RADAR BOGOR – Warga Bogor yang mau liburan, cukup dengan 2,5 jam berkendara ke arah timur menuju kawasan lingkar Gunung Tangkuban Parahu, Anda akan merasakan suhu malam hingga 14°C, bahkan lebih dingin dibandingkan Puncak saat musim kemarau.
Bedanya, di sini Anda bisa camping persis di bibir sungai sebening kaca, atau tidur di tenda kubah mewah sambil memandang langsung hamparan kebun teh.
Camping di kawasan ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Karakteristik hutannya yang didominasi pohon pinus rapat, kabut yang turun hampir setiap pagi, serta pilihan fasilitas dari ala kadarnya hingga penginapan mewah di atas tenda membuat kawasan Tangkuban Parahu menjadi pilihan yang banyak dicari pelancong dari Jakarta, Bekasi, hingga Bogor.
Bagi Anda yang sudah bosan dengan area camping di Puncak yang terasa padat dan kurang terawat, inilah saatnya beranjak ke lereng utara dan selatan Tangkuban Parahu. Simak lima rekomendasi wisata camping ground khusus untuk pembaca di Bogor dan sekitarnya.
1. Terminal Wisata Grafika Cikole
Grafika Cikole adalah salah satu destinasi camping paling ikonik di jalur Lembang. Begitu memasuki kawasan ini, Anda akan disambut barisan pohon pinus raksasa yang berjejer rapi. Area perkemahannya berupa perbukitan rumput hijau yang landai, dikelilingi hutan pinus lebat yang sering diselimuti kabut tebal di pagi hari.
Pilihan akomodasinya sangat variatif. Anda bisa membawa tenda sendiri, menyewa tenda dome konvensional, atau menginap di pondok kayu estetik dengan kasur empuk dan listrik.
Yang membuat Grafika Cikole cocok untuk keluarga Bogor adalah fasilitasnya yang sangat lengkap. Ada kamar mandi umum bersih dengan air hangat, warung makan, area outbound, flying fox, paintball, hingga penangkaran rusa yang bisa diberi makan oleh anak-anak. Di malam hari, Anda bisa menyalakan api unggun, membakar jagung atau sate kelinci, dan menikmati dinginnya udara Lembang yang menusuk namun membahagiakan.
2. Riverside Camping Capolaga
Jika Anda mendambakan suara gemericik air yang mengalir sebagai pengantar tidur, Capolaga adalah jawabannya. Berbeda dengan camping ground lain yang berada di dataran atau lereng, Capolaga menawarkan pengalaman berkemah tepat di bibir Sungai Cimuja, sungai dengan air sebening kristal, dingin menyegarkan, dan berhulu langsung dari mata air hutan lindung Tangkuban Parahu.
Pengelola menyediakan beberapa blok area (Blok A sampai G) yang letaknya hanya beberapa meter dari aliran sungai. Daya tarik utama Capolaga adalah Anda bisa mendirikan tenda sambil memandangi Curug Karembong dan Curug Sawer yang berada dalam satu kawasan.
Di siang hari, cukup berjalan 50 meter dari tenda, Anda sudah bisa melompat ke sungai untuk bermain air, berenang di kolam alami, atau mencoba wahana susur sungai dengan ban karet. Fasilitas di sini sudah cukup memadai, mulai dari penyewaan tenda, matras, kayu bakar, hingga aliran listrik yang ditarik ke dekat tenda. Kamar mandi umum tersedia meskipun sederhana.
3. Astro Highland Glamping
Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi berkemah di alam terbuka namun tidak mau repot mendirikan tenda dan tetap ingin tidur di kasur empuk, Astro Highland adalah pilihan sempurna. Destinasi ini menawarkan glamping (glamorous camping) dengan tenda-tenda kubah modern berukuran besar.
Di dalamnya terdapat kasur ukuran queen, interior kayu premium, pendingin ruangan atau pemanas, kamar mandi dalam dengan air hangat, hingga balkon privat yang menghadap langsung ke hamparan Perkebunan Teh Ciater.
Keunggulan utama Astro Highland adalah lokasinya yang strategis di lereng utara Tangkuban Parahu. Dari balkon tenda, pemandangan hijau kebun teh membentang luas hingga ke kaki gunung. Saat matahari terbit, kabut tipis akan naik dari lembah dan menyelimuti area glamping dengan atmosfer yang sangat romantis.
Selain menginap, Anda juga bisa menikmati restoran dengan menu hangat, berfoto di dek kayu yang viral, atau sekadar duduk di ayunan gantung sambil menyeruput kopi. Cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu atau keluarga yang ingin liburan mewah di alam.
4. Pine Forest Camp Lembang
Pine Forest Camp adalah destinasi camping eksklusif yang berada di dataran tinggi sabuk selatan Tangkuban Parahu, tepatnya di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Berbeda dengan Grafika Cikole yang ramai pengunjung, Pine Forest Camp menawarkan area perkemahan yang lebih privat dan sunyi.
Tempat ini berupa lapangan rumput hijau yang sangat luas dan bersih, dikelilingi hutan pinus privat yang rimbun. Tidak ada warung atau kafe di dalam area sehingga Anda benar-benar bisa menyatu dengan alam.
Yang membuat Pine Forest Camp istimewa adalah pemandangan malamnya. Karena lokasinya yang berbukit dan terbuka ke arah selatan, pada malam yang cerah Anda bisa melihat kerlip lampu kota Bandung dari kejauhan. Suhu di sini terkenal lebih dingin dibandingkan area Cikole bawah, bisa mencapai 12°C–14°C pada puncak musim kemarau.
Aktivitas yang bisa dilakukan antara lain trekking keliling hutan, outbound, api unggun, atau sekadar berbaring di ayunan gantung sambil menikmati dinginnya angin pinus. Tempat ini sangat direkomendasikan untuk acara kantor atau perkemahan kelompok karena areanya yang luas dan privat.
5. Tangkal Pinus Space
Tangkal Pinus adalah camping ground bergaya kekinian yang sedang viral di media sosial. Berlokasi di kawasan Genteng, Cikole, tempat ini menggabungkan tiga hal sekaligus yaitu area berkemah, kafe estetik 24 jam, dan taman satwa dalam satu kawasan.
Anda bisa membawa tenda sendiri atau menyewa paket yang disediakan pengelola. Fasilitasnya sangat ramah digital dengan ketersediaan Wi-Fi cepat dan colokan listrik di berbagai titik pohon.
Keunikan utama Tangkal Pinus adalah kehadiran beberapa ekor alpaka dan kuda poni yang ramah dan dilepas di area rumput sekitar tenda. Bayangkan Anda sedang sarapan di depan tenda, tiba-tiba seekor alpaka putih mendekat dan minta diberi makan wortel. Sensasi ini tidak akan Anda temukan di camping ground mana pun di Jawa Barat.
Selain itu, kafe 24 jam di lokasi menjual kopi hangat, mi instan, hingga jagung bakar, sangat membantu jika kehabisan logistik di tengah malam. Suasana hutan pinusnya rapat dan sering berkabut, menciptakan nuansa dongeng yang magis.***
Editor : Eli Kustiyawati