RADAR BOGOR - Ada yang berbeda dengan Kalimantan. Pulau ini tidak menawarkan hiruk-pikuk kota besar atau mal mewah. Sebaliknya, Kalimantan menyuguhkan alam yang masih liar, sungai-sungai besar yang menjadi jalan raya kehidupan, serta budaya yang mengalir deras seperti arus airnya.
Bagi Anda yang merasa jenuh dengan liburan mainstream, inilah saatnya menjelajahi sisi lain Indonesia yang belum banyak tersentuh.
Berdasarkan data dari Google Maps, empat destinasi di Kalimantan ini berhasil mengoleksi rating tinggi dari wisatawan lokal maupun mancanegara.
Baca Juga: Prabowo Tunjuk AHY Pimpin Komite Kereta Cepat Whoosh, Gantikan Luhut Binsar Pandjaitan
Dari ekowisata kelas dunia yang menjadi rumah bagi orang utan, hingga kepulauan dengan danau ubur-ubur tanpa sengat yang hanya ada di beberapa tempat di dunia.
Pulau ini memang tidak instan. Perjalanan kesana butuh waktu, tenaga, dan kesabaran ekstra. Namun begitu Anda tiba, setiap tetes keringat akan terbayar lunas oleh pemandangan yang hanya bisa ditemukan di Kalimantan.
1. Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah)
Tanjung Puting adalah pusat rehabilitasi orangutan terbesar di dunia, tetapi daya tariknya bukan sekadar melihat monyet. Di sini, Anda akan menyaksikan langsung prosesi pemberian makan orangutan di panggung kayu (feeding platform) di Camp Leakey, di mana primata pintar ini turun dari pepohonan dengan gerakan lambat dan penuh martabat.
Baca Juga: Waisak 2026: 1.052 Narapidana dan Anak Binaan Buddha Terima Remisi, Enam Orang Langsung Bebas
Yang disuguhkan bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan pengalaman ekowisata imersif selama 2-3 hari di atas Perahu Klotok, kapal kayu tradisional yang menjadi hotel apung Anda.
Dari atas geladak, Anda bisa menyusuri Sungai Sekonyer yang tenang, menyaksikan bekantan (monyet hidung panjang) melompat dari dahan ke dahan, mendengar suara burung rangkong yang menggema, serta menikmati matahari terbenam yang memantul di permukaan sungai yang gelap.
Destinasi ini menawarkan wisatawan tur sungai multi-hari dengan menginap di atas perahu yang dilengkapi kasur, toilet sederhana, dan dapur.
Selama perjalanan, Anda bisa mengamati satwa liar dari jarak dekat seperti orang utan, bekantan, buaya muara, serta berbagai spesies burung tropis. Selain itu, ada juga kesempatan trekking ringan di hutan hujan tropis bersama pemandu lokal yang sangat paham dengan medan sekitar.
2. Kepulauan Derawan (Kalimantan Timur)
Derawan adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia yang memiliki danau ubur-ubur tanpa sengat, tepatnya di Pulau Kakaban.
Daya tarik utama di sini adalah sensasi berenang di tengah ribuan ubur-ubur lembut yang tidak menyengat, rasanya seperti melayang di dalam akuarium raksasa, dengan tubuh-tubuh transparan yang bergoyang di sekeliling Anda tanpa rasa takut.
Selain itu, perairan Derawan juga merupakan habitat penyu hijau raksasa yang bisa Anda temui saat snorkeling atau diving, bahkan di pinggir dermaga sekalipun.
Pulau Maratua menawarkan resor atas air dengan pemandangan laut biru kehijauan yang langsung menghubungkan Anda ke terumbu karang hanya dengan melompat dari balkon kamar.
Baca Juga: Update Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 2, Simak Jadwal Cair dan Uji Coba Bansos Digital 2026
Anda bisa menikmati snorkeling dan diving di spot kelas dunia dengan terumbu karang yang masih utuh, serta berenang bersama ubur-ubur tak bersengat di Danau Kakaban, pengalaman unik yang hanya ada di Derawan, Palau, dan Meksiko.
Anda juga akan bertemu penyu hijau raksasa langsung di tepi pulau, bahkan saat berjalan di air dangkal. Untuk menjelajahi berbagai pulau, tersedia tur speedboat yang menghubungkan Kakaban, Maratua, Derawan, dan Sangalaki. Akomodasi yang tersedia meliputi homestay dan resor terapung yang nyaman.
3. Pasar Terapung Lok Baintan (Kalimantan Selatan)
Lok Baintan bukan sekadar pasar, melainkan denyut nadi budaya sungai suku Banjar yang masih hidup hingga kini.
Hal menariknya adalah kesempatan untuk menyaksikan dan terlibat langsung dalam sistem perdagangan khas abad ke-17, jual beli di atas perahu kayu (jukung) dengan sistem barter yang kadang masih dipraktikkan.
Baca Juga: Proses Pencairan Bansos PKH dan BPNT Triwulan Kedua Berlanjut, 94,29 Persen KPM Sudah Diproses
Para pedagang, didominasi ibu-ibu bertopi caping (tanggui), menjajakan pisang, ubi, kue tradisional, sayuran, hingga kain Sasirangan dari perahu ke perahu.
Sebagai wisatawan, Anda bisa menyewa perahu kecil, mendekati setiap jukung, membeli sarapan panas di atas air, dan merasakan atmosfer yang perlahan punah digerus modernitas. Waktu terbaik adalah pukul 06.00 – 08.00 WITA, saat matahari pagi belum meninggi dan asap dari tungku perahu masih mengepul tipis.
Anda bisa menyewa perahu wisata seharga Rp50.000–Rp100.000 per jam untuk berkeliling di antara pedagang. Menikmati wisata kuliner terapung dengan membeli langsung kue tradisional seperti pau, bingka, putu mayang, pisang goreng, dan minuman hangat dari perahu pedagang.
Jika ingin lebih lengkap, tersedia juga tur kombinasi dengan wisata sungai lainnya, seperti menjelajahi Pulau Kembang atau mencari bekantan.
Baca Juga: PSG Cetak Sejarah di Liga Champions 2026, Samai Rekor Langka Real Madrid
4. Loksado dan Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan)
Loksado menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di destinasi arung jeram lain di Indonesia, rafting di atas rakit bambu tradisional (Lanting Pari).
Tidak ada perahu karet, tidak ada helm norak, hanya Anda, rakit bambu panjang yang diikat tali rotan, dan seorang joki lokal yang berdiri di belakang dengan galah bambu sebagai kemudi.
Pengunjung bisa merasakan sensasi petualangan yang otentik dan agresif menyusuri jeram Sungai Amandit yang airnya jernih kehijauan.
Sepanjang 1-2 jam perjalanan, Anda akan melaju di antara bebatuan besar, melewati tebing-tebing hijau, dan sesekali disiram cipratan air dingin yang menyegarkan.
Setelah rafting, Anda bisa trekking ke air terjun tersembunyi (seperti Air Terjun Riam Bajay atau Riam Kiwa) atau mengunjungi rumah adat suku Dayak Meratus untuk mengetahui tentang pengobatan tradisional dan tenun.
Baca Juga: Arsenal Gagal Lagi Juara Liga Champions, Perpanjang Kutukan Final Kompetisi Eropa
Jika beruntung, Anda dapat melihat upacara adat Bagaraga sekaligus belajar tentang kearifan lokal suku Dayak. Selain itu, Anda juga bisa merasakan pengalaman menikmati masakan khas suku Dayak seperti wadi (ikan).***
Editor : Asep Suhendar