Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Rekomendasi 5 Destinasi Ekowisata Berkelanjutan di Jawa Timur: Liburan yang Bikin Hati Tenang, Sekaligus Mengedukasi

Kholikul Ihsan • Minggu, 7 Juni 2026 | 11:45 WIB
Ilustrasi Ekowisata Konservasi Mangrove. (Foto: Pexels/Keerthi Kumar)
Ilustrasi Ekowisata Konservasi Mangrove. (Foto: Pexels/Keerthi Kumar)

RADAR BOGOR - Pernahkah Anda merasa ada yang ganjal setelah liburan? Keindahan alam yang dikunjungi terasa begitu memukau, tapi sampah plastik berserakan di mana-mana. Akhirnya, yang Anda dapatkan bukanlah panorama indah, mood yang berubah.

Ada cara lain untuk berwisata. Cara di mana Anda bisa menikmati keindahan tanpa harus merusak sumber keindahan itu sendiri. Namanya wisata alam berkelanjutan atau sustainable ecotourism.

Jawa Timur merupakan laboratorium hidup untuk model wisata semacam ini. Dari hutan mangrove di Surabaya hingga kebun kopi organik di lereng Ijen, berikut ini 5 destinasi ekowisata terbaik berdasarkan Google maps.

Baca Juga: 7 Hidden Gem di Jawa Timur yang Lebih Sunyi dan Tenang: Ada Air Terjun yang Jatuh Bukan ke Sungai, tapi ke Laut, Lokasinya di Sini

1. Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna (Malang)

Bayangkan sebuah pantai dengan gradasi tiga warna, biru tua, biru toska, dan hijau kecoklatan dari hamparan mangrove. Itulah Pantai Tiga Warna. Tapi yang membuat CMC benar-benar istimewa adalah sistemnya. 

Sebelum masuk, petugas akan mendata semua sampah potensial yang Anda bawa, bungkus snack, botol plastik, apa pun. Saat keluar, mereka akan mencocokkan. Kurang satu? Denda. 

Keras memang, tapi berkat aturan ini, terumbu karang di sini adalah yang paling perawan di selatan Malang. Aktivitas yang direkomendasikan adalah snorkeling di antara ikan-ikan warna-warni yang tak takut manusia, menanam bibit mangrove di area rehabilitasi, atau sekadar mendayung kano menyusuri sungai bakau yang teduh.

Baca Juga: Ada Fenomena yang Cuma Bisa Dilihat Tengah Malam, Ini 6 Spot Wisata di Jawa Timur Paling Aesthetic yang Tidak Akan Kamu Temukan di Daerah Lain

2. Desa Wisata Tamansari dan Kopi Karangrejo (Banyuwangi)

Ini adalah kisah sukses transformasi sosial. Dulu, warga di lereng Gunung Ijen ini dikenal sebagai pemburu liar dan perusak hutan. Kini, mereka adalah pemandu wisata, penjaga mata air, dan petani kopi organik terbaik.

Disini Anda bisa mengikuti tur From Bean to Cup yang lengkap, dipandu langsung petani, Anda akan berjalan di bawah naungan pohon hutan raksasa, memetik buah kopi merah, memanggangnya sendiri, lalu menyeduh kopi luwak, tapi dengan cara etis (bukan memaksa luwak makan kopi). 

Suasananya sejuk, sunyi, hanya terdengar suara burung dan gemericik air dari mata air alami yang mereka jaga mati-matian.

Baca Juga: Tersembunyi di Dalam Pasar Warung Jambu, Snapops Jadi Analog Photobooth Pertama di Bogor dengan Nuansa Retro Jadul

3. Ekowisata Mangrove Wonorejo (Surabaya)

Siapa bilang wisata berkelanjutan harus jauh ke pegunungan? Di tengah hiruk-pikuk Surabaya, tepatnya di pesisir timur, ada oase hijau bernama Mangrove Wonorejo. 

Tempat ini adalah benteng terakhir Kota Pahlawan dari abrasi dan rob. Tapi lebih dari itu, kawasan ini menjadi tempat persinggahan utama bagi ratusan spesies burung migran yang terbang dari Siberia hingga Australia.

Anda bisa berjalan di atas jembatan kayu sepanjang 1,5 kilometer yang meliuk di atas rawa bakau, menyewa perahu motor kecil untuk menyusuri sungai hingga muara, atau sekadar duduk diam di menara pandang sambil mengamati elang bondol yang terbang rendah. Udara disini terasa berbeda: lembab, asin, tapi menyejukkan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Basah-basahan, 6 Waterpark di Jawa Timur Ini Miliki Kolam Ombak Tsunami hingga Pesawat Boeing Asli

4. Desa Ekowisata Gubugklakah (Malang)

Udara dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti kebun apel di pagi hari, dan Anda sedang memetik buah apel manis langsung dari pohonnya, tanpa pestisida. 

Itulah pagi hari di Gubugklakah. Desa yang berada di jalur alternatif menuju Bromo via Malang ini mengusung pertanian organik terpadu sebagai tulang punggung ekowisatanya.

Pendapatan dari wisata digunakan untuk membersihkan sungai-sungai purba di lereng Bromo dan menjaga kualitas tanah. 

Baca Juga: 6 Wisata Air Terjun Tersembunyi di Jawa Tengah yang Eksotis dan Menawan, Dijamin Bikin Pikiran Tenang

Setelah puas memetik apel, Anda bisa mencoba river tubing (naik ban di sungai) yang airnya sangat jernih karena hulu sungainya masih terjaga. Atau jika ingin yang lebih santai, bersepeda di antara hamparan kebun sayur dan pinus adalah pilihan yang tepat.

5. Kawasan Ekowisata Solor (Bondowoso)

Di tengah hamparan sabana hijau yang luas, berdiri gugusan batu-batu raksasa purba. Formasinya tersusun secara alami, seolah-olah tangan raksasa masa lalu menyusunnya menjadi semacam altar.

Inilah Solor, yang sering dijuluki Stonehenge-nya Jawa Timur oleh para pelancong asing. Yang membuat tempat ini istimewa dari sudut pandang keberlanjutan, tidak ada bangunan beton permanen di kawasan ini.

Pengelola sengaja membatasi pembangunan untuk mempertahankan keaslian formasi geologi dan sabana di sekitarnya. Komunitas lokal dilatih sebagai pemandu geowisata yang akan menjelaskan proses pembentukan batuan purba ini.***

Editor : Eli Kustiyawati
#hutan mangrove #jawa timur #wisata #ekowisata #liburan