RADAR BOGOR - Di tengah kawasan Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta terdapat sebuah bangunan pendopo yang memiliki peran lebih dari sekadar tempat berkumpul.
Bangunan tersebut menjadi pusat kegiatan edukasi bagi para pelajar dan rombongan pengunjung yang datang untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta perjalanan hidup Presiden Kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto.
Pengelola Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto, Gatot mengatakan, pendopo utama dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai kebangsaan dan semangat perjuangan para pendiri bangsa.
Baca Juga: Rahasia Cita Rasa Lintas Generasi: Membongkar 5 Destinasi Kuliner Paling Dicari di Tangerang
Menurutnya, setiap rombongan siswa yang berkunjung selalu mendapatkan pembekalan mengenai nasionalisme, wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, hingga kisah perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia.
Kisah Perjuangan yang Menjadi Inspirasi Generasi Penerus
Bagi para pengunjung, kunjungan ke museum tidak hanya sebatas melihat koleksi sejarah.
Mereka juga diajak memahami bagaimana para pejuang terdahulu berjuang dengan penuh pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan pribadi.
Gatot menjelaskan, semangat perjuangan yang diwariskan para pahlawan menjadi salah satu pesan utama yang terus disampaikan kepada para pelajar.
Para pejuang, kata dia, berjuang dengan ketulusan demi masa depan bangsa dan generasi yang akan datang.
Berkat perjuangan tersebut, masyarakat Indonesia saat ini dapat menikmati kemerdekaan, memperoleh pendidikan yang lebih baik, serta memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan meraih kehidupan yang lebih sejahtera.
"Generasi muda perlu memahami bahwa berbagai kemudahan yang dirasakan saat ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu bangsa," ujar Gatot.
Filosofi 'Mikul Dhuwur Mendhem Jero' yang Terus Dijaga
Selain menanamkan nilai nasionalisme, museum juga memperkenalkan filosofi Jawa yang pernah disampaikan oleh adik kandung Soeharto, almarhum Probosutedjo.
Gatot menuturkan bahwa filosofi tersebut dikenal dengan istilah mikul dhuwur mendhem jero, sebuah ajaran yang mengandung pesan moral mendalam tentang cara menghormati sesama.
Baca Juga: Bukan Cuma Gudeg, Ini 5 Kuliner Legendaris Jogja yang Punya Sensasi Rasa Berani dan Bikin Nagih
Dalam filosofi tersebut, kebaikan yang pernah dilakukan seseorang hendaknya dijunjung tinggi dan terus dikenang.
Sebaliknya, kekurangan atau kesalahan yang pernah terjadi sebaiknya tidak terus-menerus diungkit, melainkan disimpan dan dijadikan pelajaran.
Nilai tersebut mengajarkan pentingnya menghargai jasa orang lain serta menyebarkan teladan positif kepada masyarakat dan generasi penerus bangsa.
Pesan Moral untuk Membangun Karakter Anak Bangsa
Menurut Gatot, filosofi mikul dhuwur mendhem jero masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan modern.
Nilai itu mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada hal-hal positif yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi lingkungan sekitar.
Melalui pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu membangun karakter yang kuat, menjunjung tinggi nilai kebaikan, serta meraih prestasi dengan cara-cara yang bermartabat.
"Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kebaikan harus terus diwariskan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam meraih cita-cita," jelasnya.
Museum yang Menjadi Pusat Pendidikan Karakter
Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi karakter bagi generasi muda.
Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan di pendopo utama, museum berupaya menjaga semangat nasionalisme sekaligus menanamkan nilai-nilai moral yang diwariskan para pendahulu bangsa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim