RADAR BOGOR - Ada ironi yang menarik di Pulau Jawa. Di satu sisi, kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Serang tumbuh menjadi raksasa beton yang penuh sesak dan polusi.
Namun disisi lain, hanya beberapa jam perjalanan dari pusat kemacetan, tersimpan komunitas-komunitas adat yang seolah hidup di zaman yang berbeda, tanpa listrik, tanpa gawai, bahkan tanpa alas kaki.
Jika Anda merasa lelah dengan deru kendaraan dan dering notifikasi yang tak pernah berhenti, maka petualangan ke desa-desa adat di Jawa Barat dan Banten adalah resep healing yang paling radikal.
Di sini, tradisi leluhur bukanlah pertunjukan turistik, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari yang dijaga mati-matian.
Dilansir dari Google Maps, berikut ini destinasi yang menawarkan kontras paling mencolok dengan modernitas. Dari masyarakat yang menolak sabun dan sampo, hingga kampung yang tidak makan nasi selama lebih dari satu abad.
1. Desa Adat Baduy Dalam (Banten)
Berada di perbukitan Kendeng, Kabupaten Lebak, masyarakat Baduy Dalam adalah benteng terakhir perlawanan terhadap modernisasi.
Mereka hidup tanpa listrik, tanpa alas kaki, tanpa kendaraan, dan bahkan tidak boleh menggunakan sabun, sampo, atau pasta gigi karena produk kimia dianggap dapat mencemari alam. Pakaian mereka ditenun sendiri, putih atau biru tua alami.
Untuk mencapai kampung adat di kawasan Urung Kanekes (tersebar di Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik), Anda harus melakukan trekking selama 4–5 jam membelah perbukitan.
Aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung adalah menginap di rumah kayu panggung warga, mengobrol di bawah temaram lampu minyak, dan merasakan kedamaian mutlak tanpa intervensi gawai.
2. Kampung Ciptagelar / Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi, Jawa Barat)
Di kawasan Gunung Halimun Salak, Kasepuhan Ciptagelar menawarkan keunikan yang tidak ditemukan di tempat lain. Mereka mengawinkan tradisi pertanian kuno dengan teknologi modern secara bijaksana.
Siklus hidup masyarakat di sini berpusat pada padi, dengan ritual tahunan besar bernama Seren Taun (pesta panen). Yang paling mencengangkan, mereka memiliki ribuan lumbung padi (leuit) yang mampu menyimpan cadangan beras hingga puluhan tahun dan beras tersebut dilarang keras untuk diperjualbelikan.
Uniknya, meski memegang teguh adat tani tradisional, Ciptagelar memiliki stasiun radio dan televisi komunitas sendiri, serta pembangkit listrik tenaga mikro-hidro mandiri.
Disini Anda bisa menyaksikan secara langsung ritual Seren Taun (jika datang di bulan Juni–Juli), belajar sistem ketahanan pangan adat, dan melihat kontras indah antara rumah panggung tradisional dan antena radio komunitas.
3. Kampung Adat Cireundeu (Cimahi, Jawa Barat)
Hanya sejengkal dari hiruk-pikuk Kota Bandung dan Cimahi, Kampung Adat Cireundeu menyimpan keunikan kuliner yang luar biasa.
Sejak tahun 1918, masyarakat penganut ajaran Sunda Wiwitan ini tidak mengonsumsi nasi dari beras padi. Sebagai gantinya, makanan pokok mereka adalah Rasi (Beras Singkong) keputusan yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah sekaligus strategi ketahanan pangan mandiri.
Rasi diolah dari singkong yang dikeringkan, ditumbuk, lalu dikukus. Rasanya unik, sedikit manis dan pulen.
Para pengunjung dapat mencicipi langsung rasi dengan berbagai lauk tradisional, mengunjungi Hutan Larangan (Leuweung Larangan) dan Hutan Tutupan yang dijaga kelestariannya, serta jika beruntung menyaksikan ritual adat Suraan (Tahun Baru Sunda).
4. Kampung Adat Pulo (Garut, Jawa Barat)
Kampung Pulo di Kecamatan Leles, Garut, adalah permata kecil yang penuh misteri. Terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau (Situ Cangkuang), kampung ini hanya memiliki 6 rumah adat dan 1 mushola, jumlah yang tidak boleh bertambah atau berkurang secara turun-temurun.
Yang unik, sistem kepemimpinan di kampung ini matriarkal, pemilik rumah haruslah seorang wanita. Jika anak laki-laki menikah, dia wajib keluar dari kampung setelah 3 bulan.
Untuk mencapai kampung, Anda harus menaiki rakit bambu tradisional menyusuri situ. Di sini, Anda akan menemukan dua cagar budaya yang berdampingan dengan damai, Candi Cangkuang (candi Hindu abad ke-8) dan makam Embah Dalem Arief Muhammad (tokoh penyebar Islam) sebuah bukti toleransi sejarah yang luar biasa.***
Editor : Eli Kustiyawati