RADAR BOGOR - Warga Bogor, akhir-akhir ini destinasi wisata di sekitar kita terasa semakin padat juga semakin bising. Antrean panjang, suara klakson menjadi pemandangan yang terlalu akrab.
Karena itu, tidak ada salahnya untuk melirik ke timur. Lereng Gunung Ciremai, terdapat beberapa destinasi ekowisata yang layak menjadi pilihan. Di sini, alam bukan sekadar latar foto, melainkan guru yang mengajarkan konservasi secara nyata.
Berikut lima destinasi ekowisata terbaik yang menggabungkan petualangan, edukasi, dan keberlanjutan lingkungan, dilansir dari Google maps.
Baca Juga: Kecelakaan di Tol Cipularang, Bus MGI Tabrak Median Jalan
1. Kebun Raya Kuningan
Jangan bayangkan Kebun Raya Kuningan seperti kebun raya biasa yang rapi dan tertata. Tempat ini istimewa karena berdiri di atas area bekas tambang galian C yang direklamasi menjadi pusat konservasi tumbuhan seluas ratusan hektar.
Hasilnya? Pemandangan surreal, bongkahan batu vulkanik raksasa berserakan alami di antara ribuan spesies tanaman langka dan endemik, dengan latar belakang puncak Gunung Ciremai yang gagah.
Aktivitas di sini sangat ramah lingkungan, Anda bisa belajar botani sambil trekking di Taman Kuning, mengamati burung liar (bird watching), atau sekadar duduk di Rock Garden.
2. Desa Wisata Cisantana dan Palutungan
Jika Anda rindu suasana Puncak di era 1990-an yang masih asri dan tidak macet, Cisantana adalah jawabannya.
Terletak di ketinggian 1.100–1.200 mdpl, desa wisata ini menggabungkan trekking hutan lindung TNGC dengan kehidupan agraris masyarakat lokal.
Aktivitas unggulannya adalah menjelajahi jalur setapak di antara hutan pinus yang kerap diselimuti kabut tebal, berkemah secara ramah lingkungan (eco-camping), serta belajar memerah susu sapi segar langsung dari peternakan warga.
Udara disini sangat bersih hingga Anda bisa menghirup aroma pinus dan tanah basah setiap saat. Cocok banget untuk Anda yang butuh forest bathing ala Jepang tanpa harus terbang jauh.
Siapkan pakaian hangat tebal karena suhu bisa turun hingga 15 derajat Celcius, terutama saat malam hari. Tapi tenang, kehangatan teh jahe buatan warga siap menemani Anda setelah lelah trekking.
3. Desa Wisata Bantaragung, Majalengka
Wisata terasering sebenarnya banyak. Tapi Bantaragung berbeda. Desa ini dinobatkan sebagai salah satu desa wisata terbaik se-Jawa Barat karena berhasil mempertahankan lanskap agrarisnya tanpa menjual tanahnya ke investor besar.
Di sini, Anda tidak hanya berfoto di pematang sawah. Anda diajak ikut serta menanam atau memanen padi (argowisata), menyusuri jalur trekking di antara terasering hijau yang megah (dikenal dengan nama Ciboer Pass), serta belajar sistem pengelolaan air bersih ala masyarakat adat yang sudah berlangsung turun-temurun.
Baca Juga: Instagram Disdik Jabar Diserbu, Situs SPMB Error saat Pengumuman PCMB 2026
Pemandangannya? Sawah berundak dengan dinding hijau Gunung Ciremai di kejauhan. Sungguh terapi mata yang sempurna setelah sepekan menatap layar komputer.
Disarankan datang saat pagi atau sore hari untuk mendapatkan cahaya terbaik saat berburu foto di tengah pematang sawah.
4. ODTWA Linggarjati
Ini adalah pilihan tepat bagi Anda yang ingin merasakan hutan hujan tropis pegunungan tapi tidak punya cukup waktu untuk ekspedisi panjang.
Linggarjati merupakan salah satu gerbang pendakian tertua Gunung Ciremai yang dikembangkan menjadi kawasan ekowisata hutan kota.
Daya tarik utamanya adalah canopy walk, berjalan santai di bawah rindangnya pepohonan raksasa berusia ratusan tahun.
Suasana disini sangat tenang, hanya terdengar suara ranting patah, kicauan burung liar, dan gemerisik daun.
Jika beruntung, Anda bisa melihat beberapa jenis elang atau primata yang masih dilindungi. Bonusnya, lokasi ini bersebelahan dengan Gedung Perundingan Linggarjati, jadi Anda bisa menggabungkan wisata sejarah sekaligus.
5. Situ Wulukut
Penasaran dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru tapi belum sempat ke Jawa Timur? Situ Wulukut bisa menjadi pengganti sementara yang tidak kalah memukau.
Baca Juga: 1 Tahun Edarkan Tembakau Sintetis, Dua Bandar di Cileungsi Bogor Diciduk Polisi
Danau tersembunyi ini dikelola bersama oleh Perhutani dan masyarakat desa setempat untuk menjaga sumber air bersih.
Untuk mencapainya, Anda harus berjalan kaki menyusuri hutan pinus yang rimbun, pengalaman yang sudah menjadi pemanasan yang menyenangkan.
Sesampainya di tepian, Anda akan disuguhi air danau yang hijau tenang, memantulkan sempurna bayangan pepohonan pinus di sekelilingnya.
Suasananya sangat hening, hanya dipecahkan oleh suara air dan gesekan perahu kayuh tradisional. Disini, tidak ada toko souvenir berisik atau pengeras suara. Hanya Anda, hutan, dan ketenangan.
Baca Juga: Kejutan Baru Bagi KPM, Prediksi Jadwal Penyaluran Bansos Tahap 3 hingga 3 Gelombang Penyaluran PIP
Pastikan Anda datang sebelum pukul 10 pagi jika ingin mendapatkan air danau yang benar-benar tenang tanpa riak angin siang hari.***