RADAR BOGOR - Yogyakarta selalu menjadi destinasi wisata. Kota ini punya cara tersendiri untuk membuat setiap pengunjungnya pulang dengan cerita, entah itu karena senyum abdi dalem di Keraton, segarnya angin pantai Parangtritis, atau gemuruh jejak Merapi yang masih terasa hangat.
Sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa sekaligus kota pelajar, Yogyakarta selalu menjadi destinasi wisata yang tak pernah pudar. Dari generasi ke generasi, para pelancong datang, bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan denyut nadi sebuah peradaban yang masih hidup.
Dilansir dari Google Maps, 6 destinasi wisata unggulan yang wajib masuk daftar kunjungan Anda di Yogyakarata. Catat, karena akan kita bedah satu persatu.
1. Jalan Malioboro dan Titik Nol Kilometer
Malioboro sekarang berbeda. Dulu semrawut dengan kendaraan, kini jalur pedestrian-nya lebar, bersih, dan dipenuhi bangku kayu klasik.
Di malam hari, lampu-lampu kota yang berwarna hangat menyala, para busker (pengamen jalanan) memainkan lagu-lagu romantis, dan aroma gudeg semerbak dari deretan lesehan.
Jalan kaki dari Stasiun Tugu hingga Titik Nol Kilometer terasa seperti berjalan di lorong waktu, di kiri kanan berdiri bangunan kolonial tua yang megah.
Pengunjung dapat berfoto dengan papan nama Jl. Malioboro yang ikonik, naik andong sambil mendengar cerita dari kusir tua, dan mampir ke Malioboro Underground (bawah tanah) untuk beli oleh-oleh batik tanpa harus panas-panasan.
Datanglah sore menjelang maghrib. Suasana peralihan dari siang ke malam di Malioboro adalah yang paling magis.
2. Kompleks Keraton Yogyakarta dan Taman Sari
Tidak seperti istana-istana di Eropa yang hanya menjadi museum mati, Keraton Yogyakarta masih dihuni dan dijalankan fungsinya oleh Sultan beserta keluarga dan para abdi dalem.
Saat berjalan di halaman keraton yang sejuk, Anda akan melihat para abdi berpakaian adat lengkap, duduk dengan tenang di pendopo, bukan untuk turis, tapi karena itu memang tugas hidup mereka.
Di sisi selatan, Taman Sari menyimpan kejutan, bekas pemandian pribadi Sultan dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Portugis. Jangan lewatkan Sumur Gumuling, sebuah masjid bawah tanah berbentuk lingkaran unik yang berada di tengah kolam kering.
Aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung adalah menyewa pemandu lokal (lebih baik dari abdi dalem langsung) untuk mendengar cerita di balik setiap dinding, berfoto di kolam air biru Taman Sari, dan jika beruntung, menyaksikan latihan tari Jawa di bangsal keraton pada pagi hari.
Kenakan pakaian sopan (kain panjang untuk perempuan) karena ini adalah area keraton yang disakralkan.
3. Candi Prambanan
Begitu mata Anda menangkap puncak Candi Siwa setinggi 47 meter yang menjulang di antara awan, napas Anda akan tertahan sejenak. Candi Prambanan bukan sekadar tumpukan batu, ia adalah mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9 yang diakui UNESCO.
Dinding-dindingnya dipahat dengan relief Cerita Ramayana yang sangat detail, jika Anda teliti, Anda bisa membaca kisah Rama dan Shinta dari satu sisi candi ke sisi lainnya.
Saat matahari mulai terbenam, warna emas menyapu kompleks candi, menciptakan siluet yang dramatis.
Tapi keajaiban sebenarnya terjadi setelah gelap: pertunjukan Sendratari Ramayana dengan latar candi yang disinari lampu. Ratusan penari, iringan gamelan, dan cerita epik yang hidup, pengalaman yang membuat bulu kuduk merinding.
Pertunjukan Sendratari hanya digelar pada malam tertentu (biasanya Selasa, Kamis, Sabtu). Cek jadwal jauh-jauh hari sebelum berkunjung.
4. HeHa Sky View and HeHa Ocean View
Jogja kini punya dua ikon wisata modern yang langsung viral di media sosial. Yang pertama, HeHa Sky View di perbukitan Patuk. Dari sini, Anda bisa melihat hamparan kota Jogja dari ketinggian, di malam hari, lampu-lampu kota berkelap-kelip bak lautan permata.
Baca Juga: Peringati HJB ke 544, Budayawan Bogor Gelar Babakti Tugu Kujang
Yang kedua, HeHa Ocean View di pesisir selatan Gunungkidul. Berdiri di tebing karang yang menjorok ke Samudra Hindia, Anda bisa menyaksikan ombak besar yang memecah di bawah kaki sambil berfoto di jembatan kaca atau ayunan balon udara.
Keduanya menawarkan spot foto yang sangat instagramable, live music di sore hari, dan restoran dengan pemandangan terbuka. Aktivitas terbaiknya, datang ke Sky View saat maghrib untuk melihat peralihan warna langit, atau ke Ocean View saat pagi hari untuk udara laut yang masih segar.
5. Pantai Parangtritis dan Gumuk Pasir Parangkusumo
Pantai Parangtritis bukan sekadar pantai. Ia adalah bagian dari mitologi selatan yang melegenda, tempat pertemuan antara daratan dan samudra yang disakralkan.
Ombaknya besar, pasirnya hitam keperakan, dan garis pantainya sangat luas hingga mata memandang. Tapi kejutan sebenarnya ada di sisi timur, Gumuk Pasir Parangkusumo, sebuah bukit pasir alami yang terbentuk dari hembusan angin laut.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Dalam Sepekan di Awal Juni 2026, Anjlok Rp61 Ribu per Gram
Pemandangannya seperti gurun pasir di tengah lautan. Di sini Anda bisa mencoba sandboarding, papan selancar khusus untuk meluncur di atas pasir.
Disini pengunjung bisa naik bendi (kereta kuda) yang akan membawa Anda menyusuri bibir pantai, bermain layang-layang raksasa karena angin disini sangat kencang, atau sekadar duduk di warung sambil minum kelapa muda dan mendengar debur ombak.
6. Wisata Lereng Gunung Merapi (Kaliurang dan Lava Tour)
Udara dingin menusuk tulang, aroma pinus menyegarkan, dan di kejauhan, Gunung Merapi mengeluarkan kepulan asap tipis. Itulah Kaliurang, kawasan peristirahatan favorit warga Jogja sejak zaman kolonial.
Tapi yang benar-benar membuat adrenalin memuncak adalah Merapi Lava Tour. Anda akan naik Jeep terbuka 4x4 yang sudah dimodifikasi, lalu diajak menyusuri neraka, melewati bebatuan besar, sungai kering, dan lahan yang luluh lantak akibat letusan dahsyat 2010.
Anda akan diajak ke Bungker Kaliadem, sebuah bunker yang hampir terkubur seluruhnya oleh awan panas, dan ke Museum Sisa Hartaku, tempat di mana peralatan rumah tangga yang meleleh akibat panasnya lava dipajang sebagai pengingat akan keganasan alam. Aktivitas ini tidak hanya seru, tetapi juga sangat edukatif tentang kebencanaan.***
Editor : Rani Puspitasari Sinaga