawa berkah jodoh.
Kompleks ini juga memiliki panggung pagelaran seni terbuka yang megah sesekali, di waktu-waktu tertentu, pengunjung bisa menyaksikan tari tradisional Cirebon dengan latar bangunan karang kuno yang dramatis.
4. Gedung Perundingan Linggajati (Kuningan)
Berbeda dengan destinasi sebelumnya yang sarat misteri dan mitos, Gedung Linggarjati menawarkan sesuatu yang lebih membumi namun tidak kalah menggugah, keotentikan mutlak. Sebuah gedung bergaya kolonial Hindia Belanda dengan arsitektur art deco yang elegan.
Tapi yang membuatnya istimewa bukanlah bentuk bangunannya, melainkan apa yang terjadi di dalamnya.
Pada November 1946, di salah satu ruangan Sutan Sjahrir dan Wim Schermerhorn duduk berhadapan untuk merundingkan pengakuan kedaulatan de facto Republik Indonesia. Seluruh tata ruang gedung dipelihara persis seperti aslinya saat perundingan berlangsung.
Anda bisa melihat meja perundingan utama, kamar tidur para delegasi dengan perabotan antik, dan koleksi foto-foto hitam putih yang membawa atmosfer tahun 1940-an hidup kembali.
Di luar gedung, taman luas yang asri di kaki Gunung Ciremai menanti untuk sekadar duduk santai sambil meresapi peristiwa bersejarah yang mengubah peta dunia.
5. Situs Percandian Batujaya (Karawang)
Situs Percandian Batujaya mungkin candi yang paling tidak terlihat seperti candi. Tidak ada batu andesit hitam yang megah. Tidak ada relief rumit yang mendetail. Yang ada justru struktur bata merah kuno yang dengan tegak berdiri di tengah-tengah hamparan sawah hijau milik warga.
Baca Juga: Bukan Bali, 4 Destinasi Wisata Laut Tercantik di Sumatera Ini Dijamin Bikin Wisatawan Malas Pulang
Tapi jangan salah, Situs Percandian Batujaya adalah kompleks percandian tertua di Pulau Jawa, dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi. Jauh sebelum Borobudur dibangun.
Dua candi utamanya, Candi Jiwa dan Candi Blandongan, menyuguhkan pemandangan yang sangat kontras dan fotogenik, struktur bata merah purba yang religius berpadu dengan lanskap agraris modern yang menghijau.
Di sini Anda juga bisa melihat koleksi artefak kuno seperti pecahan keramik asing dan manik-manik purba yang disimpan di museum kecil penangkaran situs. Berjalan menyusuri pematang sawah untuk mendekati candi adalah pengalaman tersendiri yang tidak akan Anda dapatkan di candi manapun di Jawa Tengah atau Yogyakarta.
Lima destinasi di atas memiliki satu kesamaan: semuanya menawarkan wisata sejarah yang tidak pasif. Anda tidak hanya melihat dari balik kaca, Anda merasakan dinginnya lorong gua, dan mendaki batu kuno berusia ribuan tahun.***
Editor : Eli Kustiyawati