Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hidden Gems Ubud 2026: Dari Air Terjun Tegenungan hingga Panorama Tegallalang Mampu Sejukkan Hati saat Liburan

Gabriel Anderson Nainggolan • Jumat, 5 Juni 2026 | 05:43 WIB
Tegenungan Waterfall (kiri) dan Monkey Forest (kanan) di kawasan Ubud, Bali. (Foto: Tangkapan Layar YouTube Bali Uptodate)
Tegenungan Waterfall (kiri) dan Monkey Forest (kanan) di kawasan Ubud, Bali. (Foto: Tangkapan Layar YouTube Bali Uptodate)

RADAR BOGOR – Ubud selalu punya cara sendiri membuat orang melambat. Di sini, wisata tidak melulu soal berpindah tempat, tetapi tentang merasakan jeda: berjalan di punggung bukit yang hijau, menyapa pasar seni yang ramai namun hangat, hingga menutup hari di tepi sungai sambil memandangi lembah.

Pada 2026, banyak destinasi di sekitar Ubud tetap jadi favorit karena aksesnya mudah, pilihan aktivitasnya beragam, dan suasananya kuat mulai dari alam yang segar, budaya yang hidup, sampai situs sejarah yang mengikat cerita Bali masa lampau.

Perlu dicatat, kisaran harga tiket masuk dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat musim liburan atau periode ramai.

Dilansir dari YouTube Bali Uptodate, salah satu destinasi alam yang paling mudah dijangkau dari pusat Ubud adalah Tegenungan Waterfall di Kemenuh, Sukawati, Gianyar.

Baca Juga: Destinasi Heritage Kian Rapi dan Fasilitas Spot Alam yang Makin Lengkap Bikin Banyak Wisatawan Kepincut

Air terjun ini dikenal memiliki debit air yang cukup besar sepanjang tahun, membuatnya tidak sekadar cantik di musim tertentu saja. Dengan HTM perkiraan 2026 sekitar Rp20.000–Rp30.000 per orang, beberapa pengalaman pengunjung juga menyebut kisaran Rp15.000–Rp20.000, namun tarif dapat berubah sesuai kebijakan terbaru.

Perjalanan turun melalui tangga menuju dasar air terjun memberi sensasi "masuk" ke alam, dan begitu tiba, pilihan aktivitasnya jelas: berenang, bermain air, atau berburu foto dengan latar jatuhan air yang dramatis.

Fasilitas seperti area parkir, toilet dan ruang bilas, serta warung dan kafe membuat kunjungan tetap nyaman tanpa perlu terburu-buru pulang.

Jika ingin merasakan Ubud yang paling ikonik, Sacred Monkey Forest Sanctuary di Jl. Monkey Forest adalah tempat yang sering disebut pertama kali.

Baca Juga: Menarik, 7 Wisata Pegunungan Tercantik di Lampung yang Siap Memanjakan Mata, Kebun Raya Liwa Salah Satunya

Hutan konservasi ini bukan hanya ruang hijau, tetapi ekosistem kecil yang hidup, tempat lebih dari 1.200 monyet ekor panjang berkeliaran bebas di antara pepohonan tropis dan tiga pura kuno.

Perpaduan alam, situs spiritual, dan satwa liar menciptakan pengalaman yang khas Ubud: terasa magis tetapi tetap nyata. Untuk 2026, tiket wisatawan domestik disebut sekitar Rp90.000 untuk dewasa dan Rp60.000 untuk anak-anak, sementara wisatawan asing umumnya lebih mahal.

Jalur pedestrian di dalam hutan membuat aktivitas jalan kaki terasa menyenangkan, ditambah toilet dan pusat informasi yang membantu pengunjung memahami aturan serta etika berinteraksi agar kunjungan tetap aman dan tertib.

Setelah lelah berjalan, Ubud Art Market atau Pasar Seni Ubud bisa menjadi transisi yang pas dari alam menuju budaya. Lokasinya berada di Jl. Raya Ubud No. 35, tepat di pusat Ubud, dan akses masuknya gratis.

Baca Juga: Ada Kawanan Gajah hingga Pemandangan Selat Sunda, Inilah 7 Hidden Gem di Lampung yang Tidak Bisa Kamu Dapatkan di Provinsi Lain

Pasar ini sering dianggap "surga oleh-oleh" karena ratusan kios kerajinan menawarkan beragam produk handmade yang kuat identitasnya: tas rotan, lukisan, kain, hingga ukiran kayu.

Suasananya khas pasar seni, penuh warna dan cerita, karena banyak barang terasa seperti dibuat dengan tangan dan rasa, bukan sekadar produksi massal. Di sekitarnya tersedia ATM, toko-toko, serta restoran dan kafe yang membuat agenda belanja bisa diselingi istirahat singkat tanpa harus berpindah jauh.

Untuk pengalaman visual yang dibuat seolah memang diciptakan bagi pencinta kamera, Taman Dedari di kawasan Kedewatan, Ubud, sering jadi kejutan yang menyenangkan. Tempat ini umumnya gratis untuk masuk, tetapi pengunjung biasanya menikmati makanan atau minuman di area restoran.

Yang membuatnya menonjol adalah patung bidadari raksasa yang bisa mencapai sekitar 10 meter, berdiri seperti penjaga di lanskap yang terbuka. Pemandangan lembah dan Sungai Ayung menjadi latar yang terasa megah sekaligus menenangkan, apalagi jika datang saat cahaya sore mulai lembut.

Baca Juga: 7 Wisata Pantai Tersembunyi di Sumatera Selatan dengan Pasir Putih, Penyu Langka Hingga Air Sebening Kristal

Taman luas, spot foto yang instagramable, toilet, serta area parkir menjadikannya tempat singgah yang cocok untuk rehat tanpa kehilangan momen estetis, apalagi dengan reputasinya yang pernah menjadi lokasi syuting "Wonderland Indonesia".

Bila Ubud adalah tentang melambat, maka Campuhan Ridge Walk sering disebut sebagai cara paling sederhana untuk merasakan "Ubud yang sunyi" tanpa harus pergi jauh. Jalur ini berada di sekitar area Jl. Raya Ubud, Kelusa, Payangan, dan gratis untuk dinikmati.

Trekking-nya ringan, lebih mirip jalan santai panjang di punggung bukit, dengan panorama perbukitan hijau yang terbuka. Banyak orang datang pagi atau menjelang sore karena tempat ini dikenal sebagai salah satu spot sunrise dan sunset terbaik di Ubud.

Di sepanjang area sekitar jalur, terdapat kafe dan warung yang bisa jadi tempat jeda setelah berjalan, sementara area istirahat dan parkir di sekitar lokasi membantu perjalanan tetap praktis. Yang paling dicari dari Campuhan bukan fasilitas mewah, melainkan suasana: tenang, jauh dari keramaian pusat, dan terasa seperti tombol "mute" untuk hari yang bising.

Baca Juga: Terungkap 5 Danau Tersembunyi di Sumatera Selatan yang Bikin Penasaran, Ada yang Berbentuk Tapal Kuda

Dari jalur alam, Ubud juga punya jantung budaya yang hidup di Puri Saren Agung atau Puri Saren Ubud di Jl. Raya Ubud No. 8. Area kompleksnya umumnya gratis, tetapi pertunjukan tari tradisional malam hari biasanya berbayar sekitar Rp100.000–Rp150.000 dan dapat berubah sesuai jadwal atau periode tertentu.

Sebagai bekas istana keluarga kerajaan Ubud, puri ini menawarkan arsitektur Bali klasik yang indah, dengan detail ornamen yang kuat dan sudut-sudut yang terasa seperti galeri terbuka.

Lokasinya juga strategis karena berhadapan dengan Pasar Seni Ubud, sehingga agenda belanja, jalan kaki, dan menikmati seni pertunjukan bisa dirangkai dalam satu area tanpa banyak waktu di jalan.

Untuk yang ingin paket lengkap antara pemandangan sawah terasering dan aktivitas pemacu adrenalin ringan, Alas Harum Bali di Jl. Raya Tegallalang menjadi destinasi yang sering masuk daftar.

Baca Juga: Hanya Butuh 1 Tiket untuk 2 Wahana? Ini 5 Tempat Wisata Favorit Anak di Palembang yang Dirancang untuk Liburan Keluarga

HTM perkiraannya untuk area dasar sekitar Rp50.000–Rp100.000, sedangkan wahana tambahan seperti swing, flying fox, atau sky bike dikenakan biaya terpisah. Keunggulan Alas Harum terletak pada "banyak aktivitas dalam satu lokasi": ada coffee plantation, restoran, spot foto, infinity pool, hingga wahana ekstrem yang membuat pengalaman tidak monoton.

Pemandangan sawah terasering yang fotogenik menjadi alasan utamanya, karena Ubud dan Tegallalang memang identik dengan lanskap hijau bertingkat yang sering muncul di kartu pos dan media sosial.

Ubud juga menyimpan lapisan sejarah yang lebih tua melalui Goa Gajah di Bedulu, Blahbatuh, Gianyar. Situs peninggalan abad ke-11 ini dikenal dengan relief pintu gua yang unik dan ikonik, menghadirkan kesan mistis sekaligus artistik.

Keunggulan Goa Gajah terletak pada perpaduan sejarah Hindu dan Buddha Bali yang menyatu dalam satu kawasan, membuat kunjungan terasa seperti membaca bab lama dari kisah pulau ini.

Baca Juga: Air Terjun Tirai Hijau Raksasa hingga Kolam Hijau Toska: 6 Curug Paling Estetik di Sumatera Selatan yang Tersembunyi

Untuk HTM perkiraan 2026, wisatawan domestik disebut sekitar Rp25.000–Rp50.000, sedangkan wisatawan asing umumnya lebih tinggi. Fasilitas seperti area parkir, toilet, tempat ibadah, dan jalur wisata sejarah membuat alurnya jelas bagi pengunjung yang ingin menikmati tempat ini tanpa bingung.

Dan ketika bicara Ubud, nama Tegallalang Rice Terrace nyaris selalu muncul sebagai "pemandangan khas Bali" yang paling banyak diingat orang.

Tiket masuk Tegallalang Rice Terrace disebut sekitar Rp25.000–Rp50.000, sementara swing dan wahana foto dikenakan biaya tambahan. Daya tariknya ada pada kombinasi lanskap dan aktivitas: trekking di area sawah terasering untuk merasakan tekstur alam yang nyata, lalu pilihan spot foto ikonik seperti sarang burung atau titik-titik pandang yang memang dirancang untuk menangkap sudut terbaik.

Kehadiran restoran, kafe, dan area parkir membuat kunjungan terasa mudah, sehingga Tegallalang cocok untuk yang ingin menikmati pemandangan tanpa harus menempuh perjalanan yang terlalu ekstrem.

Baca Juga: Dari Pagoda 9 Tingkat hingga Puncak 3.159 MDPL: 6 Petualangan Epik di Sumatera Selatan yang Underrated

Jika waktu terbatas dan ingin versi "wajib Ubud" yang paling sering direkomendasikan, kombinasi yang paling mewakili biasanya dimulai dari Sacred Monkey Forest Sanctuary untuk pengalaman ikonik, lanjut Tegallalang Rice Terrace untuk lanskap Bali yang klasik, kemudian Campuhan Ridge Walk untuk suasana tenang, disusul Tegenungan Waterfall untuk kesegaran alam, dan ditutup dengan Taman Dedari untuk momen santai yang tetap cantik.

Lima destinasi ini memberi paket lengkap: alam, budaya, sejarah, satwa liar, dan spot foto terbaik, tanpa membuat perjalanan terasa berlebihan.***

Editor : Eli Kustiyawati
#wisata #bali #ubud